Dukung Larangan Mudik, Jasa Marga Siap Jalankan Pembatasan Ruas Tol

Jasa Marga akan berkoordinasi dengan Kemenhub dan Kepolisian untuk pembatasan. Sebagai langkah awal Tol Layang Jakarta-Cikampek akan ditutup Kamis (23/4).
Image title
22 April 2020, 16:11
Ilustrasi, Tol Layang Jakarta-Cikampek. PT Jasa Marga Tbk menyatakan siap mendukung aturan larangan mudik dengan pembatasan arus kendaraan di ruas tol.
ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah
Ilustrasi, Tol Layang Jakarta-Cikampek. PT Jasa Marga Tbk menyatakan siap mendukung aturan larangan mudik dengan pembatasan arus kendaraan di ruas tol.

Merespons kebijakan larangan mudik yang dikeluarkan pemerintah, PT Jasa Marga Tbk menyatakan siap menjalankan pembatasan arus di ruas tol.

Corporate Communication & Community Development Group Head Jasa Marga Dwimawan Heru mengatakan, Jasa Marga bersama pihak Kepolisan siap menerapkan pembatasan arus kendaraan di ruas tol yang dikelola perusahaan, khususnya untuk wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

Perihal teknisnya, Jasa Marga masih akan berkoordinasi dan bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Kepolisian untuk menerapkan skenario pembatasan kendaraan.

"Peran kami adalah membantu penegakan aturan dengan menyiapkan dukungan personil dan sarana perlengkapan lalu lintas dalam rangka pembatasan," kata Heru kepada Katadata.co.id, Rabu (22/4).

Advertisement

Sebagai langkah awal, Jasa Marga akan menutup Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek atau Jakarta-Cikampek Elevated Toll Road, mulai Kamis (23/4) malam. Penutupan dilakukan guna membatasi lajur kendaraan yang masuk atau keluar Jabodetabek.

(Baca: Mudik Dilarang, Kemenhub Bakal Tutup Jalan Arteri Mulai 24 April)

Langkah pembatasan yang dijalankan Jasa Marga ini sesuai dengan instruksi Kemenhub, yang menyatakan tidak akan menutup tol. Sebab, jalan tol masih diperlukan untuk mendukung kelancaran distribusi logistik.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk melarang mudik tahun ini, demi mencegah meluasnya penyebaran virus corona (Covid-19).

Keputusan pelarangan mudik ini diambil dengan mempertimbangkan hasil survei Badan Litbang Perhubungan (Balitbanghub), yang menyebutkan 24% masyarakat menyatakan tetap ingin mudik.

Minat masyarakat untuk mudik ini juga tergambar dalam survei yang dilakukan Katadata Insight Center (KIC). Hasil survei KIC menyebut, 65% responden menyatakan tidak akan mudik, 12% menyatakan keinginannya untuk mudik, 21% belum mengambil keputusan dan 4% sudah terlebih dahulu mudik.

Memang, porsi responden yang menyatakan ingin mudik tergolong kecil, hanya 12%. Namun, jika berkaca pada jumlah pemudik Lebaran 2019 yang mencapai 18,3 juta orang, maka tahun ini jumlah pemudik bisa mencapai 3 juta orang. Jumlah yang terbilang besar, mengingat pandemi Covid-19 belum reda.

(Baca: Survei KIC: Imbauan Pemerintah Tak Surutkan Hasrat Mudik Jutaan Orang)

Reporter: Muchammad Egi Fadliansyah
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait