10 Ragam Puisi Bela Negara Karya Penyair Indonesia

Puisi berisi ungkapan perasaan penulisnya. Bela Negara merupakan salah satu tema yang sering digunakan dalam puisi. Berikut contoh puisi bela negara dari berbagai penyair.
Image title
Oleh Tifani
28 November 2022, 13:26
Puisi Bela Negara
Katadata
Ilustrasi, puisi,

Ada beragam cara yang dapat dilakukan untuk membakar semangkat bela negara, salah satunya adalah melalui puisi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik, dan bait.

Keindahan puisi yang ditulis dengan sepenuh hati mampu membuat pembaca larut dalam maknanya. Puisi dengan tema bela negara biasanya mengandung unsur nasionalisme dan cinta tanah air.

Ragam Puisi Bela Negara

Puisi bela negara bertujuan untuk membangkitkan semangat para pembaca agar tetap mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Berikut contoh puisi bela negara, yang dikutp dari buku Antalogi Puisi Kemerdekaan (2021) oleh Komunitas Muda Bersejarah.

1. Bela Negara

Oleh Dilla Hardina Agustiani

Kobar semangat terus membara

Menyulut asa tuk bela negara

Berkorban jiwa serta raga

Usir penjajah dari tanah air kita

Ratusan nyawa pahlawan telah melayang

Mereka dengan gagah berani berperang

Menebas ketidakadilan walau penuh rintang

Agar tak ada lagi rakyat yang terkekang

17 Agustus kita telah merdeka

Perjuangan para pahlawan tak sia-sia

Terluka parah bahkan hilang nyawa pun rela

Demi melihat generasinya hidup damai sentosa

 

2. Di Bawah Kibaran Merah Putih Aku Tersimpuh

Oleh M. Taufiq

Di bawah kibaran merah putih

bayangnya berdansa dengan pasir yang kupijak

menekuk, meliuk, menggelora

Aku tersimpuh

di bawah naungan merah putih

yang enggan turun, enggan layu

setelah lama badai menghujamnya

Mencari pijakan, aku harus bangkit

menepis debu yang menggelayutiku

menebalkan lagi tapak kakiku

ini waktuku berdiri!

Tak lagi aku lengah, takkan

ini tanah bukan tanah tanpa darah

ia terhampar bukan tanpa tangis

terserak cecer tiap partikel mesiu di sana

Jika pada patahan waktu yang lalu

aku bersembunyi, berkarung

pada lipatan detik ini, aku bukanlah kemarin

aku adalah detik ini, aku akan menjadi esok

Aku terhuyung

memegang erat tiang merah putih

aku memanjat asa, memupuk tekad

Indonesia, pegang genggam beraniku!

 

3. Apa Kata Bung Hatta

Oleh Hati Nurahayu

Banyak kata untuk negeri

Terjujur dari jiwa yang murni

Indonesia ada selalu di hati

Terucap pesan yang terpatri

Persatuan satu harus miliki

Jangan pudar karena dari para pembenci

Memecah belah negeri

Karena ingin kita dikuliti

Jatuh bangunnya negeri

Ingatlah selalu tertanam di diri

Bersatu padu selalu ada di jiwa kami

Penjajah pemecah belah takut kekuatan ini

 

4. Tanyaku Sederhana

Oleh Muhammad Sifak Almurtadho

Aku adalah seribu tahun lalu

Mencoba melawan semua kalah dan luka untuk kubawa pergi

Merenggut semua kalimat asa untuk merdeka

Angkasa surya menopang semua deru ombak derita

Ringkus habis semuanya!

Tanpa ada orang yang tersisa

Semua tulisan-tulisan dari penyair terkenal ini

Adalah bukti nyata

Kalau dulu negara ini menelan jutaan jiwa

Sampai merdeka!

Saat ini, negara ini dijajah mati oleh pribumi sendiri

Bukannya benar pertanyaanku?

Sudahi semua pertikaian ini, atau merdeka dua kali?

Ringkus peristiwa!

Kita merdeka karena kita berbeda!

 

5. Terbanglah Indonesia

Oleh Rayhandi

Terbanglah Indonesia

Terbang ke langit bebas

Gapai bintang hingga jauh melambung

Tunjukkan pada dunia merah putihmu

Terbanglah Indonesia

Takkan ada yang bisa mengikatmu

Juga mengurungmu

Kita bukan jangkrik di dalam kotak

Kita bebas merdeka

Terbanglah indonesia

Terbanglah kemana kau ingin terbang

Lihatlah kemana kau ingin lihat

Cintailah apa yang kau ingini

Kebebasan bersandar di raga kita

Karena kita merdeka

Terbanglah Indonesia

Dunia harus tahu Indonesia bangsa yang hebat

Bangsa yang menghargai perdamaian

Tapi bukan berarti bisa diam jika kebebasan kita di renggut

Takkan kita biarkan hak kita di injak-injak

Terbanglah Indonesia

Di ujung samudera kedamaian kita memuncak

Berdiri di atas gunung

Kita jaga laut kita-kita jaga bumi kita

Takkan kita biarkan Indonesia hancur kembali

Karena Indonesia sudah merdeka di tahun empat lima

 

6. Prajurit Jaga Malam

Oleh Chairil Anwar.

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?

Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras, bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian

ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang berani hidup

Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu…

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!

 

7. Zamrud Khatulistiwa

Oleh Nurul Lathifah.

Dimulai dengan langkah satu pasti

Terucap sejuta ikrar dan janji

Dari kami putera puteri bangsa

Bersatu lebur dalam Bhineka Tunggal Ika

Menjunjung tinggi moral, undang-undang, dan Pancasila

Zamrud Khatulistiwa, itulah namamu

Kau ciptakan satu tumpuan jejak para pahlawan

Kau agunkan satu kemerdekaan dan perdamaian

Di bawah naungan sang merah putih

Kibarkan kearifanmu wahai zamrud khatulistiwa

Menyongsong masa depan dengan warna merahmu

Tentramkan naluri dunia dengan warna putihmu

Dalam singgasana langit

Dan perdamaian bumi pertiwi

Terpangku sejuta napas terakhir

Sebagai pesan para pahlawan

"Tetaplah setia kepada Indonesia"

Abadikan cintanya dalam ruang gelap gulita

Demi misi satu Indonesia merdeka

Tercipta dalam lingkup realita

Bahwa sang merah putih, telah kembali bangkit

bahwa sang zamrud khatulistiwa

Masih menjadi paru-paru dunia

Rekam senyum anak Indonesia

harumkan nama bangsa di mata dunia

Tunjukkan kepada dunia

Bahwa zamrud khatulistiwa, bukan sekadar nama!

 

8. Pemuda Pahlawan

Oleh Riky Fernandes.

Gelagat keharuan tercium bagai bangkai kecoa yang mulai hancur.

Waktumu tidak banyak di atas fana.

Rapatkan jari-jemarimu agar sampai menuju menara

Bulatkan tekadmu untuk melawan arus kebencian setiap manusia-manusia itu.

Kukuhkan dua kakimu sampai ke kepala.

Tarik tali pelontar kain merah putihmu.

Usah kau sujud di atas tanah itu.

Tancapkan saja tiang semangatmu setinggi mungkin.

Senyummu kian memanis dengan topi jerami berwarna gelap.

Dan saat itulah kau akan tahu betapa sulitnya hidup.

Dengan hias keringat tanpa peduli hari telah mencapai senja.

 

9. Harapan Remaja Indonesia

Oleh Mentista Kusumawati.

Tiga setengah abad kita dijajah

Dirundung kegelisahan dan ketakutan

Saat itu jangankan untuk sekolah

Bergerak pun kita tak mampu

Kini saatnya… bangkit

Tuk melanjutkan segala kemerdekaan

yang pernah terukir dulu

Dengan menggali potensi dan budaya

Di dalam negeri ini yang masih terpendam

Demi tanah air kami

Demi Indonesia kami

Mestinya mata kami semakin lelah

Usia kami habis dimakan waktu

Demi negeri kami

Kami rela mati untuknya

Demi bunda tercinta

Kan kami junjung nama harum

Di mana pun kami menginjakkan

Kaki di muka bumi ini

Dan selama itu jantung kami

Putra, Putri bangsa masih berdetak

Darah dalam diri kami masih mengalir

Kami kan tetap sekuat tenaga

Hingga tetes darah penghabisan

 

10. Kembalikan Indonesia

Oleh Ghita Novita Sari.

Detik ini

Tak pernah melepaskan syair-syair Indonesia

Dari para sang pemuja

Konon, kala Indonesia memancarkan eksotisme

Sudah tak asing keramahan dan kesantunan

tapi tengoklah saat ini

emosi sangat cepat mengebom

Hei… jemari mereka mengusir

paru-paru kami habis membotak

Maafkan kami alam…

Kau selalu tersakiti

Burung-burung menawan, terjamah pelor dari bedilnya

Ikan-ikan mempesona, tergenangi air racun jingga

Pohon-pohon ramah, merata ke bumi.

Kami anak cucu Indonesia

Akan membangun raksasa yang terlelap

Menjaga kesatuan sanak-sanak kami

Menjamin para koruptor membangkai di rumahnya

Menjulangkan pepohonan kembali

Kelak….

Bapak…

Tuntun kami ke ujung tiang tertinggi

Bersama…

Pulangkan Indonesia yang lalu

Sejajarkan Indonesia seperti mereka

Apakah milikku?

Yang tergenggam hanya petuah kecil

Indonesia para penyair

Dan setumpuk rahmat sang pelukis Indonesiaku.

 

Editor: agung
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait