Bagian dari Transformasi Bisnis, Pertamina Maksimalkan Pemanfaatan Gas

PT Pertamina akan memaksimalkan penggunaan gas dalam lini bisnis maupun aset untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
10 Agustus 2020, 22:14
Ilustrasi, Kantor Pusat PT Pertamina. Pertamina berkomitmen memaksimalkan pemanfaatan gas dalam lini bisnis dan aset untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
KATADATA/
Ilustrasi, Kantor Pusat PT Pertamina. Pertamina berkomitmen memaksimalkan pemanfaatan gas dalam lini bisnis dan aset untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

PT Pertamina menyiapkan beberapa strategi transformasi untuk menjawab peningkatan kebutuhan energi yang tidak mungkin terus-menerus mengandalkan bahan bakar fosil. Salah satu upaya transformasi yang dilakukan adalah beralih ke energi baru dan terbarukan (EBT), seperti gas.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan penggunaan fosil bakal mencapai puncaknya pada 2030 dan akan terus berkurang, digantikan oleh EBT. Menyikapi hal ini perseroan menyiapkan strategi masuk ke bisnis energi bersih melalui pembentukan sub-holding yang khusus menangani energi bersih atau renewable energy.

Pembentukan sub-holding tersebut ditujukan supaya Pertamina lebih fokus dalam menggenjot pemanfaatan sumber energi dari sektor EBT melalui sumber energi gas.

"Secara silmutan Pertamina tetap meningkatan kinerja dengan pasokan minyak dan gas, namun kami akan melakukan akselerasi dari perkembangan energi ini," kata Nicke dalam sebuah forum diskusi secara virtual, Senin (10/8).

Salah satu fokus utama Pertamina dalam lini gas adalah terjun dalam bisnis proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG). Selain mendukung program kelistrikan nasional, gencarnya Pertamina di bisnis menyangkut PLTG akan mampu mengakselarasi percepatan lini bisnis gas perseroan.

Adapun, bentuk masuknya perseroan dalam bisnis menyangkut PLTG adalah melakukan gasifikasi 52 pembangkit listrik milik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Upaya gasifikasi untuk 52 pembangkit berdaya total 1,8 Giga Watt (GW) tersebut dijalankan oleh anak usahanya, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN).

Melalui PGN, perseroan berencana membangun tiga hub distribusi gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG). Proyek ini diperkirakan rampung dalam tiga tahun mendatang.

Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Syahrial Mukhtar mengatakan pembangunan infrastruktur LNG terbagi menjadi tiga area yaitu Area Barat, Area Tengah, dan Area Timur. Perseroan akan membangun hub pertama Area Barat akan di Terminal Arun, untuk bisa menyuplai kebutuhan gas di Nias, Krueng, dan sekitarnya.

“Kemudian Area Tengah, kami sudah memiliki FSRU Lampung, dengan sistem breakbulking ke kapal-kapal kecil untuk menyuplai small LNG carrier. Jadi, nanti FSRU Lampung bisa dibawa ke Kalimantan, Bali, NTT, dan NTB,” ujar Syahrial dalam keterangan tertulis, Senin (13/07).

Selain terlibat dalam proyek gasifikasi pembangkit PLN, Pertamina juga telah memulai menggunakan sumber energi bersih untuk aset-aset yang dimilikinya.

Salah satu bentuknya adalah konversi bahan bakar kapal milik perseroan dari diesel menjadi LNG yang dilakukan oleh anak usahanya, PT Pertamina Trans Kontinental. Konversi dilakukan dengan metode bahan bakar ganda atau Diesel Dual Fuel (DDF), dengan mengkombinasikan High Speed Diesel (HSD) dan LNG.

Reporter: Verda Nano Setiawan

Video Pilihan

Artikel Terkait