Jual Saham Secara Terbatas, BSD Bidik Tambahan Modal Rp 1,2 Triliun

Dua pemegang saham utama BSD akan menambah porsi kepemilikan melalui aksi privatete placement untuk memperkuat permodalan perseroan.
Image title
18 Juni 2020, 12:29
Ilustrasi, foto udara proyek pembangunan sebuah komplek perumahan di kawasan BSD City. BSD menggelar penambahan modal melalui skema private placement dengan target dana Rp 1,23 triliun.
ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Ilustrasi, foto udara proyek pembangunan sebuah komplek perumahan di kawasan BSD City. BSD menggelar penambahan modal melalui skema private placement dengan target dana Rp 1,23 triliun.

PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSD) melaksanakan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau privatete placement. Harga pelaksanaan ditetapkan Rp 640 per saham, sehingga total dana yang akan diterima BSD sebesar Rp 1,23 triliun.

Mengutip keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (18/6), Direktur BSD Hermawan Wijaya mengatakan, pemegang saham mayoritas emiten berkode BSDE ini sudah siap untuk mengambil porsi saham-saham dalam aksi privatete placement.

Dua pemegang saham utama, yakni PT Paraga Artamida (PAM) dan PT Ekacentra Usahamaju (ECUM), yang sebelumnya memiliki porsi kepemilikan 26,57% dan 25,01% akan menambah kepemilikannya menjadi 30,52% dan 25,46%.

“Hal ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap rencana kerja dan prospek positif terhadap bisnis BSD di masa mendatang,” kata Hermawan dalam keterbukaan infromasi.

Advertisement

Dalam aksi penambahan modal itu, jumlah saham yang akan dikeluarkan dari portepel adalah sebanyak 1,92 miliar saham atau 10% dari modal disetor. PAM dan ECUM masing-masing akan mengambil 1,35 miliar saham dan 577,4 juta saham.

(Baca: Grup Sinar Mas Berpeluang Jadi Pemilik Baru Bank Construction China)

Dana yang diperoleh melalui aksi privatete placement ini akan digunakan untuk memperkuat struktur modal, pengembangan proyek dan infrastruktur, serta cadangan dana operasional

Sebagai informasi, pada kuartal I 2020 BSD membukukan laba bersih Rp 259,64 miliar, anjlok 58% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada kuartal I 2019 perseroan mampu membukukan laba bersih Rp 618,23 miliar.

Selain disebabkan penurunan pendapatan, anjloknya laba juga disebabkan oleh membengkaknya pos beban. Pada kuartal I 2020, pendapatan perseroan turun 8,22% menjadi Rp 1,49 triliun. Disertai dengan kenaikan beban pokok penjualan sebesar 11,05% menjadi Rp 452,65 miliar.

Sementara, beban usaha BSD sepanjang tiga bulan pertama tahun ini tercatat Rp 536,41 miliar, naik 2,48% dibandingkan kuartal I 2019. Kemudian, beban lain-lain tercatat melonjak 191,3% menjadi Rp 201,86 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, beban lain-lain tercatat hanya sebesar Rp 69,32 miliar.

Performa penjualan yang kurang positif, disertai dengan melonjaknya beban akhirnya mengikis laba bersih perseroan.  Penurunan laba akhirnya membuat laba per saham perseroan menyusut, dari Rp32,56 menjadi Rp13,67.

(Baca: Tambah Modal dan Kurangi Utang, Japfa Bakal Jual Saham Baru 30%)

Reporter: Muchammad Egi Fadliansyah
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait