Tantangan kemacetan di ibukota Jakarta semakin berat. Sepanjang tahun 2000-2012, jumlah kendaraan naik lima kali lipat. ERP digadang-gadang menjadi salah satu solusi.

Pertumbuhan pesat jumlah kendaraan memicu kemacetan Jakarta makin parah. Bayangkan, jumlah sepeda motor tumbuh 17 persen, mobil tumbuh 8 persen per tahun. Padahal, panjang jalan hanya tumbuh 0,01 persen.

Akibatnya, kemacetan Jakarta makin parah. Pada jam sibuk, kecepatan di jalur Blok M – Kota, kurang dari 10 km/jam. 

Electronic road pricing (ERP) atau jalan berbayar jadi solusi kebijakan Pemprov DKI Jakarta. Di sejumlah negara, ERP terbukti mampu memangkas volume kendaraan. Di Singapura kemacetan bisa turun sampai 44 persen, London (Inggris) turun 12 persen dan Stockholm (Swedia) bisa turun sampai 50 persen.  

Sejumlah teknologi ERP menjadi pilihan. Teknologi gelombang radio (DSRC dan RFID), Kamera (ANPR) dan Satelit (GNSS). 

Namun, teknologi satelit mulai menjadi tren di sejumlah negara. Teknologi satelit (GNSS) sudah diterapkan di 4 negara yaitu Jerman, Hungaria, Slovakia, Belgia. Singapura yang selama ini menggunakan DSRC juga akan beralih ke satelit pada 2018.  Sedangkan sejumlah negara lain akan menyusul memakai satelit. Mereka adalah Polandia, Bulgaria, Spanyol, Hong Kong, Denmark, Swedia, Swiss.

 

 

Tim Riset Katadata membuat tulisan komprehensif mengenai tender jalan berbayar (ERP) di Jakarta dan teknologi yang digunakan di berbagai negara. Selengkapnya bisa dibaca di Link ERP