Menteri Koperasi Minta UMKM Segera Bermigrasi ke Layanan Digital

UMKM yang bermigrasi ke layanan digital lebih mudah mendapatkan akses pembiayaan karena penilaian kelayakan bisa menggunakan data transaksi.
Image title
Oleh Fahmi Ahmad Burhan
29 Juni 2020, 19:29
Ilustrasi, pelaku UMKM sektor kerajinan cendera mata. Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyebut, UMKM harus bermigrasi ke layanan digital agar mudah mendapatkan akses pembiayaan.
ANTARA FOTO/Anis Efizudin/foc.
Ilustrasi, pelaku UMKM sektor kerajinan cendera mata. Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyebut, UMKM harus bermigrasi ke layanan digital agar mudah mendapatkan akses pembiayaan.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM) Teten Masduki menyebut, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) harus segera bermigrasi ke layanan digital. Selain untuk memperluas pasar, digitalisasi akan memudahkan UMKM mendapatkan akses pembiayaan.

Migrasi ke layanan digital ini ia pandang krusial, sebab jika UMKM masih mengandalkan penilaian pembiayaan berdasarkan jaminan fisik, maka UMKM akan kalah bersaing dengan usaha lain yang sudah besar. Sebaliknya, jika sudah menjalankan layanan digital, akses pembiayaan lebih mudah didapat, karena penilaiannya pun secara digital.

"Namun, untuk mendapatkan pembiayaan melalui penilaian digital, UMKM perlu  melayani konsumennya secara online terlebih dahulu. Data-data perkembangan usaha mereka, kemudian akan terekam secara digital," kata Teten dalam konferensi video, Senin (29/6).

Lewat data-data transaksi di marketplace, akan terlihat seberapa sehat bisnis suatu UMKM. Data transaksi tersebut, nantinya akan menjadi fokus penilaian untuk pembiayaan UMKM.

Ia menambahkan, Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) juga ingin agar saluran pendanaan melalui kredit usaha rakyat (KUR) tidak hanya dilayani perbankan. Melainkan juga oleh perusahaan teknologi finansial atau financial technology (fintech). Alasannya, penyaluran KUR lewat perbankan dirasa kurang efektif.

Peniaian ini disampaikan Teten, karena pihaknya melihat banyak UMKM yang tidak memiliki aset, kesulitan mendapatkan pinjaman melalui KUR. Sebagai gambaran, dari alokasi penyaluran KUR tahun ini sebesar Rp 190 triliun, baru Rp 60 triliun yang tersalurkan.

(Baca: Riset CSIS: Mitra Grab Lebih Mudah Dapat Pinjaman)

Penyebabnya, banyak UMKM yang lebih memilih pinjaman dari layanan lain dibanding KUR di perbankan, karena susah untuk mendapatkan akses. Banyak bank juga menerapkan syarat agunan yang susah diikuti UMKM.

Fintech, dinilai bisa menjadi solusi kanal pembiayaan UMKM, namun tanpa adanya data transaksi digital tentu fintech akan kesulitan menilai. Oleh karena itu, Kemenkop UKM mendorong para pelaku UMKM untuk segera bermigrasi ke layanan digital, dengan masuk marketplace.

Teten mengungkapkan, saat ini baru sebagian kecil pelaku UMKM yang benar-benar memanfaatkan kanal digital untuk memasarkan dan menjual produk. Catatannya,  baru 8 juta pelaku UMKM atau 13% dari total UMKM yang sudah bertransformasi digital.

Pendapat Teten ini diperkuat oleh riset Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan Tenggara Strategics. Hasil riset menunjukkan, UMKM yang sudah mendigitalisasi bisnis lebih mudah mendapatkan pinjaman. Riset itu ditujukan pada mitra Grab yang bergerak di layanan GrabBike, GrabCar, dan merchant GrabFood.

"Alasannya, karena para penyedia jasa keuangan lebih memercayai mereka," kata Ekonom Tenggara Strategics Stella Kusumawardhani dalam konferensi video, Kamis (25/6).

(Baca: Survei KIC: Mayoritas UMKM Terpukul Corona, Ada Dua Strategi Bertahan)

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Video Pilihan

Artikel Terkait