Okupansi Hotel Akhir Pekan Naik 30% di Masa Transisi PSBB

Meski okupansi meningkat 30% pada akhir pekan saat fase transisi pertama perhimpunan hotel dan restoran belum yakin sektor perhotelan mampu pulih cepat.
Image title
Oleh Tri Kurnia Yunianto
22 Juni 2020, 14:48
Ilustrasi, pekerja membersihan kamar dengan disinfektan. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyebutkan, tingkat okupansi hotel di akhir pekan naik 30% pada fase transisi PSBB.
ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/pras.
Ilustrasi, pekerja membersihan kamar dengan disinfektan. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyebutkan, tingkat okupansi hotel di akhir pekan naik 30% pada fase transisi PSBB.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyebutkan, tingkat okupansi hotel di daerah-daerah penyangga DKI Jakarta meningkat 30% di akhir pekan. Meski demikian, kenaikan ini dinilai belum dapat memperbaiki kinerja sektor perhotelan secara keseluruhan.

Wakil Ketua PHRI Maulana Yusran mengatakan, kenaikan okupansi hotel terjadi seiring dengan diberlakukannya kebijakan masa transisi pertama Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB. Namun, ia masih meragukan sektor perhotelan mampu pulih cepat, sebab okupansi di hari biasa masih rendah.

Ia menambahkan, di hari biasa okupansi hotel menurun drastis karena belum digunakannya ruangan hotel untuk pertemuan-pertemuan bisnis. Padahal, jasa tersebut merupakan kontributor terbesar tingkat okupansi hotel.

"Untuk okupansi pertemuan-pertemuan bisnis saat ini sama sekali tidak bergerak. Kalau mengandalkan orang liburan, saya tidak yakin okupansi akan tinggi, rata-rata ada okupansi 20%-30% ini sudah sangat tinggi saat ini," kata Yusran, kepada Katadata.co.id, Senin (22/6).

Menurut dia, okupansi hotel tertinggi berada di kawasan wisata Puncak Bogor, Jawa Barat. Sebab, warga Jakarta lebih sering menghabiskan waktu akhir pekannya untuk berlibur ke daerah tersebut lantaran aksesnya yang tidak terlalu jauh dan tidak membutuhkan biaya tambahan.

(Baca: Dampak Corona, Kadin Prediksi Bisnis Perhotelan Baru Pulih Pada 2023)

Sedangkan untuk bisnis restoran, saat ini masih belum menunjukkan tren positif meski mal-mal di Jakarta telah kembali membuka operasional. Penyebabnya, masyarakat masih ragu-ragu untuk makan di tempat umum, karena khawatir tertular virus corona atau Covid-19.

"Pembukaan mal tidak langsung serta-merta semua restoran kembali buka, semuanya melakukan secara bertahap. Di sisi lain, semua usaha baik hotel maupun retoran dengan normal baru seperti sekarang semua mulai lagi dari nol," kata dia.

Seperti diketahui, masa transisi pertama di DKI Jakarta dimulai sejak 5 Juni 2020, yang diiringi dengan masa perpanjangan PSBB selama satu bulan ke depan.

Fase transisi Ini dibarengi dengan dibukanya kembali aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat seperti perkantoran, rumah makan, pertokoan, ritel, pergudangan, perindustrian dan olahraga, yang mulai dibuka pada 8 Juni.  

Sedangkan mal dan pertokoan non-pangan akan dibuka pada 15 Juni 2020, diikuti dengan penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat. Kemudian taman rekreasi, baik indoor maupun outdoor baru dibuka pada 20-21 Juni 2020.

(Baca: Okupansi Hotel Anjlok 60% Imbas Pandemi, OYO Ubah Strategi Bisnis)

Reporter: Tri Kurnia Yunianto

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait