AS Bukukan Penjualan Alutsista Indo-Pasifik Rp 464 T pada Juli

Penjualan alat utama sistem pertahanan (alutsista) ini dimaksudkan untuk memperkuat kemampuan negara-negara mitra di kawasan Indo-Pasifik dalam menghadapi Tiongkok.
Image title
Oleh Agung Jatmiko
21 Agustus 2020, 15:27
Ilustrasi, Presiden AS Donald J. Trump menyaksikan tim aerobatik AU Blue Angels. AS membukukan pesanan penjualan alutsista senilai Rp 464 triliun di wilayah Indo-Pasifik pada Juli 2020.
ANTARA FOTO/REUTERS/Tom Brenner/hp/dj
Ilustrasi, Presiden AS Donald J. Trump menyaksikan tim aerobatik AU Blue Angels. AS membukukan pesanan penjualan alutsista senilai Rp 464 triliun di wilayah Indo-Pasifik pada Juli 2020.

Amerika Serikat (AS) berhasil membukukan kontrak penjualan alat utama sistem pertahanan (alutsista) pada Juli 2020, dengan total nilai US$ 32 miliar atau setara dengan Rp 464 triliun (asumsi kurs Rp 14.500). Penjualan alutsista terutama fokus di wilayah Indo-Pasifik, termasuk Indonesia.

"Bulan lalu kami membukukan pendapatan tertinggi kedua dalam sejarah perdagangan pertahanan kami," kata Asisten Sekretaris Departemen Luar Negeri AS Clarke Cooper, dilansir dari Nikkei Asian Review, Jumat (21/8).

Mayoritas penjualan alutsista tersebut didapat dari kontrak dengan Jepang senilai US$ 23,1 miliar, untuk pembelian 105 unit pesawat F-35 Joint Strike Fighter. Selain itu, penjualan alutsista juga didapat dari kontrak dengan beberapa negara seperti Indonesia, Taiwan, Korea Selatan (Korsel) dan Filipina.

Kepada Taiwan, AS membukukan kontrak penjualan rudal jenis Patriot Advanced Capability-3 atau PAC-3 senilai US$ 620 juta. Kemudian dengan Korsel, AS mencatatkan kontrak dukungan dan peningkatan pesawat pengintai Peace Krypton senilai US$ 250 juta.

Sementara kepada dua negara Asia Tenggara yaitu Indonesia dan Filipina, AS membukukan kontrak penjualan masing-masing senilai US$ 2 miliar. Pesenjataan yang dijual kepada dua negara ini utamanya untuk memperkuat pertahanan dan mendukung operasi di Laut China Selatan.

Kepada Indonesia, AS mendapatkan kontrak pembelian senilai US$ 2 miliar untuk delapan pesawat angkut militer jenis MV-22 Osprey, beserta perlengkapan persenjataannya. Penjualan ini merupakan bagian dari program Foreign Military Sale, untuk memperkuat kemampuan pertahanan negara mitra di kawasan Asia Pasifik.

“Penjualan ini akan mendukung kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS, dengan meningkatkan kemampuan pertahanan negara mitra untuk menjaga stabilitas Asia-Pasifik. Sangat penting bagi AS, untuk membantu Indonesia mengembangkan kemampuan pertahanan yang kuat dan efektif,” tulis Defense Security Cooperation Agency (DSCA) dalam keterangan resmi, Senin (6/7).

Sementara dari Filipina, AS mendapatkan kontrak pembelian helikopter serang AH-64E Apache dan AH1-Z Viper. Kemudian, Filipina juga membeli kapal pengintai, penyerang dan pendukung ringan.

Jika dikalkulasi, penjualan senjata AS untuk wilayah Indo-Pasifik ini mencapai 42,66% dari total target program Foreign Military Sale yang senilai US$ 75 miliar.

Kontrak penjualan alutsista skala besar untuk negara-negara di wilayah Asia Pasifik ini terjadi pada saat AS menolak tegas klaim Tiongkok atas wilayah Laut China Selatan. Washington pun gerah melihat Tiongkok unjuk kekuatan dan mengambil langkah penguatan diplomatik, serta memperkuat pertahanan negara mitra di kawasan tersebut.

"Memperdalam kerja sama keamanan dengan mitra yang berpikiran sama adalah sangat penting. Penjualan senjata seperti ini akan mendukung negara-negara yang berada di kawasan Asia Pasifik untuk meningkatkan kemampuan melawan militer Tiongkok," kata analis pertahanan senior di RAND Corp Derek Grossman.

Selain dengan negara-negara di wilayah Indo-Pasifik, AS dikabarkan tengah mendekati India yang saat ini bersitegang dengan Tiongkok menyusul insiden di perbatasan Himalaya. Dalam insiden tersebut, sebanyak 20 perajurit India dilaporkan tewas saat bentrokan dengan pasukan Tiongkok.

India pun berpotensi menjadi pasar yang menguntungkan, karena lima tahun terakhir menyandang predikat sebagai importir senjata terbesar kedua di dunia. Meski demikian, AS tidak mau gegabah mendekati, karena selama ini India lebih banyak bertransaksi alutsista dengan Rusia.

"Kami sangat menghormati hubungan historis antara New Delhi dengan Moskow dan histori antara keduanya bukan tombol lampu yang bisa dinyalakan atau dimatikan sesuka hati," kata Cooper.

Video Pilihan

Artikel Terkait