Kemenhub Bakal Tetap Pacu Pembangunan Konektifitas Transportasi Laut

Menteri Perhubungan Budi Karya memastikan pembangunan konektivitas tol laut akan terus berlanjut meski di tengah pandemi corona.
Image title
Oleh Tri Kurnia Yunianto
24 Agustus 2020, 15:17
budi karya, kementerian perhubungan, tol laut, pandemi corona
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi. Pembangunan infrastruktur transportasi laut akan mengurangi perbedaan harga antarwilayah sehingga dapat memangkas kesenjangan ekonomi.

Kementerian Perhubungan bakal meningkatkan konektivitas transportasi laut baik untuk jasa penumpang maupun pengiriman barang guna menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menjelaskan, pembangunan infrastruktur transportasi laut akan mengurangi perbedaan harga antarwilayah sehingga dapat memangkas kesenjangan ekonomi. 

"Peran transportasi laut adalah simpul konektivitas yang jadi keniscayaan dan sebagai daya dukung ekonomi serta tulang punggung pertumbuhan ekonomi," kata Budi dalam diskusi daring di Jakarta, Senin (24/8).

Budi mendapatkan amanah dari Presiden Joko Widodo untuk memberikan perhatian khusus pada transportasi laut di wilayah terluar, terdepan dan tertinggal. Untuk itu, pihaknya bakal mengoptimalisasi kemandirian maritim dengan membangun pelabuhan-pelabuhan potensial hingga memaksimalkan program tol laut.

Adapun beberapa proyek pembangunan pelabuhan yang tengah dibangun yakni Pelabuhan Patimban di Kabupaten Subang, Jawa Barat dan Pelabuhan Kijing di Mempawah, Kalimantan Barat serta Pelabuhan Gili Mas di Lombok, Nusa Tenggara Barat. "Kami berharap tahun ini bisa launching," katanya.

Ia pun menegaskan pandemi virus corona tak menjadi alasan mundurnya program pembangunan tersebut. Seluruh proses pembangunan akan dilakukan dengan protokol kesehatan ketat.  "Justru dengan krisis ini, kita harus lakukan terobosan untuk menciptakan kemajuan termasuk di transportasi," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perhubungan Laut . Agus Purnomo menjelaskan,  90% jasa pengiriman kargo logistik dunia  saat inidiangkut melalui jalur laut. Dari jumlah tersebut, 40% di antaranya berlayar melewati wilayah Indonesia. Peluang ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah.

Berdasarkan rencana pembangunan strategis transportasi laut tahun 2020 - 2024 Kemenhub bakal fokus menyiapkan sarana dan prasarana untuk mendukung konektivitas. Selain itu, pihaknya juga akan melakukan integrasi dan pemerataan sehingga seluruh wilayah Indonesia bisa menikmati aksesibiltias melalui jalur laut. "Beberapa pelabuhan didukung kawasan industri di belakangnya, kami akan bangun lagi supaya logistiknya bisa efisien," kata Agus.

Tak hanya itu, Agus menyebutkan saat ini pihaknya juga tengah membangun 110 trayek pelayaran perintis untuk angkutan penumpang. Upaya ini untuk memberikan layanan jasa transportasi yang lebih murah dan kompetitif bagi seluruh masyarakat.

 Untuk skema pendanaannya, Kemenhub membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta melalui kerja sama pemerintah dan badan usaha, serta kerja sama operasional. "Regulasi terus kami perbaiki agar potensi ini betul-betul diperkuat," kata dia.

Sebelumnya, Presiden Jokowi menyoroti tingginya biaya logistik yang membuat daya saing bisnis Indonesia kalah dengan negara lain. Dia mengatakan, mahalnya biaya logistik memberi beban urusan transportasi barang di Indonesia. Pasalnya, biaya logistik merupakan komponen terbesar dari transportasi barang.

“Biaya logistik di Indonesia masih 24% dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau setara dengan Rp 3.560 triliun,” ujar Jokowi saat membuka rapat terbatas beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, pergerakan transportasi umum berkurang, bahkan sempat terhenti. Hal ini seiring dengan kebijakan pemerintah menerapkan pembatasan sosial di sejumlah wilayah, guna menekan laju penularan Covid-19. Sehingga mobilitas masyarakat pun berkurang. 

Pada Mei 2020, jumlah penumpang dari seluruh jenis transportasi masih menurun dibandingkan April 2020. Kerugian terbesar dirasakan maskapai penerbangan. Sebab jumlah penumpang angkutan udara, baik domestik maupun internasional masih menurun hingga lebih 50%. Hanya terdapat 87 ribu penumpang domestik, turun 89,6% dari April 2020. Sementara itu, maskapai penerbangan hanya mampu menarik 11,7 ribu penumpang internasional. Angka tersebut turun 55% dibandingkan bulan sebelumnya.

Angkutan laut juga mengalami penurunan jumlah penumpang hingga 50,7% dari April 2020. Jenis transportasi itu mengangkut 275,7 ribu penumpang pada Mei 2020. Sedangkan angkutan kereta api turun 7% yang mengantarkan 5,48 juta penumpang.

Reporter: Tri Kurnia Yunianto
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait