Akibat PSBB & PHK, Bank Dunia Ramal Ekonomi RI Tidak Tumbuh Tahun Ini

Ekonom Senior Bank Dunia menilai pelaksanaan PSBB selama dua bulan berakibat signifikan pada perlambatan laju konsumsi dan investasi.
Image title
2 Juni 2020, 20:35
Ilustrasi, aktivitas ekonomi terhenti karena PSBB. Ekonom Senior Bank Dunia menilai pelaksanaan PSBB selama dua bulan berakibat signifikan pada perlambatan laju konsumsi dan investasi.
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc.
Ilustrasi, aktivitas ekonomi terhenti karena PSBB. Ekonom Senior Bank Dunia menilai pelaksanaan PSBB selama dua bulan berakibat signifikan pada perlambatan laju konsumsi dan investasi.

Bank Dunia atau World Bank memprediksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sebesar 0%. Perkiraan ini didasarkan atas dampak penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Ekonom Senior Bank Dunia Ralph van Doorn menjelaskan, akibat penerapan PSBB selama dua bulan beberapa komponen pembentuk pertumbuhan ekonomi juga ikut terpengaruh. Konsumsi rumah tangga misalnya, diperkirakan melambat seiring adanya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat aktivitas ekonomi melambat.

Kepercayaan konsumen pun diperkirakan ikut menurun pada tahun ini. Sebagaimana diketahui, konsumsi rumah tangga merupakan motor penggerak ekonomi Indonesia, dengan andil sebesar 56,62% terhadap pertumbuhan ekonmi sepanjang 2019.

"Pertumbuhan ekonomi baru kembali normal pada 2021, sebesar 5,4%. Kemudian, dua tahun berikutnya stabil, yakni 5,5% pada 2022, dan 5,3% pada 2023," kata van Doorn, dalam sebuah webinar, Selasa (2/6).

Advertisement

Selain konsumsi, van Doorn menyorot faktor investasi yang akan makin melambat tahun ini. Hal ini terjadi seiring dengan besarnya ketidakpastian global, penurunan harga komoditas, dan pelemahan aktivitas ekonomi. Tahun lalu, investasi memberikan andil terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 32,33%.

Oleh karena itu, ia menyarankan sejumlah strategi guna menahan dampak pandemi virus corona atau Covid-19 semakin meluas terhadap perekonomian. Pemerintah dinilai perlu merespons krisis kesehatan dengan membatasi mobilitas penduduk, melakukan tes secara masif, dan meningkatkan kapasitas sistem kesehatan.

(Baca: Sri Mulyani Ibaratkan Bayi Kembar Siam Penanganan Kesehatan & Ekonomi)

Untuk memulihkan ekonomi, pihaknya menyarankan pemerintah untuk mencegah erosi pajak hingga memperbaiki perbankan dan korporasi. Kemudian, meningkatkan kemampuan para pekerja dan membantu mempekerjakan masyarakat terdampak covid-19.

"Selain itu, tingkatkan daya tarik investasi melalui reformasi struktural, infrastruktur, dan human capital," ujar dia.

Prediksi Bank Dunia terkait pertumbuhan ekonomi sedikit banyak lebih baik ketimbang proyeksi Institute for Development of Economics and Finance atau Indef. Lembaga penelitian ini meramal ekonomi Indonesia bakal terkontraksi atau minus hingga 2%. Perkiraan Indef ini didasarkan atas indeks keyakinan konsumen April 2020 turun dari 100 menjadi 62.

"Paling ekstrim minus 3%, tapi saya tidak yakin dengan itu mungkin antara minus 1% - 2% di bawah nol dan saya kira itu tidak seburuk krisis ekonomi tahun 1998 yang mencapai minus 13%," kata Sugiyono kepada katadata.co.id, Senin (18/5).

Keadaan bisa semakin buruk karena hingga belum diketahui kapan pandemi corona akan berakhir. Bahkan, masih ada risiko ledakan jumlah pasien positif virus corona jika penanganan pemerintah tak serius.

(Baca: Kadin Prediksi Ekonomi Kuartal II Minus 3%, Pengangguran akan Meledak)

Reporter: Rizky Alika
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait