Persoalan perpajakan, ketidakpastian regulasi, hingga faktor keamanan dan politik menjadi faktor yang nilai responden sebagai penghambat berinvestasi di sektor hulu migas.

Iklim investasi hulu minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia termasuk yang terendah di kawasan Asia Tenggara. Ini terlihat dari hasil survei Policy Perception Index 2016 yang dilakukan Fraser Institute yang menempatkan Indonesia di posisi 79 dari 96 yurisdiksi.  (Baca: Unggulkan Skema Gross Split, Jonan: Riset Woodmac Akan Direvisi)

Berdasarkan survei tersebut Vietnam dan Myanmar dianggap sebagai salah satu negara dengan iklim investasi yang baik. Vietnam berada di posisi 40 besar, sedangkan Myanmar berada lebih dari 10 tingkat di atas Indonesia. Tak hanya kedua negara tersebut, Indonesia bahkan juga tertinggal dari Kamboja. (Baca: Pemprov Maluku Permudah Pembebasan Lahan Kilang Masela)

Aspek penilaian survei Policy Perception Index 2016 meliputi aspek perpajakan, ketidakpastian regulasi lingkungan, hingga stabilitas politik keamanan di suatu negara. Dua tahun terakhir, investasi migas di Indonesia sedang dalam kondisi yang kurang menggairahkan. Ini terbukti dari 28 wilayah kerja (WK) migas yang dilelang, pemerintah hanya berhasil mendapatkan satu pemenang.

Artikel Terkait
"Exxon minta US$ 121 juta di struktur Jambaran Tiung Biru," kata Syamsu.