Pemerintah Perlu Transparan Tangani Corona agar Ekonomi Tak Terganggu

Transparansi lokasi penularan penting sebagai acuan bagi masyarakat untuk sementara tidak mengunjungi daerah yang dimaksud dan mencari alternatif.
Image title
13 Maret 2020, 21:59
virus corona, covid-19, pandemi corona
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Ilustrasi. Terdapat total 69 kasus positif virus corona hingga saat ini.

Wabah virus corona dapat menganggu kelancaran aktivitas perekonomian. Peneliti Center of Reform on Economics atau CORE Yusuf Rendy Manilet menilai dibutuhkan transparansi lokasi penularan dan tracing Covid-19 guna menjaga kelancaran aktivitas masyarakat.

“Sehingga aktivitas ekonomi bisa dilakukan dengan lebih nyaman, tanpa rasa was-was,” kata dia kepada katadata.co.id, Jumat (13/3).

Transparansi mengenai lokasi penularan dinilai dapat menjadi acuan bagi masyarakat untuk sementara tidak mengunjungi daerah yang dimaksud dan mencari alternatif. Selain itu, transparansi juga merupakan salah satu wujud dari demokrasi.

Hal ini akan mempengaruhi penilaian publik dan dunia terhadap cara pemerintah dalam menanggulangi penyakit pandemik tersebut. 

Advertisement

Meski begitu, ia menilai, pemerintah telah berusaha untuk bersikap transparan terhadap informasi corona di Indonesia. Hanya saja, masyarakat belum memiliki sumber tunggal terkait virus corona yang kredibel dan mudah diakses oleh masyarakat.

(Baca: Jokowi Tambah 227 Rumah Sakit Rujukan Penanganan Virus Corona)

Sebagaimana diketahui, total kasus positif corona hingga hari Jumat (13/3) melonjak lebih dari dua kali lipat. Total ada 35 pasien baru yang diumumkan sehingga kasus corona di Indonesia mencapai 69 kasus.

Juru bicara nasional penanganan virus corona Achmad Yurianto mengatakan kasus ini merupakan hasil penelusuran sejak Kamis (12/3) kemarin. Tak hanya itu, 3 orang pasien yakni nomor 35, 36, dan 50 telah meninggal dunia.

“Ini sudah kami tracing terus,” kata Yurianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (13/3).

Yurianto mengatakan kasus 35 adalah perempuan berusia 57 tahun. Pasien nomor 36 merupakan wanita 37 tahun. Sedangkan pasien nomor 50 identitasnya adalah laki-laki berusia 59 dengan kondisi yang buruk sebelum meninggal. “Kontak sudah dilakukan dinas kesehatan setempat,” katanya.

(Baca: Bertambah Dua, Pasien Sembuh dari Corona Menjadi Lima Orang)

Ada satu orang pasien dengan identifikasi kasus 38 mengalami sakit berat. Meski demikian, perempuan berusia 80 tahun tersebut diketahui dalam kondisi stabil dan tidak menggunakan ventilator.

Kemudian, tiga pasien dengan identifikasi kasus mengalami sakit sedang, yakni pasien 51, 61, dan 69. Pasien 51 merupakan laki-laki berusia 60 tahun. Pasien 61 merupakan perempuan berusia 58 tahun. Pasien 69 merupakan perempuan berusia 80 tahun.

Sementara itu, Yurianto menyebut 28 pasien lainnya dalam kondisi sakit ringan hingga sedang. “Lebih detail saya besok akan jelaskan. Mudah-mudahan kami bisa makin cepat lagi (melakukan penelusuran kontak),” kata Yurianto.

Reporter: Rizky Alika
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait