LNG Global Kelebihan Pasokan, Proyek Masela Bisa Mundur hingga 2030

Pengamat menilai pasokan gas global yang berlebih atau oversupply berpotensi memundurkan keputusan akhir investasi Blok Masela menjadi 2027.
Image title
24 Juli 2020, 14:23
Ilustrasi, pengeboran minyak lepas pantai. Pengamat sektor hulu migas menilai pengembangan berpotensi mundur hingga 2030 karena kondisi pasar LNG global saat ini sedang oversupply.
Pertamina Hulu Energi
Ilustrasi, pengeboran minyak lepas pantai. Pengamat sektor hulu migas menilai pengembangan berpotensi mundur hingga 2030 karena kondisi pasar LNG global saat ini sedang oversupply.

Target pengembangan proyek Blok Masela berpotensi mundur dari jadwal semula 2026 menjadi 2030. Alasannya, pasokan gas yang berlebih di pasar global berpotensi menunda keputusan investasi.

Praktisi Sektor Hulu Migas Tumbur Parlindungan menilai, pengembangan proyek Blok Masela bakal molor hingga 2030. Sebab, harga gas pipa dan liquefied natural gas (LNG) yang mengacu pada harga minyak terkena dampak rendahnya penyerapan di berbagai dunia akibat pandemi virus corona atau Covid-19.

Rendahnya penyerapan gas ini membuat pasokan LNG di pasar global berlebih atau oversupply. Hal ini, bakal berdampak pada mundurnya keputusan akhir investasi atau final investment decision (FID) Blok Masela menjadi 2027.

"Menurut saya itu paling cepat, karena gas masih oversupply sampai 2026. Jika FID rampung 2027, perkiraan operasinya adalah pada 2030," kata Tumbur dalam forum diskusi virtual, Jumat (24/7).

Padahal, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) menargetkan FID Blok Masela rampung pada 2022.

Tumbur berpendapat, Inpex Corporation selaku operator Blok Masela tidak akan melakukan FID apabila pasar dibanjiri para pemain besar di industri migas, seperti Qatar dan Petronas. Selain itu, kondisi oversupply juga memberi peluang bagi pembeli LNG untuk mendapatkan banyak pilihan harga di pasar.

Sebelumnya, SKK Migas mengatakan tengah mengkaji ulang jadwal penyelesaian proyek Blok Masela. Alasannya, karena harga minyak global masih di kisaran level US$ 40 per barel.

Hal ini mempengaruhi jadwal penyelesaian Blok Masela, karena Inpex menghitung tingkat keekonomian proyek berdasarkan harga minyak US$ 60 per barel.

"Kami bersama Inpex terus review dan evaluasi mengikuti perkembangan terkini," ujar Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratno kepada Katadata.co.id, Jumat (3/7).

Belum lagi, rencana keluarnya Shell dari Blok Masela, dinilai bakal menambah kompleksitas pengembangan blok migas tersebut. Wakil Kepala SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman mengatakan, Shell telah melaporkan rencana melepas hak partisipasi di Blok Masela.

Seluruh prosesnya dilaksanakan secara bisnis bersama Inpex Corporation selaku operator blok tersebut. Meski demikian, Shell dan Inpex saat ini tengah mencari investor baru untuk Blok Masela.

Reporter: Verda Nano Setiawan

Video Pilihan

Artikel Terkait