Perusahaan Investasi Warren Buffet Raup Untung Rp 170 T, Ini Pemicunya

Image title
3 Mei 2021, 07:55
Berkshire,
123RF.com/Dima Photo
Warren Buffett, orang terkaya nomor tiga di dunia versi Bloomberg Billionaires Index 2019.

Perusahaan pengelola investasi, Berkshire Hathaway mencetak keuntungan pada kuartal pertama tahun ini mencapai US$ 11,7 miliar atau sekitar Rp 170 triliun menggunakan asumsi kurs Rp 14.500 per dolar AS. Tahun lalu, perusahaan yang dimiliki dan dikelola Warren Buffet ini merugi US$ 50 miliar pada tahun lalu.

Mengutip CNN, perusahaan yang memiliki saham di raksasa asuransi Geico hingga produsen es krim Dairy Queen menjelaskan, pendapatan pada tiga bulan pertama tahun ini banyak ditopang oleh sektor manufaktur, serta jasa dan binis ritel. Sektor-sektor ini mengalami pemulihan pendapatan secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir karena ekonomi dibuka kembali.

Meski banyak optimisme di pasar saham, manajer investasi ini justru terus berupaya mengumpulkan uang untuk membeli sahamnya sendiri ketimbang mengakusisi.

Bershire Harthaway menghabiskan US$ 6,6 miliar untuk membeli kembali saham kelas A pada kuartal pertama. Namun bahkan setelah pembelian saham tersebut, dana kelolaan manajer investasi tersebut terus tumbuh dan kini mencapai US$ 145,4 miliar dalam bentuk tunai di neracanya, naik dari US$ 138,3 miliar pada akhir tahun lalu.

Satu saham Berkshire kelas A, yang tidak di-stock splitt kini diperdagangkan di harga US$ 412.500. Sedangkan saham kelas B yang melakukan split agar lebih terjangkau bagi sebagian besar investor ditutup dengan harga di bawah US$ 275 pada akhir pekan lalu.

Buffet mengatakan kinerja Berkshire terangkat oleh ekonomi AS yang jauh lebih baik daripada yang ia prediksi di awal pandemi Covid-19. Menurut dia, ekonomi AS telah dibangkitkan dengan cara yang sangat efektif oleh stimulus moneter dari Federal Reserve dan stimulus fiskal dari Kongres AS.

Produk Domestik Bruto AS pada kuartal pertama tahun ini tumbuh 6,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Ini berhasil. Perekonomian AS saat ini sudah berjalan 85% dari kecepatan tertingginya," ujari Buffet dikutip dari Reuters.

Dua kelas saham Berkshire  memang rebound  seiring dengan kinerja pasar  saham yang lebih luas pada tahun ini. Mereka masing-masing naik hampir 20% sepanjang 2021.  Namun, beberapa pakar investasi bertanya-tanya apakah Buffett telah kehilangan sentuhan ajaibnya.

Meskipun berinvestasi pada saham teknologi top seperti Apple (AAPL) dan Amazon (AMZN) selama beberapa tahun terakhir, harga saham Berkshire belakangan ini telah tertinggal dari pasar saham secara keseluruhan.

Saham Berkshire Hathaway naik sekitar 90% dalam lima tahun terakhir sementara S&P 500 telah meningkat lebih dari dua kali lipat dan Nasdaq telah melonjak hampir 200%.

Namun, pria berusia 90 tahun itu tetap mempertahankan optimismenya terhadap masa depan perusahaan yang ia jalankan sejak 1965, termasuk jika nanti ia meninggalkan perusahaan.

Buffet mengakui bahwa pemulihan ekonomi yang cepat membuat keputusannya untuk keluar dari empat saham maskapai penerbangan AS, American, Delta, Southwest, dan United tak tepat.

"Kami telah melihat beberapa hal aneh terjadi di dunia pada tahun lalu. Itu telah memperkuat keinginan kami untuk memikirkan segala kemungkinan untuk memastikan bahwa Berkshire, 50 atau 100 tahun dari sekarang, setiap bagian organisasi dan kemudian beberapa seperti sekarang," katanya.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait