Pabrik Green Diesel Pertamina Ditaksir Mampu Serap 1,2 Juta Ton CPO

Pertamina sedang membangun pabrik green diesel atau solar hijau dengan kapasitas produksi 20 ribu barel per hari.
Image title
17 Juli 2020, 22:09
Pertamina, d100, green diesel, pandemi corona
ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/NZ.
Ilustrasi. Pertamina telah memproduksi D100 sebanyak seribu barel per hari di kilang Dumai.

PT Pertamina sedang membangun pabrik green diesel atau solar hijau dengan kapasitas produksi 20 ribu barel per hari. Ketua Dewan Penasehat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia Bayu Krisnamurthi memperkirakan, penyerapan minyak kelapa sawit atau CPO dari pabrik tersebut dapat mencapai 1,2 juta ton.

"20 ribu barel per hari kira-kira setara dengan sekitar 1,2 juta ton CPO per tahun," kata Bayu saat dihubungi Katadata.co.id, Jumat (17/7).

Selain membangun pabrik green diesel, Pertamina juga telah memproduksi D100 sebanyak seribu barel per hari di kilang Dumai. Bayu memperkirakan serapan CPO dari kilang tersebut mencapai 170 ton per hari atau 60 ribu ton CPO per tahun.

Sementara itu, Mantan Menteri Pertanian Indonesia sekaligus Pengamat Pertanian Bungaran Saragih memperkirakan serapan CPO untuk green diesel dapat meningkatkan harga sawit."Harga sawit lebih baik dan akan mengungkit perekonomian," katanya.

Advertisement

(Baca: Pertamina Dapat Rapor Merah Karena Lifting Migas Tak Capai Target)

Ia berharap pengembangan green diesel tersebut dapat diikuti dengan kebijakan dari pemerintah sehingga penggunaannya lebih masif. Kebijakan ini juga dinilai mampu  mengurangi pengeluaran devisa untuk impor minyak dan gas bumi. 

"Nantinya kita akan punya bargaining power yang besar di pasar internasional kalau bisa manfaatkan pasar domestik," ujar dia.

Pertamina saat ini tengah membangun unit green diesel dengan kapasitas 20 ribu barel per hari di kilang Plaju. Selain itu, BUMN migas ini juga telah memproduksi D100 sebanyak seribu barel per hari di kilang Dumai.

“Kami mampu memproduksi bahan bakar renewable yang pertama di Indonesia dan hasilnya tidak kalah dengan perusahaan kelas dunia,” ujar Nicke.

(Baca: Pertamina Produksi D100, Apa Bedanya dengan B100?)

Bahan bakar nabati atau BBN itu merupakan hasil pengolahan refined, bleached, and deodorized palm oil (RBDPO). Produknya 100% berasal dari minyak sawit mentah atau CPO yang diproses hingga hilang getah, impurities (kotoran), dan baunya. Uji coba pengolahan produksinya dilaksanakan pada 2 sampai 9 Juli lalu.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan pengujian ini menunjukkan kilang dan katalis Pertamina sudah siap memproduksi BBM ramah lingkungan. “Kami perlu memikirkan agar sisi keekonomiannya juga dapat tercapai,” katanya dalam siaran pers, Rabu (15/7).

Pengolahan RBDPO menjadi D100 di kilang Dumai, Riau, dapat terealisasi dengan bantuan katalis bernama Katalis Merah Putih. Produk ini diproduksi oleh Pertamina Research and Technology Center bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung.

Reporter: Rizky Alika
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait