Ledakan Besar di Lebanon, KBRI Sebut Seluruh WNI dalam Kondisi Aman

Ledakan besar di Ibu Kota Lebanon Beirut disebut bersumber dari bahan-bahan kimia berbahaya yang disimpan di gudang pelabuhan Beirut.
Image title
5 Agustus 2020, 08:21
Ilustrasi, ledakan di Lebanon. Pada Selasa (4/8) sebuah ledakan besar dilaporkan terjadi di Beirut, Ibu Kota Lebanon, yang telah menewaskan sedikitnya 70 orang dan melukai lebih dari 4.000 orang lainnya.
ANTARA FOTO/REUTERS/Nikola Solic/File Photo/hp/cf
Ilustrasi, ledakan di Lebanon. Pada Selasa (4/8) sebuah ledakan besar dilaporkan terjadi di Beirut, Ibu Kota Lebanon, yang telah menewaskan sedikitnya 70 orang dan melukai lebih dari 4.000 orang lainnya.

Ledakan besar telah mengguncang Ibu Kota Lebanon Beirut pada Selasa (4/8) pukul 18.02 waktu setempat. Ledakan yang berasal sebuah gudang ini dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 70 orang dan melukai lebih dari 4.000 orang lainnya.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Lebanon Hajriyanto Y. Thohari mengatakan ledakan dari sebuah gudang tersebut berlokasi di pelabuhan yang dekat dengan pusat kota Beirut, sehingga menimbulkan kehancuran dan kerusakan properti dalam radius beberapa kilometer dari pusat ledakan.

"Sejauh ini belum ada keterangan resmi penyebab ledakan di Beirut, tapi sumber awal menyampaikan analisa bahwa ledakan terjadi di salah satu hangar besar yang menyimpan bahan-bahan rentan meledak yang disimpan di pelabuhan," kata Hajriyanto, dalam keterangan tertulis yang diterima Katadata.co.id, Rabu (5/8).

Ia menjelaskan ada informasi bahwa ledakan berasal dari bahan sodium nitrat (NaNO3) dalam volume besar disimpan di pelabuhan. Sodium nitrat merupakan bahan kimia yang digunakan untuk pengawet makanan dan rentan meledak apabila terkena api.

Berdasarkan pengecekan terakhir yang dilakukan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Lebanon, seluruh WNI dalam keadaan aman dan selamat. Dalam catatan KBRI, terdapat 1.447 WNI, 1.234 diantaranya adalah personel militer anggota Kontingen Garuda dan 213 merupakan WNI sipil, termasuk keluarga staf KBRI dan mahasiswa.

Dalam peristiwa ledakan ini Hajriyanto mengatakan ada satu WNI yang sedang menjalani karantina di rumah sakit Rafiq Hariri Beirut yang tidak jauh dari lokasi ledakan. WNI tersebut juga sudah terkonfirmasi aman.

KBRI di Lebanon kemudian menyampaikan imbauan melalui pesan WhatsApp kepada seluruh WNI yang berada di Beirut untuk melaporkan apabila berada dalam situasi tidak aman. Selain itu, pihak kedutaan juga telah melakukan komunikasi dengan pihak kepolisian Lebanon dan meminta laporan apabila ada perkembangan mengenai kondisi WNI.

Mengutip BBC, Presiden Lebanon Michel Aoun dilaporkan murka atas kejadian ini dan segera memerintahkan dilakukan investigasi untuk mengetahui penyebab ledakan. Dewan Pertahanan Lebanon mengatakan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa ini akan dihukum seberat-beratnya.

Michel Aoun kemudian menyatakan bahwa negara dalam kondisi berkabung selama tiga hari dan akan mengeluarkan dana darurat sebesar 100 miliar lira Lebanon atau setara dengan Rp 959,5 miliar (asumsi kurs Rp 9,6 per lira Lebanon).

Beberapa pejabat di pemerintahan Lebanon berspekulasi ledakan tersebut bersumber dari amonium nitrat (NH4NO3) sebanyak 2.750 ton yang disimpan secara tidak aman. Selain itu, terdapat bahan-bahan dengan sensitivitas ledakan tinggi lainnya disimpan tanpa melalui prosedur yang jelas selama enam tahun.

Ledakan ini terjadi pada saat yang sensitif, di mana Lebanon tengah mengalami krisis ekonomi akibat konflik internal. Ketegangan juga dilaporkan tinggi menjelang keputusan terkait pembunuhan mantan Perdana Menteri Rafik Hariri. Persidangan pembacaan putusan rencananya akan digelar pada Jumat 7 Agustus 2020.

Video Pilihan

Artikel Terkait