G20 Bakal Suntik Dana Rp 80.000 Triliun Redam Dampak Corona

Para pemimpin negara G20 menunjukkan persatuan dalam upaya mengatasi pandemi corona dan meredam dampaknya ke ekonomi global.
Image title
27 Maret 2020, 14:18
G20, KTT G20, pandemi corona, ekonomi global, resesi
ANTARA FOTO/REUTERS/Markus Schreiber/pool
Ilustrasi. Para pemimpin 20 menyatakan akan menyuntikkan lebih dari US$ 5 triliun ke dalam ekonomi global untuk meredam dampak pandemi corona.

Para pemimpin negara G20 berjanji menyuntikkan stimulus perekonomian lebih dari US$ 5 triliun untuk meredam dampak pandemi corona.

Kesepakatan dalam konferensi tingkat tinggi secara virtual yang digelar tadi malam menunjukkan persatuan dan koordinasi yang jauh lebih erat dibandingkan saat krisis keuangan 2008-2009.

"G20 berkomitmen untuk melakukan apa pun untuk mengatasi pandemi, bersama dengan Organisasi Kesehatan Dunia dan lembaga internasional lainnya," tulis keterangan resmi bersama para pemimpin G20, dikutip dari Reuters, Jumat (27/3).

Pernyataan resmi yang dituangkan para pemimpin G20 memuat bahasa paling damai dalam hubungan perdagangan internasional selama bertahun-tahun. Mereka berjanji untuk memastikan aliran pasokan medis vital dan barang-barang lainnya melintasi perbatasan dan untuk menyelesaikan gangguan rantai pasokan.

Advertisement

Namun, tak ada seruan untuk menghentikan langkah sejumlah negara yang melarang ekspor pasokan medis.

“Tindakan darurat yang bertujuan melindungi kesehatan akan ditargetkan, proporsional, dan transparan,” kata mereka.

(Baca: Pandemi Corona, IMF Bakal Cairkan Pinjaman Rp 2 Trilun Bantu Kirgistan)

Para pemimpin G20 juga menyatakan keprihatinan tentang risiko terhadap negara-negara rapuh, terutama di Afrika dan negara yang sebagian penduduknya mengungsi. Dibutuhkan jaring pengaman keuangan global dan sistem kesehatan nasional.

Arab Saudi yang menjadi ketua G20 mengadakan KTT melalui konferensi video di tengah kritikan terkait respons yang lambat dari kelompok negara tersebut untuk mengantasi pandemi. Wabah virus corona telah menginfeksi lebih dari 500 ribu orang di seluruh dunia dan menewaskan hampir 24 ribu orang, serta diperkirakan akan memicu resesi global.

Raja Salman dalam sambutan pembukaannya, mengatakan negara-negara G20 harus memulai kembali aliran barang dan jasa secara normal, termasuk pasokan medis vital, sesegera mungkin untuk membantu memulihkan kepercayaan pada ekonomi global.

G20 pun menyatakan akan menyuntikkan lebih dari US$ 5 triliun ke dalam ekonomi global, sebagai bagian dari kebijakan fiskal yang ditargetkan dan langkah-langkah ekonomi lain untuk meredam dampak pandemi.

Jumlah tersebut hampir sama dengan stimulus yang disuntikkan negara-negara G20 untuk menopang ekonomi global saat krisis 2009. Namun, stimulus sangat menjanjikan data dari AS mencapai US$ 2 triliun dalam bentuk pengeluaran fiskal, lebih dari dua kali lipat komitmennya dari krisis itu.

(Baca: Sri Mulyani Terharu, Jokowi Ikuti Pertemuan G20 Meski Masih Berduka)

Presiden AS Donald Trump mengatakan negara-negara G20 saling memberi informasi tentang upaya mereka untuk memerangi krisis. "Kami menanganinya dengan cara yang berbeda tetapi ada keseragaman yang hebat," kata Trump.

Trump dan Presiden Prancis Emmanuel Macron sepakat dalam sebuah panggilan pada hari Kamis mengenai pentingnya kerja sama melalui G20 dan kelompok-kelompok lain untuk membantu organisasi internasional menghilangkan pandemi dengan cepat dan meminimalkan dampak ekonomi.

Sementara terkait respons kesehatan, para pemimpin G20 berkomitmen untuk menutup kesenjangan pembiayaan dengan memberikan dukungan pada WHO dan memperkuat mandatnya. Mereka juga berjanji untuk mendorong peningkatan kapasitas produksi pasokan medis, memperkuat kapasitas untuk menanggapi penyakit menular, dan berbagi data klinis.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus berpidato pada G20 untuk mencari dukungan untuk meningkatkan pendanaan dan produksi peralatan perlindungan pribadi untuk petugas kesehatan di tengah kekurangan global.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait