BSSN Bantah Adanya Dugaan Pembobolan Data Penanganan Covid-19

Meski menyatakan tidak ada pembobolan data penanganan Covid-19 BSSN akan terus mengambil langkah pengamanan sistem elektronik terkait penanganan Covid-19.
Dimas Jarot Bayu
21 Juni 2020, 12:48
Ilustrasi, data digital. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) membantah adanya upaya pembobolan data terkait penanganan Covid-19.
Olah foto digital dari 123rf
Ilustrasi, data digital. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) membantah adanya upaya pembobolan data terkait penanganan Covid-19.

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) membantah adanya dugaan pembobolan data terkait penanganan virus corona atau Covid-19. Hal itu diketahui setelah BSSN berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

"Tidak ada akses tidak sah yang berakibat kebocoran data pada sistem elektronik, dan aset informasi aktif penanganan pandemi Covid-19," kata juru bicara BSSN Anton Setiyawan dalam keterangan tertulisnya, Minggu (21/6).

Menurut Anton, BSSN telah dan akan terus mengambil langkah-langkah pengamanan sistem elektronik terkait penanganan corona. Selain itu, pihaknya akan meningkatkan kolaborasi aktif dengan semua unsur dari pemerintah pusat, hingga pemerintah daerah dalam pengamanan data tersebut.

BSSN juga mengajak semua unsur yang terlibat dalam penanganan pandemi corona untuk menerapkan standar manajemen pengamanan informasi, serta membangun budaya keamanan siber dalam pengelolaan elektroniknya.

Advertisement

Lebih lanjut, ia mengimbau seluruh pihak untuk berpartisipasi aktif dalam penanganan corona dan meminta tak ada pihak yang memanfaatkan situasi ini demi kepentingan pribadi atau kelompok.

(Baca: Cara dan Trik Hacker Meretas Data selama Pandemi Corona)

Ia lantas menegaskan adanya ancaman pidana atas akses tidak sah terhadap suatu sistem elektronik dalam Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

"Diancam dengan hukuman pidana penjara paling lama tujuh tahun dan/atau denda paling banyak RP 700 juta," kata dia.

Sebelumnya, ada dugaan data penanganan corona di Indonesia telah dibobol oleh peretas. Hal itu lantaran adanya akun di forum dark web RapidForums yang menawarkan penjualan data penanganan corona di Tanah Air.

Akun bernama Database Shopping itu menawarkan sejumlah data pasien corona, mulai dari nama, status kewarganegaraan, tanggal lahir, umur, nomor telepon, alamat rumah, dan Nomor Induk Kependudukan. Selain itu, terdapat data alamat hasil tes corona, gejala, tanggal mulai sakit, dan tanggal pemeriksaan.

Meski baru menawarkan penjualan pada Kamis (18/6), akun Database Shopping mengklaim data penanganan corona yang dimiliknya terhimpun sejak 20 Mei 2020. Akun tersebut, mengaku memiliki 230.000 data warga Indonesia yang menjadi pasien corona.

(Baca: Cara Tokopedia, Lazada, Bhinneka dan Bukalapak Cegah Kebocoran Data)

Reporter: Dimas Jarot Bayu
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait