Pertamina Akan Lanjutkan Proyek Kilang Cilacap Tanpa Saudi Aramco

Pertamina memutuskan menjalankan proyek Kilang Cilacap secara mandiri karena hingga kini belum ada kejelasan sikap dari Saudi Aramco.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
26 Mei 2020, 13:19
Ilustrasi, Kilang Cilacap. Pertamina memutuskan menjalankan proyek Kilang Cilacap secara mandiri karena hingga kini belum ada kejelasan sikap dari Saudi Aramco.
Katadata
Ilustrasi, Kilang Cilacap. Pertamina memutuskan menjalankan proyek Kilang Cilacap secara mandiri karena hingga kini belum ada kejelasan sikap dari Saudi Aramco.

PT Pertamina memutuskan, melanjutkan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) atau Kilang Cilacap secara mandiri. Keputusan ini diambil karena hingga saat ini belum ada kejelasan dari mitra awalnya, Saudi Aramco.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman mengatakan pihaknya akan tetap berkomitmen untuk melanjutkan pengembangan proyek Kilang Cilacap. Di samping itu proses pencarian mitra baru juga akan dilakukan.

"Pertamina akan melanjutkan RDMP Cilacap secara mandiri, secara paralel akan dilakukan pencarian strategic partner," ujar Fajriyah, kepada Katadata.co.id, Selasa (26/5).

Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan pihaknya masih menanti kesepakatan dengan Aramco hingga akhir April 2020 lalu. Meski begitu, hingga kini Aramco tak juga memberi lampu hijau untuk menamkan investasinya di Kilang Cilacap.

"Kami lihat sampai April 2020. Kalau tidak sampai sepakat, tidak menutup kemungkinan mencari mitra lain," kata Nicke dalam video conference April 2020 lalu.

Lebih lanjut, Nicke menyebut sembari menunggu kesepakatan dengan Aramco pihaknya akan fokus pada proyek kilang yang saat ini sudah berjalan. Beberapa diantaranya yakni seperti proyek kilang Balikpapan, Tuban, kilang Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), dan Balongan.

(Baca: Pertamina Kebut Pembangunan Enam Kilang Demi Setop Impor BBM pada 2026)

Kerjasama Saudi Aramco dengan Pertamina untuk pengembangan Kilang Cilacap sebenarnya sudah disepakati sejak 2016 lalu, dengan membentuk perusahaan patungan. Pertamina pun memegang saham sebesar 55% dan Saudi Aramco sebesar 45%.

Saat itu, Saudi Aramco menyatakan bersedia menanamkan modal hingga mencapai US$ 6 miliar, dengan syarat mendapat insentif dari pemerintah. Beberapa insentif yang diberikan adalah, tax holiday, lahan, dan penyerahan aset ke anak perusahaan nantinya.

Namun, Aramco justru mengucurkan investasi US$ 10 miliar untuk pengembangan kilang di Tiongkok. Perusahaan asal Arab tersebut meneken perjanjian pembentukan joint venture dengan grup konglomerat asal Tiongkok, Norinco, untuk pengembangan proyek kilang di Kota Panjin.

Perjanjian itu diteken pada 22 Februari 2019 lalu, di sela kunjungan Putra Mahkota Saudi Muhammad bin Salman ke Beijing. Aramco dan Norinco, bersama dengan Panjin Sincen, akan membentuk perusahaan baru bernama Huajin Aramco Petrochemical Co.

Pembentukan usaha patungan ini sebagai bagian dari proyek yang akan mencakup kilang 300 ribu barel per hari (bpd) dengan cracker ethylene 1,5 juta metrik ton per tahun (mmtpa).

(Baca: Bulan Ini, Pertamina Ancam Depak Aramco dari Proyek Kilang Cilacap)

Reporter: Verda Nano Setiawan

Video Pilihan

Artikel Terkait