Menguat ke Rp 13.673 per Dolar AS, Rupiah Paling Perkasa di Asia

Nilai tukar rupiah pada perdagangan sore ini menguat 0,72% ke posisi Rp 13.673 per dolar AS. Rupiah paling perkasa di antara sejumlah mata uang utama Asia.
Image title
13 Januari 2020, 16:33
rupiah, dolar AS, rupiah menguat, rupiah paling perkasa, perang dagang
KATADATA/ Arief Kamaludin
Ilustrasi. Rupiah sepanjang hampir dua pekan pertama tahun ini telah menguat 1,39%.

Nilai tukar rupiah pada perdagangan sore ini, Senin (13/1), menguat 0,72% ke posisi Rp 13.673 per dolar AS. Rupiah tercatat paling perkasa di antara mata uang utama negara Asia.

Mengutip Bloomberg, mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar AS. Yuan Tiongkok naik 0,4%, won Korea Selatan 0,45%, Peso Filipina 0,32%, dolar Taiwan 0,24%, rupee India 0,21%, baht Thailand 0,14%, dan dolar Singapura 0,13%.

Sementara itu, dolar Hong Kong dan yen Jepang masing-masing melemah 0,37% dan 0,08%.

Adapun kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate menempatkan rupiah pada posisi Rp 13.708, menguat dari posisi akhir pekan lalu Rp 13.812 per dolar AS.

Advertisement

 (Baca: Belum Intervensi, BI Ingin Rupiah Terus Menguat)

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim menjelaskan optimisme segera berakhirnya perang dagang menjadi sentimen utama yang mendorong penguatan rupiah hari ini. AS dan Tiongkok sebelum telah memberikan kepastian terkait penandatanganan kesepakatan dagang tahap I yang aka dilaksanakan pada 15 Januari.

Selain itu, menurut dia, meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah membuat harga minyak kembali melemah dan menyentuh level terendah di US$ 59 per barel.

"Indonesia saat ini merupakan negara net importir minyak sehingga kenaikan harga minyak akan memberi tekanan pada rupiah. Sebaliknya, harga minyak yang melemah berdampak positif pada rupiah," ujar Ibrahim, Senin (13/1).

Ia memperkirakan rupiah masih berpotensi menguat pada perdagangan besok. Rupiah akan bergerak pada rentang Rp 13.645 hingga Rp 13.695 per dolar AS.

(Baca: AS Pastikan Komitmen Tiongkok soal Kesepakatan Dagang Tahap I)

Sebelumnya, BI mengaku belum mengintervensi rupiah sejak awal tahun ini. Penguatan rupiah hingga saat ini dinilai masih sesuai dengan fundamentalnya. 

"Kami punya perhitungan. Sepanjang ini sesuai nilai fundamental, kami membiarkan rupiah menguat," kata Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta.

Menurut Dody, penguatan rupiah saat ini juga ditopang oleh sejumlah faktor internal terutama data makro yang positif, seperti Produk Domestik Bruto, inflasi, survei konsumen, dan posisi cadangan devisa yang menguat di akhir tahun.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait