Hunian Hotel & Penerbangan Naik pada Oktober, Ditopang Turis Domestik

Tingkat hunian hotel berbintang pada Oktober meningkat menjadi 37,48% dari 32,12% pada September, sedangkan jumlah penumpang penerbangan domestik naik 17% dibanding bulan sebelumnya.
Image title
Oleh Agustiyanti
1 Desember 2020, 13:41
tingkat hunian hotel, penumpang domestik, wisatawan domestik, pariwisata domestik wisatawan mancagenara, turis asing
ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/wsj.
Ilustrasi. Bisnis perhotelan terpukul Pandemi Covid-19. Pada April 2020, tingkat penghunian kamar hotel berbintang mencapai titik terendah sebesar 12,67%.

Badan Pusat Statistik mencatat tingkat penghunian kamar hotel klasifikasi bintang pada Oktober 2020 mencapai 37,48%, meningkat dibandingkan September 32,12%. Kenaikan ini terutama disumbang oleh wisatawan domestik.

"Kalau dilihat tren wisman yang belum banyak bergerak, sehingga perkembangan tingkah penghunian kamar kelas bintang ini lebih banyak dipengaruhi oleh wisatawan domestik," ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Setianto dalam Konferensi Pers Perkembangan Pariwisata dan Transportasi melalui video streaming, Selasa (1/12).

Meski menunjukan tren kenaikan bulanan, tingkat penghunian kamar tersebut masih anjlok dibandingkan Oktober 2019 yang mencapai 56,77%. Bisnis perhotelan terpukul Pandemi Covid-19. Pada April 2020, tingkat penghunian kamar hotel berbintang mencapai titik terendah sebesar 12,67%.

Tingkat penghunian kamar tertinggi terjadi di Provinsi Lampung mencapai 54,28%, diikuti oleh Kalimantan Tengah sebesar 53,47%, dan Sulawesi Utara 52,25%. Sementara tingkat penghunian kamar terendah tercatat berada di Provinsi Bali hanya sebesar 9,53%.

Berdasarkan klasifikasi bintangnya, kenaikan tingkat hunian paling tinggi terjadi pada kelompok hotel bintang lima dari 28,72% menjadi 38,39%. Disusul oleh hotel bintang empat dari 32,05% menjadi 38,69%, hotel bintang tiga dari 33,85% menjadi 37,55%, hotel bintang dua dari 32,49% menjadi 37,19%, dan hotel bintang satuu dari 25,48% menjadi 26,44%.

Pariwisata domestik yang meningkat pada Oktober juga ditunjukkan oleh data penumpang penerbangan domestik yang mencapai 2,22 juta orang, naik 17,33% dibandingkan September. Namun, jumlah tersebut masih anjlok 66,21% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan jumlah penumpang pesawat juga terjadi pada penerbangan internasional pada bulan lalu sebesar 13,53% menjadi 38,6 ribu. Namun, jumlah penunmpang penerbangan internasional masih anjlok 97,76% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada Oktober 2020 juga penurunan drastis 88,25% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, September 2020 naik 4,57% menjadi 158,19 ribu kunjungan.

Kunjungan wisman melalui pintu masuk udara naik 27,96% sedangkan melalui pintu darat naik 6,24% dan pintu laut turun 3,65%. Secara kumulatif (Januari–Oktober 2020), jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 3,72 juta kunjungan atau turun sebesar 72,35 persen jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan periode yang sama tahun 2019.

Pemerintah saat ini tengah menimbang rencana untuk memangkas cuti bersama Natal dan Tahun Baru. Sebelumnya, pemerintah memutuskan cuti bersama hari raya Natal akan tersambung dengan cuti Idul Fitri yang dipindahkan dari Mei 2020. Cuti Natal adalah hari Kamis, 24 Desember 2020, sedangkan Natal jatuh pada Jumat, 25 Desember 2020. Sementara, cuti pengganti bersama hari raya Idul Fitri jatuh pada 28, 29, 30, dan 31 Desember 2020 dan 1 Januari 2021. Jika ditotal, maka jumlah cuti dan libur akhir pekan pada periode tersebut mencapai sebelas hari.

Namun, jumlah kasus Covid-19 yang terus meningkat membuat Presiden Joko Widodo pada pekan lalu memerintahkan jajarannya untuk mengkaji pemangkasan cuti bersama.  Perkembangan kasus Covid-19 hingga kemarin (30/11) dapat dilihat dalam databoks di bawah ini. 

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan, wisatawan domestik umumnya akan meningkat saat libur Lebaran, libur sekolah, serta libur Natal dan tahun baru.

"Jadi harapan kami bisa jadi pupus. Masuk Januari sudah low season lagi," kata Maulana saat dihubungi Katadata, Kamis (26/11).

Menurutnya, okupansi hotel selama sembilan bulan belakangan sudah rendah. Dia khawatir jika cuti bersama dipangkas, kondisi ini akan berlanjut hingga Januari bahkan April 2021. Oleh karena itu, ia khawatir pengusaha hotel yang dapat bertahan selama pandemi ini jumlahnya tidak besar. Maulana pun menyebutkan, lonjakan okupansi kerap terjadi saat libur panjang.

Editor: Agustiyanti
Video Pilihan

Artikel Terkait