SBS Rampungkan Studi Kelayakan Energi Pasang Surut di Larantuka

Studi kelayakan yang dijalankan SBS mengevaluasi data aliran arus pasang surut primer untuk mengevaluasi kapasitas optimal yang dapat dihasilkan dari energi arus pasang surut yang berkelanjutan.
Image title
3 Mei 2022, 09:30
Ilustrasi, arus laut. SBS International Ltd telah menyelesaikan studi kelayakan mengenai pemanfaatan energi arus pasang surut di Selat Larantuka. Hasil studi kelayakan akan menjadi pedoman untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga pasang surut di wilay
ANTARA FOTO/REUTERS/Darrin Zammit Lupi/rwa/sad.
Ilustrasi, arus laut. SBS International Ltd telah menyelesaikan studi kelayakan mengenai pemanfaatan energi arus pasang surut di Selat Larantuka. Hasil studi kelayakan akan menjadi pedoman untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga pasang surut di wilayah tersebut.

Perusahaan yang bergerak di bidang international marine dan subsea engineering, SBS International Ltd, mengumumkan telah menyelesaikan studi kelayakan untuk menentukan kesesuaian sumber energi pasang surut (tidal) di Selat Larantuka, Indonesia.

Mengutip www.renews.biz, studi kelayakan yang dilakukan oleh SBS International bertujuan untuk mendorong pengembangan generator turbin bertenaga arus pasang surut, untuk menyediakan listrik bagi masyarakat Flores Timur dan Adonara.

Hasil studi kelayakan tersebut disajikan dalam laporan setebal 220 halaman, yang mencakup salinan laporan kegiatan survei dan laporan analisis data mentah. Draf laporan tersebut telah diserahkan ke Indonesia Power dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk ditinjau.

Chairman dan Chief Executive Officer (CEO) SBS Group Michael Spencer mengatakan, laporan studi kelayakan yang telah disusun dan diserahkan ke Indonesia Power dan PLN tersebut merupakan laporan kelima SBS International tentang sumber daya energi arus laut Indonesia.

Advertisement

Menurutnya, studi kelayakan yang baru diselesaikan ini merupakan pencapaian laporan feasibility study mengenai energi arus pasang surut yang paling komprehensif hingga saat ini untuk Indonesia.

Michael menjelaskan, tahap selanjutnya adalah membahas draft dokumen Power Purchase Agreement (PPA) yang diterima dari PLN. Setelah itu, meninjau dan menyetujui syarat dan ketentuan dalam PPA. Kemudian, bersama-sama menyampaikan dokumen PPA yang dijalankan sepenuhnya.

"Setelah itu kami berharap untuk mengumumkan final invesment decision (FID) dengan investor Inggris dan Eropa yang tertarik dan memulai pengadaan untuk aktivitas front end engineering design (FEED),” kata Michael, dikutip dari www.renews.biz.

Sebelumnya, paa November 2021 SBS International dan Indonesia Power menandatangani MoU untuk melakukan studi kelayakan Selat Larantuka dan jaringan listrik untuk pulau-pulau di sekitarnya. Sejak penandatanganan MoU, Indonesia Power telah melakukan due diligence terhadap project development plan dan joint venture agreement.

Kedua pihak kemudian sepakat untuk bersama-sama melakukan studi kelayakan, termasuk survei lepas pantai untuk mengevaluasi data aliran arus pasang surut primer untuk mengevaluasi kapasitas optimal yang dapat dihasilkan dari sumber daya arus pasang surut yang berkelanjutan. Ini termasuk energi arus pasang surut yang dapat ditransmisikan ke jaringan listrik PLN yang menggunakan generator turbin pasang surut TRL-9 (TTG).

Jika draft laporan studi kelayakan yang telah diserahkan SBS International disetujui, maka Indonesia Power selanjutnya akan mengajukan kepada induk usahanya, yakni PLN, untuk Application for Assignment. Ini menyetujui Indonesia Power, dalam partisipasi bersama SBS untuk maju ke tahap berikutnya, yaitu membentuk Special Purpose Vehicle (SPV) atas dasar kepemilikan 51-49% untuk Indonesia Power.

SPV tersebut akan menjadi Independent Power Producer (IPP) dan akan melakukan PPA dengan PLN. Pembiayaan pengembangan proyek akan diberikan kepada IPP untuk pengadaan proyek.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait