Jubir Presiden: Kesadaran Masyarakat jadi Tantangan Normal Baru

Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman mengatakan, kesadaran masyarakat terkait Covid-19 yang belum merata menjadi tantangan implementasi normal baru.
Dimas Jarot Bayu
12 Juni 2020, 19:47
kasus corona, covid-19, pandemi corona, pengetahuan masyarakat, new normal
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman mengatakan, pengetahuan masyarakat soal virus corona masih belum merata.

Tingkat kesadaran masyarakat terhadap Covid-19 dinilai masih menjadi tantangan pemerintah dalam menerapkan tatanan normal baru  atau new normal. Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman mengatakan, pengetahuan masyarakat soal virus corona masih belum merata, lantaran terdiri dari beragam segmen dari sisi demografi, usia, hingga tingkat pendidikan. 

"Ternyata ketika dikasih informasi, mereka membuat persepsi berdasarkan segmen-segmen di mana  mereka berada," kata Fadjroel dalam diskusi virtual, Jumat (12/6).

Fadjroel mengatakan, kondisi ini diperparah dengan pembelahan politik di tengah masyarakat. Ini membuat  informasi yang disampaikan pemerintah dibingkai berdasarkan masih-masing kepentingan politik mereka.

Selain itu, menurut Fadjroel, masih ada pihak yang melakukan distorsi informasi terhadap apa yang disampaikan pemerintah. Berdasarkan data Dirjen Aptika Kemenkominfo, ada 845 isu hoaks yang beredar di masyarakat sejak 6 Mei-12 Juni 2020 yang terkait corona.

(Baca: Jubir Presiden Sebut PSBB Tak Bisa Terlalu Lama Demi Selamatkan UMKM)

Advertisement

Salah satu isu hoaks adalah terkait informasi lima saudara kandung yang menunggu diadopsi karena orangtuanya meninggal akibat terjangkit corona. Selain itu, ada hoaks bahwa pemerintah akan melakukan karantina wilayah terhadap wilayah di sekitar Pasar Rumput, Jakarta.

"Jadi upaya terus-menerus melakukan distorsi informasi juga terjadi," kata Fadjroel.

Fadjroel pun menyebut tingkat kedispilinan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan masih belum ideal. Di samping itu, aparat masih kesulitan melakukan penegakan hukum terhadap penerapan protokol kesehatan lantaran kemajemukan masyarakat masih tinggi. 

"Masing-masing entitas sosial, etnis agama misalnya memiliki cara respons yang berbeda-beda," kata dia.

(Baca: Kisah Petugas Jenazah Korban Corona, Dapat Penolakan & Minim Fasilitas)

Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya mendorong edukasi, informasi, dan komunikasi agar masyarakat bisa memahami rencana tatanan normal baru dengan baik. Pemerintah pun bakal menggunakan pendekatan yang berbeda-beda di setiap daerah dalam menerapkan tatanan normal baru.

Jumlah kasus virus corona bertambah 1.111 orang per 12 Juni 2020. Total Kasus mencapai 36.406 dengan 13.213 pasien dinyatakan sembuh dan 2.048 orang meninggal dunia, seperti terlihat dalam databoks di bawah ini.

 

Reporter: Dimas Jarot Bayu
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait