Bencana Chernobyl, Salah Satu Kecelakaan Nuklir Terbesar di Dunia

Chernobyl adalah sebuah wilayah di Ukraina yang telah dikuasai Rusia. Di tempat ini pernah terjadi kecelakaan nuklir yang memakan banyak korban. Bagaimana sejarahnya? Simak penjelasan berikut ini.
Image title
8 April 2022, 12:32
Ilustrasi, seorang karyawan berjalan di pusat kendali reaktor keempat yang rusak di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl, Ukraina.
ANTARA FOTO/REUTERS/Gleb Garanich/AWW/sa.
Ilustrasi, seorang karyawan berjalan di pusat kendali reaktor keempat yang rusak di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl, Ukraina.

Berita tentang Chernobyl menjadi perbincangan banyak orang beberapa waktu terakhir. Hal ini berkaitan dengan keberhasilan pasukan rusia merebut pembangkit listrik tenaga nuklir di wilayah tersebut.

Pengambilalihan ini menyebabkan muncul api di pembangkit nuklir tersebut, sebagai akibat dari baku tembak antara pasukan Rusia dengan Ukraina. Walaupun api berhasil dipadamkan dan tidak ada pelepasan bahan radioaktif, namun baku tembak tersebut berisiko memicu ledakan.

Tentu saja ledakan yang terjadi di daerah pembangkit nuklir bisa mengancam keselamatan warga Rusia, Ukraina, dan negara-negara disekitarnya. Pasalnya, sebelumnya sudah pernah terjadi ledakan di wilayah tersebut yang memakan banyak korban jiwa.

Peristiwa ledakan nuklit dikenal dengan nama bencana Chernobyl. Bagaimana kronologi dari bencana Chernobyl? Ini penjelasan lengkapnya.

Advertisement

Mengenal Chernobyl

Chernobyl adalah nama kota yang berada di utara Ukraina dekat dengan Belarusia. Sebagian besar wilayah Chernobyl telah ditinggalkan penduduk setempat akibat bencana di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Chernobyl yang terjadi beberapa tahun lalu.

Ketika bencana tersebut terjadi, Ukraina masih menjadi bagian dari Uni Soviet. Namun, saat ini Chernobyl berada di Zona Pengecualian 30 km yang mengelilingi PLTN.

Perang Ukraina dan Rusia turut mengancam wilayah ini. Pasukan Rusia bahkan dikabarkan berhasil merebut PLTN Chernobyl. Pejabat Ukraina menyebut, perebutan tersebut merupakan ancaman serius bagi Rusia.

Sementara itu, sumber Rusia mengatakan bahwa penguasaan reaktor nuklir Chernobyl atas Rusia memberikan pesan kepada NATO agar tidak campur dalam urusan ini. Seolah mengamini pesan Rusia, Joe Biden (Presiden Amerika Serikat), menyampaikan bahwa NATO dan Amerika tidak akan mengirimkan tentara bantuan ke Ukraina.

Kronologi Peristiwa Bencana Chernobyl

Bencana Chernobyl merupakan peristiwa yang terjadi saat pembangkit listrik tenaga nulir di wilayah tersebut meledak. Mengutip dari tulisan di drive.batan.go.id, disebutkan bahwa pembangunan pembangkit ini sudah dimulai seak akhir 1970-an. Rencananya, PLTN ini akan memiliki empat reaktor nuklir yang masing-masing bisa menghasilkan 1000 megawat.

Pada 1983, empat reaktor tersebut selesai dibuat dan terdapat penambahan dua reaktor lagi di tahun-tahun berikutnya. Beragam metode pengujian dan pengamatan dilakukan pada keempat reaktor tersebut.

Setelah pembangunan selesai, teknisi mulai menguji rekator tersebut. namun, pengujian yang dilakukan tidak sesuai dengan harapan. Kecerobohan teknisi dalam mengecek turbin menyebabkan reaktor tidak stabil.

Hanya dalam hitungan detik saja, reaktor nomor empat mengeluarkan uap panas bersama dengan embusan radiaktif nuklir. Dan dalam hitungan detik, terjadi ledakan yang menyebabkan kebakaran di atas reaktor nomor tiga.

Sistem secara otomatis tidak bekerja maksimal. Petugas kebakaran tiba beberapa menit setelahnya dan mulai mencoba memadamkan api di tempat itu. Dari penjelasan tersebut kita bisa mengetahui bahwa penyebab bencana Chernobyl karena kelalaian manusia dalam hal ini yaitu teknisi.

Ledakan yang terjadi pada saat itu menyebar ke sepanjang perbatasan Ukraina, Rusia, Belarusia, dan negara Eropa Timur lainnya. Berdasarkan keterangan di situs dlhk.jogjaprov.go.id disebutkan bahwa ada sekitar 100 orang meninggal secara langsung akibat ledakan itu.

Sementara itu, PBB dan WHO melaporkan bahwa sekitar 4.000 korban Chernobyl meninggal dunia secara tidak langsung. Mereka umumnya terkena penyakit kanker dan penyakti kronis lainnya akibat paparan radiasi nuklir.

Banyaknya korban yang jatuh akibat peristiwa tersebut menjadikan bencana Chernobyl menjadi kecelakaan nuklir terbesar setelah kecelakaan nuklis di Fukushima, Jepang.

Hal tersebut disampukan oleh Statista, yang menyebutkan setidaknya ada 12 kecelakaan nuklir tersebut di seluruh dunia yang terjadi di periode 1957 – 2011. Di posisi pertama ada ledakan nuklir di Fukushima, Jepang dan yang kedua bencana Chernobyl di Ukraina.

Dampak Chernobyl

United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation (UNSCEAR) memperkirakan terjadi kontaminasi radiaktif akibat bencana Chernobyl yang memicu lebih dari 6000 kasus kanker tiroid pada remaja dan anak-anak di Rusia, Belarusia, dan Ukraina. Selain itu, terjadi pula peningkatan kasus leukimia dan katarak di wilayah tersebut.

Selain memakan banyak korban manusia, peristiwa Chernobyl juga berdampak pada lingkungan sekitar termasuk satwa yang tinggal di wilayah tersebut. Menurut keterangan di dlhk.jogjaprov.go.id, zona larangan yang berjarak 30 kilometer (km) dari pembangkit nuklir tersebut merupakan wilayah yang paling terkontaminasi radioaktif.

Sekitar 400-an hektar hutan pinus musnah seketika. Keanekaragaman hayati dan sumber air di lokasi tersebut juga sangat terkontaminasi zat berbahaya itu. Meski demikian, kini dikabarkan ekosistem di wilayah tersebut mulai pulih.

Hal tersebut bisa dilihat dari meningkatkan jumlah keanekaragaman hayati di wilayah tersebut. Para peneliti bahwa menemukan satwa langka seperti Lynx dan bison Eropa (Wisent) hampir punah di wilayah tersebut.

Salah satu faktor yang mendorong pulihnya populasi satwa liar dengan cepat di zona larangan yaitu tekanan pemburuna liar yang berkurang. Tidak adanya manusia di tempat tersebut membuat tumbuhan dan satwa bisa kembali pulih secara alami dengan cepat.

Meskipun demikian, para ilmuan yang meneliti tanaman pangan, masih menemukan gandum hitam dan haver yang memiliki kandungan isotop radioaktif level tinggi. Maka dari itu, makanan tersebut masih belum bisa dikonsumsi.

Editor: agung
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait