Dibuka Menguat, Rupiah Berpotensi Melemah Terhadap Dolar AS

Rupiah diprediksi melemah karena pelaku pasar memandang data ekonomi terbaru di sektor manufaktur dan jasa mengindikasikan adanya pemulihan ekonomi AS.
Agatha Olivia Victoria
24 Agustus 2020, 09:47
Ilustrasi, uang rupiah dan dolar AS. Meski dibuka menguat pada perdagangan Senin (24/8), nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak melemah.
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wsj.
Ilustrasi, uang rupiah dan dolar AS. Meski dibuka menguat pada perdagangan Senin (24/8), nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak melemah.

Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,12% ke level Rp 14.755 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan di pasar spot pagi ini, Senin (24/8). Kendati demikian, mata uang Garuda berpotensi melemah hari ini akibat indikasi pemulihan ekonomi AS.

Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar AS pagi ini. Mengutip Bloomberg, yen Jepang tercatat menguat tipis 0,04%, dolar Singapura menguat 0,03%, dolar Taiwan naik 0,14%, rupee India 0,24%, yuan Tiongkok 0,02% dan baht Thailand 0,01%.

Sementara nilai tukar won Korea Selatan, peso Filipina dan ringgit Malaysia tercatat melemah terhadap dolar AS masing-masing 0,22%, 0,08% dan 0,06%. Sedangkan dolar Hong Kong tak bergerak.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan dolar AS berbalik menguat di akhir pekan kemarin. Para pelaku pasar memandang perekonomian AS sudah menunjukkan perbaikan.

"Karena adanya indikasi pemulihan ekonomi dari data ekonomi, pelaku pasar mengalihkan dana ke instrumen di AS," kata Tjendra kepada Katadata.co.id, Senin (24/8).

Data ekonomi yang dimaksud yaitu survei indeks aktivitas manufaktur dan sektor jasa AS Agustus 2020. Selain itu, data penjualan rumah bekas Juli 2020 juga lebih bagus dari proyeksi.

Mengutip FX Street, purchasing manager's index (PMI) sektor manufaktur AS Agustus 2020 tercatat di level 53,6, meningkat dibanding posisi Juli 2020 yang berada di level 50,9. Sementara PMI sektor jasa tercatat di level 54,8, meningkat dibanding Juli 2020 yang sebesar 50 dan jauh di atas ekspektasi di level 51.

Ariston menilai sentimen ini bisa mendorong pelemahan rupiah terhadap dolar AS awal pekan ini. Tak hanya itu, ketegangan hubungan AS dan Tiongkok juga bisa menjadi faktor penekan pergerakan rupiah karena akan mengganggu pemulihan ekonomi global.

Dari dalam negeri, potensi resesi dan penyebaran virus corona atau Covid-19 yang belum menunjukkan perlambatan bisa menekan pergerakan rupiah terhadap dolar AS.

"Tapi sentimen, baik dari eksternal maupun internal ini datang silih berganti. Rupiah bisa saja menguat kalau tekanan pelemahan ke dolar AS kembali membesar," ujarnya.

Berdasarkan sentimen yang ada, Ariston memprediksi rupiah sepanjang hari ini cenderung melemah dengan pergerakan di kisaran level Rp 14.650-14.850 per dolar AS.

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Video Pilihan

Artikel Terkait