Profil Jeff Bezos, dari Masa Kecil hingga Kiprahnya di E-Commerce

Profil Jeff Bezos, sang miliuner, berangkat dari seorang anak yang gemar mengutak-atik berbagai barang. Sebelum mendirikan Amazon, pria 58 tahun ini pernah bekerja di restoran cepat saji.
Image title
12 Mei 2022, 15:24
profil Jeff Bezos.
Instagram/@jeffbezos
Ilustrasi, pendiri Amazon Jeff Bezos.

Akhir-akhir ini, nama Jeff Bezos cukup sering muncul dalam sejumlah pemberitaan, di antaranya soal tuntutan sebesar Rp 23,9 miliar kepada adik pacarnya dalam kasus pencemaran nama baik sampai perihal penurunan kekayaannya karena imbas memburuknya sektor teknologi dalam beberapa hari terakhir.

Mengutip Fox Business, tiga individu terkaya di dunia telah dirugikan oleh perkembangan pasar baru-baru ini, salah satunya Jeff Bezos. Kekayaan bersih Bezos dikabarkan turun US$ 5,97 miliar.

Kendati demikian, dalam daftar Forbes, pria berkepala plontos ini tetap duduk tenang dalam daftar tiga orang terkaya di dunia, bersama Elon Musk dan Bernard Arnault.

Lalu, bagaiman sepak terjang bos e-commerce ini hingga akhirnya mencatatkan namanya dalam daftar orang terkaya di dunia? Berikut profil Jeff Bezos.

Advertisement

Siapa Jeff Bezos?

Jeff Bezos lahir dengan nama Jeffrey Preston Bezos pada 12 Januari 1964 di Albuquerque, New Mexico. Bezos lahir dari ibu bernama Jacklyn Gise Jorgensen dan ayah bernama Ted Jorgensen. Pernikahan kedua orang tuanya berlangsung singkat.

Setelah perceraiannya, Jacklyn yang kala itu masih berusia belasan tahun, menikah lagi dengan Mike Bezos, seorang imigran asal Kuba. Jacklyn pun mengganti nama keluarganya dan anaknya yang saat itu masih berusia lima tahun, mengikuti suaminya, menjadi Bezos.  Keluarga baru tersebut pindah ke Houston, Texas, di mana ayah tiri Jeff Bezos bekerja sebagai insinyur di Exxon.

Bezos tumbuh di keluarga yang cukup berada. Nenek moyangnya punya peternakan seluas 101 Km2. Sedangkan kakeknya seorang direktur Komisi Energi Atom Amerika Serikat di Albuquerque yang memutuskan pensiun lebih awal untuk mengurus peternakan. Bezos kerap menghabiskan musim panas bersama kakeknya.

Sejak kecil, Bezos sudah mulai aktif dalam dunia mekanik dan elektronik. Ia pernah mengutak-atik alarm listrik, untuk mencegah sang adik memasuki kamarnya. Ia juga menyulap garasi orang tuanya menjadi laboratorium eksperimen.

Minatnya di dunia mekanik semakin berkembang, seiring kebiasannya menghabiskan liburan di peternakan kakeknya. Di sana, ia sering memperbaiki berbagai kerusakan pada kincir angin dan traktor untuk berternak.

Masa Muda Jeff Bezos

Setelah orangtuanya pindah ke Miami, Florida, Bezos melanjutkan sekolah ke SMA Miami Palmetto. Pada masa SMA ini, ia berkesempatan mengikuti Program Pelatihan Sains Tingkat Mahasiswa di University of Florida, AS.

Saat menempuh pendidikan menengah ini, Bezos meraih penghargaan Silver Knight Award pada 1982, yaitu penghargaan bagi siswa dengan nilai baik dan berkontribusi kepada sekolah dan masyarakat.

Untuk menambah penghasilan, Bezos remaja pernah bekerja sebagai juru masak di restoran cepat saji, McDonald's. Saat itu, usianya baru 16 tahun dan hanya digaji sebesar US$ 2,69 per jam.

Walau demikian, bekerja di McDonald's meninggalkan kesan yang cukup mendalam. Sebab, ia mampu belajar banyak hal, seperti cara melayani pelanggan dan bagaimana agar tetap termotivasi untuk bekerja di bawah tekanan.

Masa Kuliah dan Bekerja Jeff Bezos

Meski sempat menimbang untuk memilih jurusan fisika, Bezos akhirnya memutuskan mengambil bidang ilmu komputer dan teknik listrik di Universitas Princeton.

Setelah lulus, anggota Phi Beta Kappa ini bekerja di Wall Street dan bertanggung jawab untuk tugas-tugas yang berhubungan dengan komputer. Jaringan komputer dibangunnya di sebuah gedung yang dijadikan pusat perdagangan internasional oleh perusahaan bernama Fitel.

Setelah itu, Bezos memutuskan bekerja untuk Bankers Trust dan D.E. Shaw & Co pada 1990. Di perusahaan ini, Bezos sempat menjabat sebagai Vice President termuda saat itu.

Rumah Tangga Jeff Bezos

D.E. Shaw menjadi awal pertemuan Bezos dengan Mackenzie Tuttle, yang kemudian dinikahinya pada 1993. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikarunia empat orang anak. Namun, pada 2019, Bezos dan Mackenzie memutuskan bercerai dan memilih jalan hidup masing-masing. Sebelum bercerai, pasutri ini sepakat membentuk organisasi bernama Bezos Day One Fund pada 2018.

Organisasi tersebut bertujuan membantu keluarga para penyandang tunawisma serta mendukung fasilitas pendirikan masyarakat berpenghasilan rendah. Dari total kekayaannya, Bezos menyumbang sekitar 2 miliar dollar AS untuk mendanai organisasi tersebut. Disamping itu, Bezos berinvestasi di sektor layanan kesehatan, seperti Unity Biotechnology, Grail, Juni Therapeutics, dan ZocDoc.

Berdirinya Amazon

Pada 1993, Bezos mendapat ide untuk  mendirikan Amazon. Saat itu, ia mulai membuka usaha jual beli buku secara online. Setahun kemudian, Bezos meninggalkan pekerjaannya di D.E. Shaw dan pindah ke Bellevue, Washington untuk fokus pada usahanya.

Pada 1994, ia resmi mendirikan Amazon dan berkantor di garasi rumahnya. Seperti namanya, perusahaan yang ia dirikan ini terinspirasi dari sungai Amazon yang terletak di Amerika Selatan.

Modal usahanya sebesar US$ 300.000 yang berasal dari orang tuanya. Hanya dalam waktu singkat, Amazon sudah melayani konsumen di 45 negara, dengan pendapatan mencapai US$ 20.000 setiap minggunya.

Pada 1997, situs Amazon berkembang pesat, dari yang awalnya merupakan toko buku online hingga akhirnya menjual beraneka barang lainnya serta produknya sendiri.

Seolah belum cukup, pada 2000 Bezos mendirikan perusahaan bernama Blue Origin. Melalui perusahaan yang bergerak di bidang dirgantara ini, Bezos berusaha mewujudkan ambisinya mendirikan permukiman di bulan.

Di sisi lain, Amazon pun kian melambung. Bahkan, pada 2020, penggemar film Star Trek ini didaulat sebagai orang terkaya dunia. Forbes mencatat kekayaannya mencapai US$ 188,3 miliar atau setara dengan Rp2,76 triliun.

Setelah sukses membangun usahanya selama sekitar 26 tahun, pada 2021, Bezos resmi mundur dari jabatannya sebagai CEO di Amazon. Posisi tersebut diwariskan kepada Andy Jassy, sementara ia sendiri menduduki jabatan sebagai Ketua Dewan Eksekutif.

Kendati demikian, Bezos mengatakan tetap akan terlibat dalam proyek-proyek Amazon. Ia juga mengaku akan lebih menghabiskan waktu di usaha-usaha lainnya, seperti Bezos Earth Fund, Blue Origin, The Washington Post, dan Amazon Day One Fund.

Buku-buku Favorit Jeff Bezos

Wawasan dan segala tindakannya tak lepas dari pendidikan yang ia terima, salah satunya lewat buku. Bezos adalah seorang penggemar buku. Mengutip idxchannel.com, ada beberapa karya favoritnya, di antaranya:

1. Built to Last

“Built to Last” merupakan buah karya tiga penulis, yaitu Collins, Jerry Porras, dan jim Collins. Buku tersebut ditulis berdasarkan proyek penelitian selama enam tahun di Stanford University Graduate School of Business tentang apa yang membuat beberapa perusahaan menjadi sukses dibanding perusahaan lainnya.

2. Creation: Life and How to Make It

Dalam buku ini, penulisnya, Steve Grand, berusaha memecahkan kode dari kecerdasan buatan (AI) dan kehidupan dalam konteks permainan yang pernah ia buat bernama Creatures pada 1996. Buku ini membawa pengaruh banyak bagi Bezos dalam penciptaan Amazon Web Services yang merupakan layanan penggagas sistem cloud service.

3. The Remains of the Day

Kazuo Ishiguro, selaku penulis, telah memenangkan Nobel Sastra pada 2017 dan menerima penghargaan Man Booker Prize lewat novelnya ini. Buku ini berkisah tentang Stevens, seorang kepala pelayan, saat dia mengingat hidupnya yang telah lalu melalui buku harian. Buku ini berlatar saat masa perang di Inggris.

Editor: agung
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait