Bank Syariah Mandiri Nilai Merger Perkuat Perbankan Syariah Indonesia

Bank Syariah Mandiri masih menunggu arahan induk usaha terkait merger bank syariah BUMN sembari fokus menggarap sektor ritel dan perkuat kanal digital.
Image title
Oleh Muchammad Egi Fadliansyah
6 Juli 2020, 14:13
Ilustrasi, karyawan PT Bank Syariah Mandiri memberikan penjelasan kepada nasabah. Bank Syariah Mandiri mendukung rencana merger bank syariah BUMN yang diutarakan Erick Thohir.
ANTARA FOTO/Abriawan Abhe
Ilustrasi, karyawan PT Bank Syariah Mandiri memberikan penjelasan kepada nasabah. Bank Syariah Mandiri mendukung rencana merger bank syariah BUMN yang diutarakan Erick Thohir.

PT Bank Syariah Mandiri menyambut positif wacana merger bank syariah pelat merah yang diutarakan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. Alasannya, penggabungan usaha mampu meningkatkan kapasitas dan kinerja perbankan syariah Indonesia.

Corporate Secretary Bank Syariah Mandiri Ahmad Reza mengatakan, konsolidasi dan penguatan BUMN sebenarnya bukan hal baru. Sebab, hal ini merupakan program utama dari Kementerian BUMN.

"Sebagai anak usaha BUMN, kami percaya pemerintah akan mengambil langkah terbaik untuk memperkuat BUMN demi kemajuan ekonomi syariah Indonesia," Kata Reza, kepada Katadata.co.id, Senin (6/7).

Menurutnya, potensi pasar ekonomi syariah Indonesia tergolong besar, dengan perkiraan mencapai US$ 3 triliun pada 2023. Potensi ini bisa diraih ditopang oleh pesatnya industri halal Indonesia.

Penggabungan bank syariah BUMN akan semakin memperkuat perbankan syariah Indonesia untuk menjangkau sektor riil, dengan prinsip menghindari hal-hal bersifat spekulatif, dan dengan sistem bagi hasil yang adil. Selain itu, penguatan bank syariah juga akan menambah daya tahan, serta resiliensi ekonomi syariah Indonesia terhadap volatilitas ekonomi.

Meski demikian, Bank Syariah Mandiri akan tetap mengikuti arahan dari induknya, yakni PT Bank Mandiri Tbk, dan masih fokus menggarap sektor ritel, serta memperkuat kanal digital.

Dari sisi kinerja, sepanjang kuartal I 2020 Bank Syariah Mandiri mampu mencatatkan pendapatan sebesar Rp 1,62 triliun, naik 14,74% dibandingkan raihan pada kuartal I 2019. Jumlah ini sudah melalui distribusi bagi hasil kepada nasabah.

(Baca: BRI Dukung Merger Bank Syariah BUMN, BTN Tak Ingin Buru-Buru)

Kemudian, per 31 Maret 2020 perseroan juga berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 368,03 miliar, naik 51,44% dibandingkan kuartal I 2019 yang sebesar Rp 242,88 miliar.

Bank Syariah Mandiri juga mampu mencatatkan perbaikan kualitas non-performing financing (NPF). Per 31 Maret 2020, NPF net Bank Syariah Mandiri tercatat di level 0,95%, turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang berada di level 1,29%. Sedangkan, NPF gross turun dari 3,06% menjadi 2,49 %.

Seperti diketahui, Menteri BUMN Erick Thohir berniat menggabungkan seluruh bank syariah pelat merah menjadi satu. Targetnya, rencana ini bisa terealisasi tahun depan.

"Kami coba kaji bank-bank syariah ini nanti jadi satu semua, kami coba merger. Kira-kira Februari 2021 jadi satu," kata Erick dalam diskusi secara virtual, Kamis (2/7).

Sebagai informasi, bank BUMN memiliki anak usaha syariah, antara lain Bank Syariah Mandiri, PT Bank BNI Syariah, PT Bank BRI Syariah Tbk, dan Unit Usaha Syariah (UUS) BTN.

Rencana penggabungan bank syariah ini memang sudah menjadi pembicaraan sejak lama. Menteri BUMN mengungkapkan, merger dilakukan guna memperkuat dan menambah opsi-opsi pendanaan bagi pebisnis yang percaya kepada keuangan syariah.

Sebagai negara dengan populasi penduduk muslim terbanyak di dunia, Erick yakin, penggabungan usaha bisa membuat Indonesia memiliki bank syariah berskala besar.

(Baca: Erick Thohir Menargetkan Bank Syariah BUMN Merger Februari 2021)

Reporter: Muchammad Egi Fadliansyah

Video Pilihan

Artikel Terkait