Lampaui Target, BRI Telah Salurkan Kredit PEN Senilai Rp 35,8 Triliun

BRI telah menyalurkan dana yang ditempatkan pemerintah menjadi kredit senilai Rp 35,8 triliun kepada 838.261 nasabah.
Image title
19 Agustus 2020, 18:20
Ilustrasi, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). BRI telah melampaui target kredit PEN yang ditetapkan pemerintah, dengan capaian penyaluran sebesar Rp 35,8 triliun hingga 15 Agustus 2020.
Katadata
Ilustrasi, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). BRI telah melampaui target kredit PEN yang ditetapkan pemerintah, dengan capaian penyaluran sebesar Rp 35,8 triliun hingga 15 Agustus 2020.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) telah memenuhi target pemerintah menyalurkan kredit dalam program pemulihan ekonomi nasional (PEN) senilai Rp 30 triliun. Hingga 15 Agustus 2020, penyaluran kredit dari BRI sudah mencapai Rp 35,8 triliun ke 836.261 nasabah.

"Penyaluran kredit menggunakan dana deposito pemerintah pertama kali mencapai Rp 30 triliun pada 7 Agustus pukul 11.30 WIB. Itu disalurkan kepada 716.815 orang nasabah," kata Direktur Utama BRI Sunarso dalam virtual conference, Rabu (19/8).

Dari jumlah nasabah yang telah menerima kredit PEN dari BRI tersebut, komposisi terbesar dicatatkan oleh nasabah eksisting, yakni sebesar 56%. Sedangkan porsi nasabah baru tercatat 44%. Sementara dari skala usahanya, 70% penerima kredit tersebut adalah usaha mikro dan 30% lainnya adalah usaha kecil.

Sunarso menilai penyaluran kredit kepada nasabah eksisting bukan suatu pelanggaran, karena pemerintah hanya melarang bank menggunakan dana deposito pemerintah untuk membeli surat berharga negara dan valuta asing. Selain itu, BRI memiliki alasan tersendiri menyalurkan kredit kepada nasabah eksisting.

Advertisement

"Para pelaku UMKM membutuhkan tambahan modal kerja supaya tidak melakukan PHK karyawannya. Ini kan menjadi prioritas penyaluran kredit PEN," ujarnya.

Seperti diketahui, pemerintah menempatkan dana di empat bank berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN) total senilai Rp 30 triliun. Dana tersebut disimpan dalam instrumen deposito perbankan dengan bunga 3,4%.

Dari jumlah tersebut, BRI mendapatkan alokasi penempatan dana sebesar Rp 10 triliun yang ditargetkan mampu mengungkit penyaluran kredit perbankan tiga kali lipat atau Rp 30 triliun. Target ini harus dicapai dalam kurun waktu tiga bulan sejak penempatan, yaitu sejak 25 Juni 2020.

Tak hanya itu, BRI juga telah memberikan restrukturisasi kepada nasabahnya yang terdampak Covid-19 sebesar Rp 183,7 triliun kepada 2,9 juta debitur hingga 31 Juli 2020. Jumlah ini setara dengan 21,3% dari total portofolio kredit.

Meski demikian, upaya restrukturisasi kredit terdampak corona disertai dengan pemberian insentif penurunan suku bunga berimbas pada performa BRI. Pasalnya, dua upaya yang dilakukan untuk membantu debitur terdampak corona ini membuat pendapatan bunga yang diterima tidak maksimal.

Sepanjang paruh pertama tahun ini, BRI membukukan pendapatan bunga sebesar Rp 56,57 triliun, turun 5,7% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu sebesar Rp 60,02 triliun. Hal itu membuat laba bersih BRI sepanjang semester I 2020 turun.

Sepanjang semester I 2020, BRI membukukan laba bersih sebesar Rp 10,2 triliun, turun 36,88% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 16,16 triliun.

"Dengan adanya restrukturisasi, maka tentu dampaknya adalah terlambat atau tidak diterimanya pendapatan bunga dari yang kontrak seharusnya," kata Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo dalam virtual conference, Rabu (19/8).

Reporter: Ihya Ulum Aldin
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait