Punya Potensi Besar, Airlangga Minta UMKM Manfaatkan Kanal Digital

Pelaku UMKM diharapkan makin gencar memanfaatkan digitalisasi untuk memperluas jangkauan demi menggerakkan ekonomi yang sedang lesu.
Agatha Olivia Victoria
Oleh Agatha Olivia Victoria
11 Agustus 2020, 17:50
Ilustrasi, pekerja UMKM memotret kerajinan dari bahan limbah batok kelapa yang dipasarkan secara daring. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto minta UMKM gencar manfaatkan kanal digital.
ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/pras.
Ilustrasi, pekerja UMKM memotret kerajinan dari bahan limbah batok kelapa yang dipasarkan secara daring. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto minta UMKM gencar manfaatkan kanal digital.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) makin gencar memanfaatkan kanal digital. Pasalnya, potensi pemanfaatan digitalisasi untuk pasar Indonesia sangatlah besar.

"Hingga 2025 potensi digitalisasi di pasar Indonesia bisa mencapai US$ 155 miliar," kata Airlangga dalam acara webinar bertajuk 'Gotong Royong Jaga UMKM Indonesia' yang diselenggarakan Katadata.co.id, Selasa (11/8).

Ia berharap makin banyak UMKM yang memanfaatkan digitalisasi untuk menggerakkan ekonomi Indonesia yang tengah lesu akibat pandemi virus corona atau Covid-19. Apalagi daya beli masayarakat sedang lemah akibat pandemi, sehingga dengan memanfaatkan kanal digital produk UMKM bisa lebih terjangkau.

Saat ini pemerintah sedang menggodok program untuk meningkatkan digitalisasi bagi pelaku UMKM. Program tersebut dinamakan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia, dengan sasaran mendukung digitalisasi 2 juta pengusaha skala mikro.

Selain itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Kementerian Koperasi dan UKM saat ini sedang mendorong pembelian produk UMKM melalui platform digital.

“Terutama melalui aplikasi serta katalog online UMKM untuk pengadaan barang atau jasa,” ujarnya.

Airlangga menegaskan bahwa kuartal III 2020 menjadi waktu yang sangat krusial untuk perekonomian Indonesia. Alasannya, jika perekonomian pada periode ini kembali tumbuh negatif maka Indonesia akan memasuki jurang resesi.

Salah satu cara untuk membangkitkan perekonomian adalah mendorong konsumsi rumah tangga, yang pada kuartal II 2020 terkontraksi atau tumbuh negatif 5,51%. Peningkatan konsumsi rumah tangga ini dibarengi belanja pemerintah yang juga akan terus didorong selama kuartal III dan IV 2020.

"Sehingga, keseluruhan realisasi pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa mencapai target," ujar Airlangga.

Sebelumnya, Sekretaris Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Raden Pardede mengatakan belanja pemerintah menjadi kunci untuk menyelamatkan perekonomian nasional dari ancaman resesi, sehingga akan terus didorong melalui stimulus fiskal hingga akhir tahun.

Pemerintah telah merancang stimulus fiskal melalui program penanganan Covid-19 dengan anggaran sebesar Rp 695,2 triliun. Secara perinci anggaran tersebut terdiri dari belanja kesehatan sebesar Rp 87,55 triliun, perlindungan sosial Rp 203,9 triliun dan insentif usaha Rp 120,61 triliun.

Kemudian, pemerintah juga mengalokasikan Rp 123,46 triliun untuk bantuan kepada usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), pembiayaan korporasi Rp 537,57 triliun, dan sektoral kementerian/lembaga & pemda Rp 106,11 triliun.

Seperti diketahui, perekonomian Indonesia pada kuartal II tercatat tumbuh negatif 5,32% secara tahunan atau year on year (yoy). Realisasi ini lebih buruk dibandingkan prediksi pemerintah yang minus 4,3% maupun realisasi kuartal I 2020 yang masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 2,97%.

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Video Pilihan

Artikel Terkait