Pertamina Nilai Mekanisme Tarif Jadi Kunci Implementasi GME

Mekanisme harga dari serapan ethanol dan methanol oleh Pertamina hingga harga GME di konsumen dinilai menjadi penting saat ini.
Andi M. Arief
12 November 2022, 20:48
Pertamina, bioetanol, bahan bakar nabati
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Ilustrasi, Kantor Pusat PT Pertamina.

PT Pertamina menyatakan mekanisme penetapan tarif menjadi kunci dalam implementasi gasoline methanol ethanol atau GME di dalam negeri. Secara sederhana, GME adalah bahan bakar terbarukan yang menggunakan campuran bensin, methanol, dan ethanol.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan implementasi GME akan secara bertahap dengan campuran ethanol dan methanol mulai dari 5%. Namun demikian, mekanisme harga dari serapan ethanol dan methanol oleh Pertamina sampai harga GME di konsumen dinilai menjadi penting saat ini.

"Mekanisme harga ini jadi satu kebijakan pemerintah. Di sisi lain kami ingin meningkatkna kemandirian energi, tapi di sisi lain keterjangkauan juga harus kami jaga," kata Nicke di Bloomberg NEF Summit 2022, Sabtu (12/11).

Nicke mengatakan mekanisme penetapan tarif pada GME dapat mencontoh yang terjadi pada industri biodiesel saat ini. Sebagai informasi, salah satu hasil dari mekanisme dalam tarif biodiesel saat ini adalah terbentuknya Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS.

Advertisement

Salah satu tugas BPDPKS adalah menutup selisih harga antara minyak kelapa sawit dan solar agar harga biodiesel dapat terjangkau di masyarakat. Adapun, dana yang digunakan BPDPKS berasal dari pungutan ekspor kepada perusahaan kelapa sawit.

Nicke mengatakan Pertamina sedang melakukan road test atau pengujian GME di jalan. Pengujian tersebut akan mengetahui kemampuan GME saat ini jika digunakan oleh kendaraan bermotor.

Nicke mengatakan pengujian jalan GME dilakukan lantaran penggunaan GME telah terbukti berhasil di Brasil. Menurutnya, pencampuran ethanol dan methanol dalam GME di Brasil sudah cukup tinggi.

Ia menilai penggunaan GME di dalam negeri perlu pengembangan dari sisi produksi ethanol dan methanol. Oleh karena itu, Nicke berencana untuk menyesuaikan campuran ethanol dan methanol dalam program GME di dalam negeri dengan persediaan ethanol dan methanol di pasar domestik.

"Kalau kami mau menerapkan campuran GME, katakanlah, 15% methanol dan 5% ethanol, kita perlu meningkatkan kapasitas produksi ethanol dan methanol. Oleh karena itu, mungkin penerapan GME perlu bertahap, seperti halnya program B30," kata Nicke.

Seperti diketahui, GME akan digunakan pada kendaraan bermotor yang biasa menggunakan bahan bakar bensin, seperti pertalite maupun pertamax. Sebelumnya, Kementerian Badan Usaha Milik Negara atau BUMN mengatakan, pemerintah akan meluncurkan bahan bakar dengan kandungan ethanol 10% secepatnya pada 2025. Bahan bakar tersebut lebih dikenal dengan Bioetanol 10 atau E10.

Wakil Menteri BUMN I, Pahala Nugraha Mansury, mengatakan pengembangan Bioetanol akan dilakukan secara bertahap. Pengembangan tahap pertama adalah E5, lalu dilanjutkan E10 hingga E20.

"Komersialisasi E10 kami harapkan dalam waktu 3-5 tahun lagi. Memang mungkin harus bertahap, kita mulai dari E5 terlebih dahulu, kemudian menuju E10, dan mungkin bisa mencapai E20 nantinya," kata Pahala di Jakarta, Rabu (21/9).

Pahala mengatakan, kebijakan terkait komersialisasi Bioetanol telah diterbitkan sejak 2015. Namun demikian, minimnya kapasitas produksi ethanol di dalam negeri membuat implementasi Bioetanol tak kunjung diterapkan.

Sebagai informasi, bahan baku pembuatan Ethanol adalah molasses atau tetes tebu yang merupakan produk sampingan dari produksi gula. Saat memproduksi gula, cairan dari tebu akan diekstraksi dan dipanaskan hingga menjadi kristal. Molasses adalah cairan kental berwarna hitam dengan konsistensi seperti sirup yang tertinggal saat kristalisasi cairan tebu selesai.

Reporter: Andi M. Arief
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait