Pangkas Biaya Operasi, Semester I Karakatau Steel Cetak Laba Rp 65,9 M

Sepanjang semester I 2020 Krakatau Steel berhasil menurunkan biaya operasional sebesar 27,5% sehingga tetap mampu membukukan laba.
Image title
Oleh Ihya Ulum Aldin
30 Juli 2020, 16:14
Ilustrasi, aktivitas pabrik pengolahan baja PT Krakatau Steel Tbk. Sepanjang semester I 2020 Krakatau Steel mencetak laba Rp 65,98 miliar berkat pemangkasan biaya operasional.
Agung Samosir|KATADATA
Ilustrasi, aktivitas pabrik pengolahan baja PT Krakatau Steel Tbk. Sepanjang semester I 2020 Krakatau Steel mencetak laba Rp 65,98 miliar berkat pemangkasan biaya operasional.

PT Krakatau Steel Tbk berhasil membukukan laba bersih US$ 4,51 juta atau setara dengan Rp 65,98 miliar (asumsi kurs Rp 14.630), berkat langkah efisiensi pada operasional. Pada periode yang sama tahun lalu, perseroan mencatatkan rugi bersih US$ 137,63 juta.

Meski demikian, kinerja laba tersebut utamanya ditopang pencapaian pada kuartal I 2020, dengan torehan laba sebesar 74,14 juta. Artinya, pada kuartal II 2020 perseroan mencatatkan rugi hingga US$ 69,63 juta.

Sepanjang paruh pertama tahun ini Krakatau Steel membukukan penjualan sebesar US$ 552,81 juta, yang terdiri dari US$ US$ 311,18 juta pada kuartal I dan US$ 241,63 juta pada kuartal II. Raihan penjualan sepanjang semester I 2020 ini turun 21,25% dibandingkan semester I 2019.

Namun, perseroan masih bisa mencatatkan laba operasional sebesar US$ 79,06 juta sepanjang semester I 2020. Pada periode yang sama tahun lalu, perseroan mencatatkan rugi operasional sebesar US$ 70,74 juta.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan, capaian positif laba operasi bisa diraih karena perseroan berhasil menurunkan biaya operasional sebesar 27,5% sepanjang semester I 2020.

Ia menjelaskan, beberapa biaya yang berhasil dipangkas antara lain, biaya energi yang turun 15,7%, biaya consumable turun 16,4%, dan penurunan biaya spare part turun sebesar 64,6%. Kemudian, perseroan juga berhasil menurunkan biaya outsourcing non-tenaga kerja sebesar 33,2% dan tenaga kerja sebesar 78,6%.

"Penurunan biaya ini terus konsisten dilakukan sepanjang 2020. Ke depan, kami semakin yakin Krakatau Steel akan mampu lebih bersaing dengan produk baja impor," kata Silmy, dalam siaran pers, dikutip Kamis (30/7).

Awal tahun ini perseroan juga telah menjalankan restrukturisasi utang senilai US$ 2 miliar di 10 bank nasional. Restrukturisasi utang ini disebut-sebut sebagai yang terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Kesepakatan restrukturisasi telah ditandatangani secara bertahap pada periode 30 September 2019 sampai 12 Januari 2020.

Dengan restrukturisasi utang ini, beban bunga dan kewajiban pembayaran pokok pinjaman Krakatau Steel menjadi lebih ringan sehingga membantu perbaikan kinerja dan memperkuat arus kas perusahaan. Adapun restrukturisasi ini untuk periode waktu sembilan tahun yaitu dari 2019 sampai 2027.

Silmy mengatakan, setelah program restrukturisasi utang berjalan, agenda Krakatau Steel berikutnya adalah beberapa rencana aksi korporasi corporate action. Seperti spin off fasilitas pabrik blast furnace, untuk dikerjasamakan dengan mitra strategis.

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Video Pilihan

Artikel Terkait