Pengerjaan 7 Proyek Pembangkit Listrik 35 Ribu MW Terhambat Pandemi

Pandemi corona membuat pengiriman material dan mobilisasi pekerja untuk proyek pembangkit terhambat.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
3 Agustus 2020, 11:08
Ilustrasi, proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Kementerian ESDM mencatat ada tujuh proyek pembangkit listrik 35.000 MW yang terhambat karena pandemi corona.
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi, proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Kementerian ESDM mencatat ada tujuh proyek pembangkit listrik 35.000 MW yang terhambat karena pandemi corona.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat  pengerjaan tujuh proyek pembangkit listrik 35.000 megawatt (MW) terdampak pandemi virus corona atau Covid-19. Ketujuh proyek dengan kapasitas sebesar 6.510 MW ini, diproyeksi bakal mengalami keterlambatan jadwal operasi.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, ketujuh proyek tersebut terdiri dari lima proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), satu proyek listrik tenaga gas dan uap (PLTGU) dan satu Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Dari lima PLTU, pembangkit pertama yang diidentifikasi terhambat pengerjaannya adalah PLTU Meulaboh 3 dan 4. Pengerjaan pembangkit berkapasitas total 400 MW ini terhambat, tenaga kerja dan pengiriman material terdampak pandemi corona.

Hingga Semeter I 2020 proyek pembangkit listrik ini ini baru mencapai 22% atau tidak menunjukan progress yang signifikan dari akhir Februari 2020.

Kedua, PLTU MT Sumsel-8 dengan kapasitas 1.200 ME yang mengalami hambatan karena keterlambatan pengiriman material. Hingga 30 Juni 2020, pengerjaan pembangkit ini baru mencapai 39,38%.

Ketiga, proyek PLTU Jawa-1 dengan kapasitas 1.000 MW yang terkendala pengiriman material akibat pandemi corona. Sepanjang semester I 2020, progress pengerjaan proyek pembangkit ini baru mencapai 81,15%.

Keempat, PLTU Jawa-4 dengan total kapasitas 2.000 MW diidentfikasi bakal terhambat, karena mengalami keterlambatan pengiriman material dan tidak dapat memobilisasi engineer untuk pengerjaannya.

Kelima, proyek PLTU Kalbar-1 dengan kapasitas 200 MW yang terkendala karena tidak dapat memobilisasi engineer komisioning, dan mengalami keterlambatan pengiriman material. Adapun, per 30 Juni 2020 proyek ini tidak mengalami progress dan tetap di angka 96,69%.

Kemudian, proyek PLTGU Jawa-1 dengan total kapasitas 1.600 MW juga mengalami keterlambatan pengerjaan karena pengiriman material terhambar. Hingga semester I 2020 progress pengerjaannya telah mencapai 82,35%.

Lalu, PLTA Jatigede dengan kapasitas 110 MW juga bakal mengalami keterlambatan karena mobilisasi pekerja terhambat dan terhalangnya proses pengiriman barang. Per 30 Juni 2020, progress pengerjaan proyek ini telah mencapai 81,59%.

Kementerian ESDM menyebutkan, terhambatnya pengerjaan tujuh proyek pembangkit ini bakal berdampak pada kenaikan biaya pokok penyediaan (BPP) listrik dan penurunan keandalan.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana menjelaskan, kebijakan beberapa negara yang menerapkan lockdown turut mempengaruhi capaian realisasi investasi kelistrikan sepanjang semester I 2020. Sebab, beberapa peralatan yang dipesan dari luar negeri tak dapat masuk ke Indonesia.

"Turbin yang diimpor dari luar negeri, ketika pelabuhan di lockdown tidak tercatat di kami. Mudah-mudahan kalau semua lockdown dibuka, ada akselerasi pada Juli-Agustus 2020 sehingga target investasi bisa tercapai," kata Rida.

Reporter: Verda Nano Setiawan

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait