Peretasan Situs Tempo.co Dianggap Upaya Pembungkaman Media

Saat ini Tempo tengah menyelidiki sumber peretasan dan mengecam jika terbukti hal ini merupakan upaya pembungkaman terhadap kebebasan pers Indonesia.
Image title
21 Agustus 2020, 11:50
Ilustrasi, digital. Tempo menyebut peretasan situs merupakan upaya pembungkaman media.
123rf
Ilustrasi, digital. Tempo menyebut peretasan situs merupakan upaya pembungkaman media.

Serangan terhadap insan pers Indonesia kembali terjadi, kali ini dalam bentuk peretasan situs salah satu media nasional yaitu Tempo.co. Upaya peretasan atau hacking terjadi pada Kamis (20/8) tengah malam dan terjadi sebanyak dua kali.

Pemimpin Redaksi Tempo.co Setri Yasra mengatakan pihaknya saat ini tengah menelusuri sumber peretasan dan masih berdiskusi secara internal apakah akan menempuh upaya hukum apabila diketahui pelakunya. Ia pun mengaku heran terhadap peretasan ini, karena tidak ada hal yang sangat sensitif dalam pemberitaan akhir-akhir ini.

"Kami menduga ini ulah iseng saja, tapi jika peretasan ini dilakukan dengan motif terkait pemberitaan maka ini keterlaluan. Karena jika ada masalah pemberitaan sebenanya kan sudah tersedia jalur yang elegan yaitu lewat Dewan Pers," kata Setri kepada Katadata.co.id, Jumat (21/8).

Ia menjelaskan bahwa industri pers di Indonesia terus belajar dan tidak ada yang sempurna, sehingga dibutuhkan peran publik untuk mengkoreksi lewat mekanisme yang telah ditentukan. Sehingga, upaya peretasan untuk menghalangi atau mengganggu proses kerja jurnalistik ini ia pandang sebagai cara-cara yang tidak bermutu.

Setri pun tidak mau berspekulasi, namun berkaca pada kejadian-kejadian sebelum ini di mana banyak terjadi peretasan, baik akun media sosial ataupun situs media serta persekusi terhadap jurnalis, sedikit banyak menimbulkan anggapan adanya upaya pembungkaman terhadap kebebasan pers Indonesia.

Jika benar upaya peretasan ini merupakan ulah seseorang atau kelompok tertentu dengan motif membungkam, Setri menganggapnya sebagai kabar buruk bagi kebebasan berpendapat dan pers. Ke depan ia pun berharap negara aktif memberi perlindungan kepada industri pers, termasuk dalam hal perlindungan infrastruktur informasi teknologi.

Memang, hal ini sebatas dugaan, namun ia menyebut dugaan pembungkaman mengerucut karena peristiwa yang terjadi sebelum peretasan ini. Misalnya soal doxing jurnalis, kemudian peretasan akun media sosial aktivis yang kritis.

"Jika benar ini upaya pembungkaman, tentu kami mengecam karena koreksi terhadap media bukan seperti ini caranya. Negara pun harus tampil di depan memberi perlindungan kepada kebebasan berpendapat," ujarnya.

Sebagai informasi, pada kamis tengah malam situs Tempo.co diretas sehingga laman utama berubah gelap diiringi lagu Gugur Bunga. Dalam laman utama ada tulisan Stop Hoax, Jangan BOHONGI Rakyat Indonesia, Kembali ke etika jurnalistik yang benar patuhi dewan pers. Jangan berdasarkan ORANG yang BAYAR saja. Deface By @xdigeeembok".

Mengutip Tempo.co, ketika tulisan diklik maka akan diarahkan ke akun twitter @xdigeeembok, yang diketahui bergabung di media sosial tersebut sejak Juli 2009 dan telah mengikuti 465.000 pengikut. Dalam akunnya, @xdigeeembok menuliskan cuitan "Malam Jumat ada yg lembur. Mampus... db bye... bye... bye...".

Pada pukul 01.24 WIB tim Tempo sudah bisa mengambil alih situsnya dan dalam tempo enam menit tampilan situs kembali normal. Meski demikian serangan peretasan tidak berhenti, karena pada pukul 02.26 WIB situs kembali diserang dengan tampilan serupa, namun dalam waktu lima menit kembali dipulihkan.

Video Pilihan

Artikel Terkait