Harga Minyak Turun, Terpengaruh Rencana OPEC Pacu Produksi

Harga minyak turun karena terpengaruh rencana OPEC+ meningkatkan produksi hingga 1,5 juta barel pada Agustus 2020.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
3 Agustus 2020, 09:18
Ilustrasi, kilang minyak. Harga minyak dunia dibuka turun pada Senin (3/8) seiring kekhawatiran pelaku pasar terhadap rencana OPEC+ meningkatkan produksi.
KATADATA
Ilustrasi, kilang minyak. Harga minyak dunia dibuka turun pada Senin (3/8) seiring kekhawatiran pelaku pasar terhadap rencana OPEC+ meningkatkan produksi.

Harga minyak mentah dunia dibuka melemah, seiring kekhawatiran pelaku pasar terhadap kemungkinan pasokan berlebih karena organisasi negara-negara produsen minyak dan sekutunya atau OPEC+, akan meningkatkan produksinya kembali pada Agustus 2020.

Mengutip Bloomberg, Senin (3/8), pukul 08.00 WIB, harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman Oktober 2020 turun 0,41% menjadi US$ 43,34 per barel. Sementara, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman September 2020 turun 0,60% menjadi US$ 40,03 per barel.

"Investor khawatir terhadap pasokan, karena OPEC+ akan meningkatkan laju produksi, serta pemulihan harga minyak dari rekor terendah diperkirakan akan mendorong produsen di Amerika Serikat (AS) meningkatkan produksi," kata General Manager of Research Nissan Securities Hiroyuki Kikukawa, dilansir dari Reuters.

Produksi minyak dari OPEC tercatat meningkat lebih dari 1 juta barel per hari pada Juli 2020, karena Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya mengakhiri pembatasan produksi yang sebelumnya disepakati lewat OPEC. Produksi rencananya akan didorong hingga mencapai 1,5 juta barel per hari pada Agustus 2020.

Di sisi lain, pelaku pasar juga khawatir peningkatan kasus virus corona atau Covid-19 bakal menurunkan permintaan bahan bakar. Memang, pelonggaran secara bertahap di beberapa negara berpotensi meningkatkan permintaan, namun laju peningkatan tersebut kemungkinan akan lambat.

Sementara, beberapa negara justru memikirkan untuk kembali menerapkan pembatasan karena adanya peningkatan kasus Covid-19. Australia misalnya, menerapkan status bencana untuk negara bagian Victoria. Kemudian, pemerintah Filipina berencana memberlakukan pembatasan aktivitas pekan ini.

Hal ini, membuat pelaku pasar khawatir laju permintaan minyak akan semakin lambat karena gelombang kedua pandemi corona membuat aktivitas ekonomi kembali direm.

Mengutip The Economic Times, Minggu (2/8), Chief Executive Officer (CEO) Oilytics Keshav Lohiya mengatakan, secara global prospek ekonomi telah meredup lagi, dengan meningkatnya kasus Covid-19 mengarah pada risiko terjadinya karantina wilayah dan mengancam rebound harga minyak.

"Marjin penyulingan yang lebih lemah di seluruh dunia, permintaan minyak China yang lebih rendah dan persediaan minyak mentah yang tinggi membuat tekanan lebih lanjut pada harga minyak," kata Lohiya.

Sementara, Head of Oil Market Rystad Energy Bjornar Tonhaugen berpendapat, para pelaku pasar selama sepekan ini akan memantau dengan seksama peningkatan produksi minyak oleh OPEC+.

Reporter: Verda Nano Setiawan

Video Pilihan

Artikel Terkait