Jalankan Program Relaksasi, Laba Pegadaian Stagnan Rp 1,5 Triliun

Pegadaian memproyeksi laba tahun ini akan turun karena menjalankan beberapa program relaksasi dan restrukturisasi untuk nasabah yang terdampak pandemi.
Image title
29 Juli 2020, 15:12
Ilustrasi, karyawan PT Pegadaian melayani nasabah. Sepanjang semester I 2020 laba Pegadaian tercatat stagnan Rp 1,5 triliun karena menjalankan program relaksasi dan restrukturisasi untuk nasabah yang terdampak pandemi corona.
ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/nz
Ilustrasi, karyawan PT Pegadaian melayani nasabah. Sepanjang semester I 2020 laba Pegadaian tercatat stagnan Rp 1,5 triliun karena menjalankan program relaksasi dan restrukturisasi untuk nasabah yang terdampak pandemi corona.

Kinerja laba bersih PT Pegadaian sepanjang semester I 2020 tercatat stagnan Rp 1,5 triliun. Stagnasi laba ini disebabkan karena perseroan menjalankan program relaksasi dan restrukturisasi kepada nasabah yang terdampak pandemi corona.

Direktur Keuangan Pegadaian Ninis Adriani mengatakan, penyebab kinerja stagnan adalah karena penurunan rata-rata imbal hasil atau yield perseroan. Per 31 Desember 2019, yield perseroan tercatat sebesar 27,13%, namun per 30 Juni 2020 yield turun menjadi 25,64%.

"Penurunan yield ini dipengaruhi karena kami menurunkan bunga supaya bisa bersaing dengan perusahaan gadai swasta. Selain itu, selama pandemi corona kami juga menjalankan program untuk meringankan nasabah," ujarnya, dalam video conference, Rabu (29/7).

Seperti diketahui, Pegadaian menjalankan program 'Gadai Peduli', di mana perseroan membebaskan bunga selama tiga bulan dengan nilai pinjaman hingga Rp 1 juta. Hingga saat ini, peserta yang mengikuti program ini mencapai 1,3 juta nasabah dengan jumlah pinjaman Rp 108 miliar.

Advertisement

Selain itu, Pegadaian juga menjalankan program penurunan bunga dari 1,2% menjadi 1%, serta memberikan relaksasi perpanjangan masa bebas bunga atau grace period selama 30 hari.

Kemudian, perseroan juga menjalankan program restrukturisasi pembiayaan bagi nasabah yang terdampak pandemi corona. Per 30 Juni 2020, Pegadaian sudah merestrukturisasi 39.346 nasabah dengan outstanding pinjaman sebesar 1,42 triliun.

Hingga akhir tahun, Pegadaian memproyeksi laba bersih akan turun dibandingkan tahun lalu. Pasalnya, secara gradual yield perseroan masih akan turun dipengaruhi oleh persaingan usaha gadai dan program-program relaksasi terkait pandemi corona.

Meski demikian, Ninis enggan menyebutkan berapa besaran laba yang ditargetkan mampu diraih perseroan akhir tahun ini. Tahun lalu, Pegadaian berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 4,3 triliun, naik 49% dibandingkan capaian tahun sebelumnya.

Dari sisi pembiayaan, Pegadaian mencatat total outstanding loan sepanjang semester I 2020 mencapai Rp 53 triliun. Jumlah ini naik 21,3% dibandingkan penyaluran pada semester I 2019.  Sementara, dibandingkan dengan posisi awal tahun, outstanding loan perseroan tercatat naik 5,2%.

Kenaikan outstanding loan ini seiring dengan peningkatan jumlah nasabah perseroan. Per 30 Juni 2020, jumlah nasabah Pegadaian tercatat mencapai 15 juta orang, naik 26,6% dibanding semester I 2019.

Kenaikan outstanding loan juga diikuti dengan kenaikan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL). Sepanjang semester I 2020, NPL Pegadaian tercatat di level 2,37%, naik tipis dari posisi periode yang sama tahun lalu sebesar 2,32%.

Pegadaian juga meningkatkan pencadangan sebagai dampak dari implementasi PSAK 71, serta langkah konservatif yang ditempuh perseroan di tengah pandemi corona. Namun, perseroan menyatakan coverage ratio sudah sangat cukup

Sebagai perbandingan, nominal NPL perseroan saat ini tercatat kurang lebih Rp 1,2 triliun, di-cover dengan pencadangan sebesar Rp 1,15 triliun. Sehingga, coverage ratio tercatat 95%.

Ninis menjelaskan, pembentukan pencadangan ini sudah memperhitungkan gadai, meski tidak diperlukan pencadangan. Jika gadai dikeluarkan dalam perhitungan, maka coverage ratio perseroan mencapai 128%.

Untuk tetap memacu pembiayaan hingga akhir tahun, Pegadaian mengandalkan sumber pendanaan dari perbankan dan pasar modal, melalui penerbitan obligasi. Saat ini, komposisi pendanaan terbesar perseroan adalah perbankan, dengan porsi mencapai 82,7%.

Ninis mengatakan, sepanjang semester I 2020 perseroan sudah menerbitkan obligasi senilai Rp 2,5 triliun, dan masih akan melihat kondisi pasar apakah masih memerlukan penerbitan obligasi lanjutan atau tidak.

"Kami punya ruang menerbitkan obligasi hingga Rp 10 triliun, dan sudah digunakan Rp 2,5 triliun. Apakah tahun ini sisa emisi akan digunakan seluruhnya, kami masih akan memantau kondisi di pasar," ujarnya.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait