Meski PMI Manufaktur Membaik, Rupiah Melemah ke Rp 14.572/US$

Pelemahan rupiah lebih disebabkan oleh sentimen eksternal terutama soal tensi hubungan antara AS dan Tiongkok.
Agatha Olivia Victoria
1 September 2020, 17:46
Ilustrasi, uang rupiah dan dolar AS. Meski PMI manufaktur Indonesia Agustus 2020 membaik, nilai tukar rupiah melemah 0,07% ke level Rp 14.572 per dolar AS pada pasar spot, Selasa (1/9).
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wsj.
Ilustrasi, uang rupiah dan dolar AS. Meski PMI manufaktur Indonesia Agustus 2020 membaik, nilai tukar rupiah melemah 0,07% ke level Rp 14.572 per dolar AS pada pasar spot, Selasa (1/9).

Nilai tukar rupiah melemah tipis 0,07% ke level Rp 14.572 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pasar spot sore ini, Selasa (1/9). Mata uang Garuda bergerak memelmah meski purchasing managers index (PMI) sektor manufaktur Indonesia Agustus 2020 membaik.

Bersamaan dengan rupiah, nilai tukar peso Filipina melemah 0,2% terhadap dolar AS, sementara baht Thailand tak bergerak signifikan. Sedangkan, mayoritas mata uang Asia justru menguat sore ini.

Mengutip Bloomberg, nilai tukar yen Jepang, dolar Hong Kong dan dolar Taiwan masing-masing menguat 0,17%, 0,01% dan 0,02% terhadap dolar AS. Kemudian, won Korea Selatan menguat 0,39%, rupee India 1,02%, yuan Tiongkok 0,35% dan ringgit Malaysia 0,48%.

Adapun, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan nilai tukar rupiah pada level Rp 14.615 per dolar AS, turun 61 poin dari level kemarin. Kurs itu dipublikasikan Bank Indonesia (BI) pada pukul 10.00 WIB.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pelaku pasar masih mengamati kerangka kebijakan baru bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed), apakah akan tetap menjaga tingkat suku bunga rendah atau sebaliknya. Ekspektasi yang beredar, bank sentral yang akan mempertahankan suku bunga mendekati nol, bahkan jika inflasi naik di atas target.

"Jika ternyata The Fed mempertahankan suku bunga rendah, maka investor akan makin melirik mata uang emerging market, termasuk rupiah," kata Ibrahim kepada Katadata.co.id, Selasa (1/9).

Selain itu, pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan tensi hubungan AS dan Tiongkok, di mana pada Senin (31/8) Washington mengeluarkan pernyataan tengah membangun dialog ekonomi bilateral baru dengan Taiwan. Hal ini dikhawatirkan akan makin membuat Beijing murka, mengingat Tiongkok menganggap Taiwan merupakan wilayahnya.

Sementara dari dalam negeri, Ibrahim menilai tidak ada sentimen negatif karena rilis PMI terbaru menunjukkan adanya indikasi perbaikan ekonomi. IHS Markit melaporkan PMI manufaktur Indonesia pada Agustus 2020 berada di level 50,8. Angka ini naik signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 46,9.

Ibrahim menilai PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula, sehingga bila melewati level ini maka bisa dikatakan pelaku usaha tengah bersiap melakukan ekspansi. Menurutnya PMI manufaktur Indonesia kini berada di titik tertinggi sejak Februari 2020, artinya perlahan tetapi pasti ekonomi mulai pulih dan kembali ke level pra-pandemi virus corona atau Covid-19.

Terkait kemungkinan resesi, Ibrahim melihat kontraksi pertumbuhan ekonomi masih akan terjadi di kuartal III 2020. Meski demikian, melihat angka PMI manufaktur yang naik signifikan, kontraksi ekonomi akan lebih kecil dan berlangsung sementara.

Dalam perdagangan besok, Ibrahim memperkirakan rupiah kemungkinan bergerak fluktuatif dan melemah tipis, dengan pergerakan di kisaran Rp 14.550-14.620 per dolar AS.

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Video Pilihan

Artikel Terkait