Keseimbangan Industri dan Lingkungan Menjadi Sorotan WOS 2017

Upaya menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus memastikan kelestarian laut yang menjadi highlight rangkaian diskusi hari pertama World Ocean Summit 2017
Jeany Hartriani
23 Februari 2017, 21:18
Nelayan Tuna
Donang Wahyu|KATADATA
Nelayan mempersiapkan Pakura (perahu kecil) untuk bersiap melaut menagkap ikan tuna di selat Lembeh, Sulawesi Utara.

Upaya menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus memastikan kelestarian laut yang berkelanjutan menjadi fokus pembahasan rangkaian diskusi hari pertama, Kamis (23/2), World Ocean Summit (WOS) 2017, yang digelar di Nusa Dua, Bali. Dalam pidatonya saat membuka acara, Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan upaya tersebut harus ditopang dengan penegakan hukum yang tegas terhadap segala tindakan illegal, unreported, unregulated fishing (IUUF). 

Kalla mengatakan, kelestarian laut sangat penting untuk menjaga produksi tangkapan nelayan. Oleh sebab itu, cara-cara penangkapan ikan ilegal harus diakhiri. Kalla juga mengatakan , pengelolaan laut yang baik meerupakan bagian dari agenda maritim nasional. Apalagi, selama ini, sektor kelautan dan perikanan memberi kontribusi PDB sebesar 20 persen dan menyerap tenaga kerja mencapai 11,38 persen. 

Pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan tentu memerlukan pembiayaan yang tidak kecil. Diskusi soal pembiayaan ini dibahas dalam tema “Kesempatan Besar Ekonomi Kelautan”. Sesi ini menghadirkan, antara lain, Menko Maritim Luhut Pandjaitan, Menteri Lingkungan dan Kehutanan Bangladesh Anwar Hossain Manju, Menteri Kelautan Portugal Ana Paula Vitorino, dan Komisioner bidang Lingkungan, Maritim, dan Perikanan Uni Eropa Karmenu Vella.

 Para pembuat kebijakan itu memaparkan pandangan mengenai kebijakan kelautan, upaya menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan, hingga peran pembiayaan dari sektor publik maupun privat. Kolaborasi antara lembaga pemerintah dan swasta dalam hal pembiayaan juga dianggap penting. Adapun Luhut Padjaitan menyatakan Indonesia secara paralel mendorong perekonomian sekaligus menjaga lingkungan.

Luhut, lebih lanjut, membahas sampah plastik di laut sebagai masalah utama kelautan di Indonesia yang harus segera diatasi. Sedangkan Anwar Hossain Manju menyatakan bahwa masalah laut adalah tantangan bagi semua negara dan kerjasama penting dibentuk. Sementara itu Ana Paula Vitorino menyoroti pentingnya kerjasama lembaga pendidikan dengan industri perikanan untuk mendorong terserapnya tenaga kerja.

Dalam sesi diskusi yang berbeda, tema yang dibahas adalah upaya meningkatkan profit industri kelautan sekaligus mengidentifikasi upaya menjaga kondisi laut. Di sesi ini, pembicara yang hadir adalah para pemimpin industri kelautan global dari Cargill, Royal Caribbean Cruises, dan Covestro. Termasuk di dalamnya Rob Walton, bos lembaga filantropi Walton Family Foundation, yang selama ini berkontribusi terhadap pengelolaan kelautan berkelanjutan.

Adapun isu Perikanan berkelanjutan juga dibahas dari perspektif pembiayaan dalam diskusi yang mengadirkan para pemimpin lembaga keuangan seperti Credit Suisse, Citigrup, Global Environment Facility, dan European Investment Bank. Isu ini kemudian ditindaklanjuti dengan merancang skema investasi perikanan berkelanjutan, membahas aturan baru yang membantu investor mengatasi risiko, serta memetakan kondisi perikanan global.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait