Wawancara

2019, Internet Cepat di Semua Kabupaten

Terkait perkembangan Palapa Ring, di barat (Indonesia) sudah beroperasi, tengah 77%, sementara timur masuk 46%. Insha Allah akhir tahun ini akan selesai.

Tim Redaksi

Rudiantara
Ilustrator: Betaria Sarulina

Pemerintah sedang gencar membangun jaringan infrastruktur untuk mendukung akses internet yang merata hingga ke pelosok negeri. Melalui program Palapa Ring, kabel serat optik yang terentang dari Sabang hingga Merauke akan menghadirkan akses internet berkecapatan tinggi, tak kalah dengan negara-negara tetangga dan maju lainnya.

“Kemungkinan 2019 akan bisa beroperasi semua sehingga di ibukota kabupaten sudah bisa menikmati internet kecepatan tinggi seperti yang ada di Jakarta,” kata Menteri Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Rudiantara saat wawancara khusus dengan Tim Katadata.co.id di dalam mobil EV Shuttle, Jakarta, 4 Juni lalu.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Selain pengembangan jaringan internet, dalam wawancara selama satu jam di dalam mobil dari kantornya di Gedung Kementerian Kominfo di kawasan Medan Merdeka Barat menuju lokasi rapat berikutnya tersebut, Rudiantara menjelaskan kebijakan pemerintah terkait e-commerce, upaya menangkal hoax dan perlindungan data pengguna internet. Rekaman video lengkap wawancaranya dapat disimak di kanal Multimedia.

Sejauh mana perkembangan proyek Palapa Ring dan apa yang ingin dicapai?

Sebelum bicara target Palapa Ring, perlu dilihat apa yang sebetulnya terjadi di Indonesia dari sisi infrastruktur ICT. Harus diakui bahwa kecepatan internet di ASEAN, Indonesia berada di nomor 4 setelah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Membangun infrastruktur di Indonesia tidak mudah karena kita negara kepulauan. Sementara negara yang saya sebutkan tadi praktis negara daratan, yang menarik fiber optic di daratan relatif lebih mudah dibandingkan menyeberang lautan.

Dari 514 kabupaten di seluruh Indonesia, ada sekitar 58 kabupaten yang baru dan sama sekali tidak ada backbone. Kita ibaratkan jalan tol Jakarta-Bandung, operator harus membangun jalan lagi dari pintu tol Bekasi ke kota Bekasi-nya. Jalan tolnya (fiber optic yang merupakan backbone) itu sendiri yang sebetulnya sangat mahal. Demikian halnya infrastruktur ICT, 58 kabupaten baru itu menghubungkan 34 kabupaten lainnya. Jadi praktis sekitar 92 kabupaten yang tidak memiliki backbone.

Terkait perkembangan Palapa Ring, di barat (Indonesia) sudah beroperasi, tengah 77%, sementara timur masuk 46%. Insha Allah akhir tahun ini akan selesai, jadi kemungkinan 2019 akan bisa beroperasi semua. Setidaknya di ibukota kabupatennya sudah bisa menikmati internet kecepatan tinggi, tidak berbeda dengan yang ada di Jakarta. Beda tipis.

Apakah nantinya kecepatan internet di Indonesia bisa seperti Korea Selatan dan Singapura?

Dilihat dari data, Korea Selatan, HongKong, Singapura praktis menggunakan fix broadband, yakni internet dengan kecepatan tinggi tetapi menggunakan kabel yang memasuki rumah atau ke gedung-gedung. Kalau Indonesia mengikuti cara seperti itu—menarik kabel ke rumah-rumah—ya kapan selesainya?

Indonesia menggunakan mobile broadband, yang masyarakatnya menggunakan ponsel untuk mengakses internet. Hal ini berbeda dengan Singapura dan Korea Selatan, yang mereka di rumah dan di kantor menggunakan fix broadband. Dari sisi kecepatan, (internet di Indonesia) tidak akan bisa sama dengan Korea Selatan (terutama), kecuali beberapa tempat di Jakarta dengan solusi fix broadband.

Untuk mobile broadband dengan ponsel, kecepatan rata-rata di Jabodetabek mencapai 7 MB/s (megabit per detik) dan ini hanya kalah dengan Singapura. Namun saudara kita yang di Timur mengalami permasalahan kecepatan karena hanya bisa menerima 300 KB/s, 1/23 dibandingkan dengan kita yang tinggal di Jakarta.

Apa kendalanya?

Tidak ada backbone dan jaringan yang memadai ke sana. Kalau memakai satelit sangat mahal biayanya, sementara kapasitasnya kecil. Jadi ya lemot.. sudah lemot nanti teman-teman yang di Timur bayar paketnya lebih mahal (dibandingkan) dengan di Jakarta. Kan tidak fair. Jadi kalau nanti Palapa Ring sudah beroperasi, diharapkan ketimpangan harga ini mendekat dan suatu saat akan sama di seluruh Indonesia.

Jadi yang di luar DKI Jakarta dan di luar kota-kota besar bisa menikmati akses internet yang sama cepatnya?

Eventually, kita harus fair. Artinya, masa yang di Jakarta menikmati internet cepat (dengan harga lebih murah) sementara teman-teman yang di Papua, Maluku membayar lebih mahal untuk koneksi internet yang lemot? Ini yang kami coba balanced atau seimbangkan dengan jalan Palapa Ring.

Palapa Ring ini merupakan insentif bagi operator, artinya daripada operator harus membangun dengan ongkos yang mahal tetapi tidak segera membangun, maka akhirnya Palapa Ring inilah yang membangun. Operator akan diberi diskon atau insentif fiskal untuk membangun di daerah tertinggal.

Terkait penerapan roadmap e-commerce, bagaimana perkembangan unicorn di Indonesia?

Unicorn adalah start-up atau perusahaan yang memiliki nilai valuasi minimal US$ 1 miliar. Di Indonesia ada empat, yakni: Go-Jek, Traveloka, Bukalapak dan Tokopedia. Nilai valuasinya sudah lebih besar dari kapitalisasi pasar empat perusahaan seluler: Indosat, XL, Smart, dan Hutchison 3. Bayangkan, dari sisi aplikasi usia unicorns ini kurang dari lima tahun, sementara dari sisi pendirian ada yang sampai delapan tahun. Sedangkan perusahaan seluler yang ada telah berdiri sejak 40 tahun lalu. Jadi boleh dikatakan, sebentar lagi sudah pasti tersusul pada 2019.

Kita memiliki target lima unicorn di tahun 2019. Hanya ada 7 unicorn di ASEAN saat ini, 4 di antaranya ada di Indonesia (yang tadi saya sebutkan), 1 dari Malaysia, 1 dari Singapura dan 1 dari Filipina. Yang dari Singapura dan Malaysia adalah kontributor utama pasar Indonesia, karena mereka memiliki produk dan layanan di Indonesia. Empat unicorn dari Indonesia bukan lagi pemain nasional karena salah satunya telah merintis di regional. Jadi Indonesia bukan lagi pasar digital, tapi sudah menjadi atau menabalkan diri sebagai pemain regional.

Ekspansinya di ASEAN?

Go-Jek telah lama merintis ke Vietnam. Karena seperti Ho Chi Minh, Manila, dan Bangkok memiliki karakteristik seperti Jakarta, macet. Meski ada Tuk-Tuk di Bangkok, konsep ride hailing kota-kota metropolitan itu dibawa oleh Go-Jek.

Apa dukungan pemerintah terhadap perkembangan unicorn?

Dari sisi pemerintah, role atau perannya juga berubah. Pemerintah yang tadinya hanya regulator, kini justru harus mengurangi regulasi. Less regulations is the best regulatory framework. Kami harus shift menjadi fasilitator dan akselerator.

Pertama, soal less regulation-nya. Di Indonesia, Anda tidak memerlukan izin Kominfo apabila ingin membangun start-up, melainkan bisa melakukan registrasi sendiri. Mengapa registrasi? Karena kalau nanti ada insentif kepada start-up, kita tahu siapa dan dimana start up-nya berada. Pemerintah tidak perlu membuat susah anak-anak muda yang ingin berbisnis, jadi cukup registrasi saja.

Kemudian peran pemerintah sebagai fasilitator. Ada banyak sekali start-up yang memerlukan pendanaan, baik dari venture capital dalam maupun luar negeri. Banyak internasional maupun nasional venture capital yang memiliki dana dan ingin masuk, tetapi tidak kenal. Nah akhirnya pemerintah dan juga ekosistem (bersama Nadiem Makarim, William Tanuwijaya, dan banyak lainnya) membuat komite kecil dengan program bernama ‘Next Indonesia Unicorn’ Nexticorn.

Apa peran Nexticorn?

Program ini mempertemukan start-up Indonesia yang sudah dikurasi. Mengapa dikurasi? Di Indonesia banyak anak muda yang mampu menciptakan aplikasi dan mendeklarasikan diri sebagai start-up. Ketika mereka bertemu dengan saya dan memberi kartu nama, mereka menyebut dirinya CEO and Founder. Tidak apa-apa karena itu membuat mereka percaya diri, tapi saya sampaikan ,“Hey you are not start up yet.” Start-up itu harus betul-betul melewati suatu proses akselerasi dan inkubasi . Inilah 1.000 start-up yang ditargetkan pada 2020 itu.

Bagaimana agar 1.000 start-up lolos kurasi Anda dan Komite?

Ada market validation, mereka harus mempunyai financial model atau pun model bisnis. Jika mereka mengatakan proyeksi pasarnya sekian, maka akan divalidasi dan di cek kebenaran serta dasar-dasarnya. Start-up harus melalui proses itu. Ketika kurasi usai, kemudian start-up itu akan dipertemukan dengan venture capital berkelas internasional, seperti Sequoia dari Amerika, beberapa dari Jepang, juga lainnya. Semua kelas dunia.

Yang terakhir diadakan di Bali adalah Summit dari Nexticorn yang pertama. Ada 70 start-up yang dikurasi, dan ada venture capital internasional. Permintaan meets up one-on-one meeting (dari yang ingin berinvestasi ke start-up) ada 2.000 dalam dua hari. Tapi yang terjadi hanya 1.000 karena memang tidak mudah meet up dalam waktu yang pendek. Dalam 2 hari mendapatkan sekian sudah luar biasa.

Berapa besar sektor e-commerce mendorong UKM dan perekonomian nasional?

Sangat besar. Contohnya Go Food yang creating entrepreneur baru. Bagi mereka yang jago masak, tak perlu lagi sewa kios atau tempat karena Go Food yang akan datang untuk menjemput makanan. Contoh lain market place. Saya ambil data dari Bukalapak atau Tokopedia, mungkin kombinasi keduanya sekitar 3 juta binaan setara UKM, disebut pelapak di Bukalapak atau merchant di Tokopedia. Mereka semua diberi NPWP jadi bayar pajak dan yang mengoleksi pajaknya si platform.

Sama halnya Go-Jek dimana ratusan ribu driver-nya memiliki NPWP. Saya salut kepada mereka. Semua driver Go-Jek tidak perlu pusing membayar pajaknya sendiri, semua langsung dipotong dan dibantu oleh perusahaan Go-Jek. Tokopedia juga begitu, dibantu oleh perusahaan. Sistem ini sekaligus memberi edukasi pada masyarakat bahwa pajak adalah suatu kewajiban dalam bisnis. Kemudahan yang lebih penting, tidak njlimet.

Apa yang diharapkan terhadap Jack Ma sebagai penasihat di Indonesia?

Indonesia berkompetisi di tataran internasional untuk menarik investasi dan Jack Ma ini menjadi advisor dari steering committee yang beranggotakan para menteri. Jack Ma tidak mendikte apa yang seharusnya dilakukan Indonesia, hanya memberi saran dan masukan kepada para menteri. Jika ingin berkompetisi di taraf internasional, kita harus menggerakkan ekonomi dan yang paling cepat saat ini adalah investasi dan ekspor. Secara tidak langsung Jack Ma menjadi endorser bagi Indonesia. Dia akan bicara kepada para investor di luar bahwa Indonesia serius dan sedang menyiapkan banyak hal.

Kita bahkan mengirim pejabat pemerintah ke Alibaba campus untuk belajar, apa sih dunia ini? Kita relatif baru dalam hal ini, lalu kalau kita tidak belajar kita akan tahu dari mana? Ini difasilitasi oleh Alibaba campus, oleh Jack ma. Bahkan Jack Ma sendiri mengajar ke pejabat eselon satu pemerintah. Kalau seluruh pejabat pemerintah, mulai dari eselon satu hingga menterinya memahami dan mengerti dinamika ini, maka diharapkan mereka juga bisa bergeser. Tidak hanya menajdi regulator tapi juga fasilitator.

Rata-rata orang Indonesia mengakses internet 8 jam 51 menit. Seberapa efektif ekonomi digital menaikkan perekonomian dalam lima tahun mendatang?

Pengguna internet kita 140 juta di akhir 2017, yang 97-98% dari mereka mengakses melalui ponselnya. Memang masyarakat Indonesia pengguna aktif internet —apakah itu surfing, chatting, atau untuk media sosial dan lain sebagainya. Kalau dilihat dari sisi potensi ekonomi digital, proyeksi kita tahun 2020 adalah US$ 130 miliar, sekitar 11% dari GDP (Gross Domestic Product) kita. Bayangkan, angka itu bahkan lebih besar daripada GDP negara-negara tertentu di ASEAN.

Apa langkah pemerintah dalam menjaga keamanan data para pelaku ekonomi digital Indonesia?

Secara struktural, pemerintah sudah menyiapkan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi. Namun, tahun 2017 lalu kalah prioritas untuk masuk di Prolegnas (Program Legislasi Nasional 2018). Semakin ke sini ternyata Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi ini semakin diperlukan. Kominfo telah berkordinasi dengan Menteri Hukum dan HAM (sebagai perwakilan pemerintah) dan akan membicarakan RUU ini dengan DPR dan Balegnas agar dimasukkan sebagai prioritas.

Tahun ini kita memiliki tambahan lima undang-undang yang dibahas dan disepakati pemerintah dengan DPR. Kalau salah satunya selesai, mudah-mudahan rencana Undangan-Undang Perlindungan Data Pribadi ini bisa masuk. Mengapa ini penting? Karena Eropa tidak mengizinkan negaranya, masyarakatnya atau platformnya untuk transaksi e-commerce dengan negara lain yang tidak memiliki Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi. Jadi ini (UU) memang sesuatu yang mutlak.

Apakah pemerintah akan mendorong percepatan pengesahan UU ini karena besarnya potensi penyalahgunaan data pengguna media sosial seperti pada skandal Cambridge Analytica?

Per 30 April Program Registrasi Sim Card Prabayar ini berakhir, angka finalnya (kartu yang teregistrasi) sebesar 245 juta pelanggan. Telah dilakukan rekonsiliasi antara operator dengan Dukcapil (Kependudukan dan  Pencatatan Sipil), jadi tidak ada lagi angka yang aneh-aneh.

Sementara terkait  Perlindungan Data Pribadi, pemerintah memang sudah harmonisasi dengan DPR untuk segera membicarakannya, namun Kominfo tidak menunggu adanya RUU Pribadi. Saya menandatangani Peraturan Menteri Perlindungan Data Pribadi Tahun 2016, mengacu kepada Undang-Undang ITE. Sanksinya mulai kepada penyelenggara sistem elektronik, bisa platform e-commerce, media sosial, macam-macam.

Kalau kita melakukan penyalahgunaan, sanksi dimulai dari teguran lisan, teguran tertulis sekali—bahkan Facebook sudah dua kali, dan ketiga penutupan operasi sementara yang artinya bisa di-suspend. Tanpa harus menunggu undang-undang sebetulnya sudah ada dan bisa, walaupun sebaiknya memakai undang-undang.

Apakah pemerintah benar-benar akan menutup Facebook atas kebocoran data penggunanya, padahal banyak masyarakat yang memanfaatkannya?

Saya berterima kepada Katadata karena saya anggap ini sebagai bagian dari edukasi kepada masyarakat. Facebook itu tidak hanya dipakai untuk mencari berkah tetapi juga masalah. Nah kalau urusannya masalah apalagi memecah-belah bangsa, tidak ada urusan bagi saya. Saya katakan, “I have no hesistation.”

Berarti akan diblokir?

Kalau sampai memecah, iya. Saya sudah melakukan hal itu untuk yang instant messaging. Telegram saya block. Satu, aturan harus ditegakkan tetapi approach kita juga harus baik. Waktu itu saya mengirim e-mail pribadi ke Founder Telegram Pavel Durov, saya katakan approach saya adalah approach bisnis. Kebetulan saya berasal dari swasta dan korporasi, jadi sudah biasa menegakkan aturan dan mem-block. Saya katakan ke Pavel, Indonesia adalah pasar besar bagi Anda, silakan datang ke Indonesia untuk melihat-lihat pasarnya dan tolong perbaiki.

Soal Cambridge Analytica, memang terjadi penyalahgunaan data terkait user Indonesia. Ada satu juta lebih. Kami sudah sampaikan kepada Facebook tentang apa yang terjadi sampai dengan auditnya. Permasalahannya sekarang menjadi kompleks karena yang mengaudit bukan Facebook sendiri, melainkan otoritas Inggris terhadap perusahaan Cambridge Analytica. Eh, perusahaan Cambridge Analytica-nya failed bankruptcy. Ini menjadi kompleks, tetapi saya bilang ke Facebook bahwa mereka tidak bisa buang badan begitu. Memang kenyataannya begitu, tetapi Anda tetap harus bertanggung jawab.

Bisakah kita mendorong aplikasi nasional?

Memang didorong. Saya bicara kepada teman-teman bahwa saya memakai instant messaging. Semua kan memakai Whatsapp di Indonesia, beberapa teman-teman—terutama jurnalis yang suka bertanya isu—saya beritahu kalau mereka bertanya menggunakan Whatsapp tidak akan saya jawab. Tetapi kalau bertanya memakai produk nasional akan saya jawab. Aplikasi nasional ada Pesan Kita, ada CALLIND, ada BBM. Nah pakailah itu.

Berkaca pada Youtube yang menerapkan sistem sharing revenue kepada penyedia konten, apakah Kominfo akan membuat regulasi agar media sosial seperti Facebook dan Google juga menerapkan sistem yang sama?

Bisa saja kalau kita sampaikan dengan bicara, itu bisa, Tapi kita ini nomor 4 (penguna terbesar Facebook). Apakah nomor 4 cukup besar untuk model bisnisnya Facebok? Lebih penting bagi kita kalau Facebook membayar pajak terlebih dahulu.

Bagaimana dengan pajak?

Di dunia ini tidak lebih dari 10 negara yang sudah bisa dan mampu memajaki platform model begini dan Indonesia salah satunya. Google itu membayar pajak sampai dengan 2015. Kemudian tahun 2016-2017 mereka sedang self assessment. Saya juga bicara kepada Google bahwa mereka harus mengubah model bisnisnya, karena mereka tidak bisnis iklan di Indonesia. Jadi kalau ingin memasang iklan di Facebook, kita membayarnya bukan di Indonesia, kita menggunakan kartu kredit langsung ke Irlandia.

Mereka memang melihat aturan-aturan pajak yang ada di dunia. Nah sekarang kita mau mengubah, tidak bisa begitu, harus ada di Indonesia. Jadi pajaknya harus bayar di Indonesia. Google sudah mau, tapi Facebook belum. Ini masalah waktu saja, kita siapkan nanti waktunya di kuartal ketiga ini keluar.

Bagaimana strategi memberantas maraknya hoax melalui media sosial?

Hoax masuk kategori konten negatif.  Ada dua caranya, pertama di hulu yaitu dengan meningkatkan literasi dan kemampuan masyarakat Indonesia untuk memilah dan memilih (informasi). Soal kemampuan ini kita kalah dengan negara-negara Eropa dan Amerika. Jadi masyarakat Indonesia mudah dipengaruhi oleh hoax. Yang kedua adalah di hilir. Untuk yang di hilir, yakni dengan memberi batasan-batasan: take down, blocking dan lain sebagainya. Ini jangka panjang dan tidak sehat.

Yang sehat untuk jangka panjang adalah meningkatkan literasi. Tetapi untuk jangka pendek tetap harus dilakukan (Batasan-batasan) karena jika tidak dilakukan maka masyarakat akan terpapar. Bahkan saat peristiwa bom dan lain sebagainya, ada 4.000 lebih konten yang sudah diblok. Ada 20.000 lebih akun yang telah disisir dan diverifikasi, walaupun sekarang sudah turun.

Untuk hoax, kami melakukan pendekatan dari sisi legislasi maupun dari sisi regulasinya, yakni diblok. Sekarang kami sedang memikirkan pemberian pinalti. Kalau platform dianggap melakukan pembiaran terhadap adanya hoax, diberikan pinalti saja. Di Jerman ada undang-undang khusus untuk hal ini. Di negara tetangga juga ada. Di Indonesia belum ada. Saya katakan ke teman-teman, karena membuat undang-undang akan lama lagi, kita buat aturan di pemerintah saja. Kita turunkan dari undang-undang yang ada, UU ITE. Sekarang sedang disiapkan dan Insha Allah tahun ini akan keluar aturannya.

Bagaimana menyikapi konten negatif dan yang terkait terorisme?

Untuk counter terrorism harus banyak promosi, sosialisasi atau apapun tentang radikalisme, terorisme, ekstrimisme di dunia maya. Contoh, ada 4.000 konten. Misalnya saja Al Fatihin adalah konten berseri, ada seri 1,2, dan banyak lagi. Kami turunkan hingga 80 konten atau lebih.

Lalu Majalah Dabiq. Itu juga ada lebih dari 70 konten kami turunkan. Pokoknya kami sikat saja yang ada kaitannya dengan trorisme dan radikalisme. Kami berprinsip tidak boleh terlambat karena ini masalahnya nyawa bagi kita semua. Kalau 1 jam terjadi pembiaran akun, lalu akan berapa banyak orang yang terpapar? Kami sih langsung jebret-jebret saja.

Opini dan Wawancara Terpopuler