Mahfud Sebut WNI Terlibat Terorisme Paling Banyak di Suriah

Dimas Jarot Bayu
21 Januari 2020, 18:31
mahfud md, teroris lintas batas, wni jadi teroris
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Menko Polhukam Mahfud MD mengatakan pemerintah masih mencari jalan terbaik untuk memulangkan WNI yang terlibat terorisme di luar negeri.

Menkopolkukam Mahfud MD mengatakan, terdapat 660 warga negara Indonesia yang diduga menjadi teroris lintas batas atau foreign terorist fighter (FTF). WNI tersebut paling banyak berada di Suriah, sedangkan sisanya tersebar di Afghanistan dan sejumlah wilayah lain. 

"Ada di mana-mana, tapi Suriah paling banyak," kata Mahfud di kantornya, Jakarta, Selasa (21/1).

Mahfud mengatakan, pemerintah berencana memulangkan WNI yang menjadi FTF tersebut. Sebab, mereka memiliki hak mendapat kewarganegaraan berdasarkan konstitusi.

(Baca: Nasib WNI Terlibat Terorisme di Luar Negeri Tunggu Keputusan Jokowi)

Hanya saja, hal tersebut bukanlah perkara mudah lantaran mereka dikhawatirkan menyebarkan paham terorisme ketika berada di dalam negeri. "Juga pariwisata dan investasi bisa terkena imbas kalau misalnya masih ada ancaman teroris dan sebagainya," kata Mahfud.

Oleh karena itu, pemerintah tengah mencari jalan terbaik terkait pemulangan para WNI yang menjadi FTF. Dia menargetkan hal tersebut bisa diselesaikan pada semester pertama 2020.

Adapun keputusan terkait pemulangan para WNI tersebut akan diputuskan oleh Presiden Joko Widodo. "Akan disampaikan ke Presiden dalam waktu yang tidak lama," ucapnya.

(Baca: Dalam 5 Tahun, Pemerintah Tangkal 189 WNA Terkait ISIS dan Terorisme)

Hal senada juga disampaikan Menteri Sosial Juliari P Batubara. Menurut Juliari, persoalan ini bakal dilaporkan terlebih dulu kepada Jokowi.

Nantinya, Jokowi yang akan mengambil keputusan terkait penanganan WNI tersebut. “Kami tunggu keputusan Presiden,” kata Juliari.

Reporter: Dimas Jarot Bayu
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait