Pada 2025 Mayoritas Nasabah akan Memilih Layanan Perbankan Digital

Kurangnya kecepatan beradaptasi dengan platform digital dinilai akan membuat perbankan konvensional tertinggal dari bank baru yang berbasis digital.
Fahmi Ahmad Burhan
13 Mei 2020, 10:14
Ilustrasi, transaksi bank menggunakan layanan digital. Riset Backbase dan IDC menyatakan, 63% nasabah di Asia Pasifik akan beralih ke platform digital pada 2025.
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/hp.
Ilustrasi, transaksi bank menggunakan layanan digital. Riset Backbase dan IDC menyatakan, 63% nasabah di Asia Pasifik akan beralih ke platform digital pada 2025.

Riset dari platform perbankan digital Backbase dan IDC menyatakan, mayoritas nasabah di wilayah Asia Pasifik akan memilih perbankan digital pada 2025.

Riset bertajuk 'Fintech and Digital Banking 2025' ini mengungkapkan, pada 2025 akan lahir 100 lembaga perbankan baru dengan didukung liberalisasi pasar. Sementara, bank tier 1 dan tier 2 akan beroperasi hingga lima ekosistem gaya hidup di 2025.

"Perbankan akan mulai mengintegrasikan dengan ekosistem gaya hidup," kata Regional Head Backbase untuk ASEAN dan India Riddhi Dutta, dalam siaran pers Selasa (12/5).

Menurut riset tersebut, pada 2025 bank konvensional akan kalah dibanding pendatang baru, yang mengandalkan ekosistem digital. Indikasi ini terlihat dari hasil riset yang menyatakan 63% nasabah di Asia Pasifik akan memilih perbankan digital pada 2025.

Advertisement

Namun, sebelum memasuki periode tersebut, pada 2023, sekitar 40% nasabah perbankan Indonesia sudah mulai mengadopsi ekosistem keuangan digital. Para nasabah ini akan menikmati layanan pendaftaran akun bank, dan verifikasi nasabah secara digital, serta pendaftaran via layanan pihak ketiga.

Kurang cepatnya perbankan untuk beradaptasi menuju digital first menjadi pekerjaan rumah agar bisa bertahan di 2025. Laporan menyebutkan, bank-bank konvensional belum dapat mengambil keuntungan dari mitra ekosistem potensial, karena masih menjalankan pandangan tradisional tentang rantai nilai (supply chain).

Tercatat ada 80% dari 250 bank teratas di Asia Pasifik yang masih memilih untuk memiliki  seluruh rantai nilai perbankan. Sementara, bisnis pihak ketiga mereka hanya berkontribusi 2%.

(Baca: Transaksi Digital BRI Melonjak di Masa Pandemi)

Di sisi lain, lebih dari 35 bank baru atau pemain keuangan digital baru di seluruh Asia Pasifik bergerak dalam praktik yang lebih lincah dan inovatif. Mereka mempunyai sisi fleksibilitas, kemampuan layanan mandiri, mengetahui kebutuhan pelanggan, dan personalisasi.

Sementara, 38% dari pendapatan bank tradisional berisiko turun pada 2025. Kurangnya kecepatan beradaptasi dengan digital dinilai akan membuat bank konvensional tertinggal dari bank baru yang berbasis digital.

"Bank-bank baru tersebut dapat diposisikan dengan baik untuk masa depan," kata Wakil Presiden Associate IDC Financial Insights Asia Pacific Michael Araneta.

Untuk itu, Backbase dan IDC menyarankan agar industri perbankan berinvestasi pada ekosistem digital. Bank di Asia Pasifik diharapkan sudah bisa memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) atau machine learning, untuk keputusan berbasis data.

Di Indonesia, bank-bank diprediksi meningkatkan penggunaan big data, AI maupun machine learning sebanyak tiga kali lipat demi meningkatkan pengalaman konsumen.

Diprediksi juga, bahwa 25% pertumbuhan investasi akan berupa kemampuan real-time, mulai dari pemasaran, pengendalian kecurangan dalam akuntansi, dan pembayaran.

(Baca: Transaksi Fintech Grup Salim Naik 10% selama Pandemi Corona)

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait