Digugat Ribuan Perusahaan, AS Tak Goyah Perang Dagang dengan Tiongkok

Sebanyak 3.500 perusahaan AS menggugat pemerintahan Trump atas kenaikan tarif sebagai dampak perang dagang dengan Tiongkok.
Image title
Oleh Agustiyanti
28 September 2020, 12:57
perang dagang AS-tiongkok, kenaikan tarif AS, perang dagang, tarif, resesi ekonomi, donald trump
ANTARA FOTO/REUTERS/Carlos Barria/pras/cf
Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus menggencarkan perang dagang dengan Tiongkok.

Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok kian memanas di tengah krisis Pandemi Covid-19. Di tengah 'serangan' terhadap Tiongkok, pemerintahan Trump digugat ribuan perusahaan AS karena menaikkan tarif pada barang Tiongkok senilai miliaran dolar AS.

Sebanyak 3.500 perusahaan AS, termasuk Tesla Inc, Ford Motor Co FN, Target Corp TGT.N, Walgreen Co WBA.O, dan Home Depot HD.N mengajukan gugatan kepada pemerintahan Trump dalam dua pekan terakhir atas pengenaan tarif pada barang-barang buatan Tiongkok senilai lebih dari US$ 300 miliar yang diberlakukan dalam

Perusahaan-perusahaan tersebut dalam gugatannya menyebut pemberlakuan putaran ketiga dan keempat tarif merupakan kenaikan tidak sah akibat perang dagang AS dan Tiongkok. Mereka berpendapat bahwa pemerintahan Trump tidak mematuhi prosedur administrasi.

Produsen suku cadang mobil Dana Corp mempermasalahkan perang perdagangan tak terbatas yang kini dilakukan antara pemerintah kedua negara ekonomi dan berdampak pada miliaran dolar barang impor Tiongkok oleh importir di AS.

Dana Corp menggugat tarif dalam dua kelompok peserta terpisah yang dikenal sebagai daftar 3 dan daftar 4 A. Daftar 3 mencakup tarif sebesar 25% kepada barang Tiongkok senilai US$ 200 miliar, sedangkan daftar 4A mencakup tarif sebesar 7,5% untuk barang-barang senilai US$ 7,5 miliar.

Satu gugatan berpendapat bahwa pemerintah AS tidak dapat menaikkan tarif ke impor Tiongkok lainnya karena alasan yang tidak terkait dengan kebijakan dan praktik kekayaan intelektual yang tidak adil yang semula diinvestigasi.

Perusahaan AS yang juga mengajukan gugatan antara lain adalah Volvo Group Amerika Utara VOLVb.ST, pengecer suku cadang mobil AS Pep Boys, perusahaan pakaian Ralph Lauren, Sysco Corp SYY.N, produsen gitar Gibson Brands, unit Lenovo 0992.HK US, Dole Packaged Foods, a unit Itochu Corp 8001.T dan produsen peralatan golf Callaway Golf Co.

Gugatan yang diajukan Home Depot mencatat bahwa mereka menghadapi kenaikan tarif impor pada lantai bambu, bor tanpa kabel, dan banyak produk buatan Tiongkok lainnya. Walgreen, unit dari Walgreen Boots Alliance, mengatakan pihaknya membayar tarif yang lebih tinggi untuk produk seperti barang-barang perlengkapan kantor dan kebutuhan rumah tangga.

Kantor Perwakilan Dagang AS belum menanggapi permintaan komentar dari Reuters terkait gugatan ini.

 Pada 15 September, WTO menemukan Amerika Serikat melanggar aturan perdagangan global dengan memberlakukan tarif miliaran dolar dalam perang perdagangan Trump dengan Tiongkok.

Pemerintahan Trump sebelumnya membela diri dengan menjelaskan bahwa kenaikan tarif dapat dibenarkan karena Tiongkok telah mencuri kekayaan intelektual dan memaksa perusahaan AS untuk mentransfer teknologi demi mengakses pasar Tiongkok.

Tak hanya melalui tarif, perang dagang juga digencarkan Trump melalui pembatasan ekspor.  Teranyar, Amerika Serikat telah memberlakukan pembatasan ekspor ke produsen chip terbesar Tiongkok, SMIC. Dikutip dari Reuters, larangan ekspor dilakukan lantaran peralatan yang diekspor berdasarkan simpulan pemerintah AS berisiko digunakan untuk tujuan militer.

Namun, SMIC mengatakan belum mengetahui pemberitahuan resmi tentang pembatasan tersebut dan menyatakan tidak memiliki hubungan dengan militer AS.

SMIC adalah perusahaan teknologi Tiongkok terkemuka terbaru yang menghadapi pembatasan perdagangan AS terkait dengan masalah keamanan nasional atau upaya kebijakan luar negeri AS. Sebelumnya, label hitam telah diberikan pemerintah AS kepada Raksasa telekomunikasi Huawei Technologies.

 "Ada banyak tindakan administrasi Trump terkait TikTok, tetapi tindakan yang lebih signifikan dari sudut pandang ekonomi global dan yang akan memiliki efek riak yang cukup besar melalui rantai pasokan global adalah peningkatan pembatasan pada SMIC dan Huawei,: kata Nicholas Klein, seorang pengacara Washington yang mengkhususkan diri dalam perdagangan internasional.

Dia mengatakan tindakan ini lebih cenderung menarik tanggapan pembalasan dari Beijing. Amerika Serikat telah bergerak untuk melarang aplikasi video pendek populer TikTok, dengan alasan masalah keamanan nasional yang berasal dari kepemilikannya di Tiongkok.

Ekonomi terbesar dunia ini mengalami resesi ekonomi akibat Pandemi Corona akibat kontraksi yang cukup dalam pada kuartal  seperti terganbar dalam databoks di bawah ini

 

Sementara itu, Tiongkok dikabarkan tengah menyiapkan balasan atas sejumlah kebijakan AS. Beijing menyatakan, ada beberapa perusahaan asal AS yang akan masuk daftar ‘entitas yang tidak dapat diandalkan’ atau dianggap membahayakan keamanan negara.  Tiongkok memperkenalkan regulasi ini pada Mei lalu.

Entitas yang masuk dalam daftar akan dilarang berinvestasi atau berdagang dengan pasar Tiongkok, baik impor maupun ekspor. Beijing belum mengumumkan nama-nama perusahaan yang masuk daftar itu. Namun media pemerintah melaporkan bahwa Apple dan Google terancam masuk daftar ‘entitas yang tidak dapat diandalkan’.

"Selalu ada risiko balas dendam, menempatkan perusahaan AS terkenal seperti Apple di garis bidik," kata Wakil Presiden IDC Bryan Ma, dikutip dari Washington Post, pekan lalu.

Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait