AS Sebut Varian Delta Jadi Ancaman Besar untuk Menghilangkan Covid-19

Varian delta saat ini mencakup 20% kasus di Amerika Serikat, naik dua kali lipat dari 10% hanya dalam dua pekan.
Image title
23 Juni 2021, 08:35
varian delta, kasus covid-19, amerika serikat, covid-19, kasus covid-19 di as
ANTARA FOTO/REUTERS/Nick Oxford/nz/dj
Ilustrasi. Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan delta saat ini menjadi varian dominan penyakit di seluruh dunia.

Amerika Serikat mulai mampu mengendalikan kasus Covid-19 setelah percepatan vaksinasi dilakukan di negara tersebut. Namun, Kepala penasihat medis Gedung Putih Anthony Fauci mengatakan bahwa varian delta yang sangat menular adalah "ancaman terbesar" bagi upaya AS untuk menghilangkan Covid-19.

Fauci mengatakan, varian delta yang pertama kali diidentifikasi di India, sekarang menjadi sekitar 20% dari semua kasus baru di Amerika Serikat, naik dari 10% pada dua pekan lalu.

Dia mengatakan delta tampaknya "mengikuti pola yang sama" seperti alpha, varian yang pertama kali ditemukan di Inggris, yang menyebabkan infeksi berlipat ganda di AS dalam dua minggu.

"Mirip dengan situasi di Inggris, varian delta saat ini menjadi ancaman terbesar di AS terhadap upaya kami untuk menghilangkan Covid-19," katanya.

Advertisement

Komentar Fauci muncul setelah Direktur CDC Dr. Rochelle Walensky pada akhir pekan lalu mendesak orang Amerika untuk divaksinasi terhadap Covid-19. Dia memperkiakan delta menjadi varian virus corona yang dominan di AS.

Studi menunjukkan varian itu sekitar 60% lebih menular daripada alfa, yang lebih menular daripada jenis asli yang muncul dari Wuhan, Tiongkok pada akhir 2019

"Sama mengkhawatirkannya dengan strain delta ini sehubungan dengan penularannya yang berlebihan, tetapi vaksin kami bekerja. Jika Anda divaksinasi, Anda akan terlindungi dari varian delta ini," kata Walensky

Inggris baru-baru ini melihat varian delta menjadi strain dominan di sana, melampaui alpha, yang pertama kali terdeteksi di negara itu musim gugur yang lalu. Varian delta sekarang membuat lebih dari 60% kasus baru di Inggris.

Pejabat kesehatan mengatakan ada laporan bahwa varian delta juga menyebabkan gejala yang lebih parah, tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi kesimpulan tersebut. Namun, ada tanda-tanda bahwa strain delta dapat memicu gejala yang berbeda dari varian lainnya.

Fauci mengatakan pada hari Selasa bahwa AS memiliki "alat" untuk mengalahkan varian tersebut. Ia pun mendesak lebih banyak orang Amerika untuk mendapatkan vaksinasi penuh terhadap Covid untuk mengatasi wabah ini.

Pemerintah AS mengatakan Selasa sebelumnya bahwa kemungkinan tak mampu mencapai tujuan Presiden Joe Biden untuk membuat 70% orang dewasa Amerika menerima satu suntikan vaksin atau lebih pada tanggal 4 Juli.

"Keefektifan vaksin, dua minggu setelah dosis kedua Pfizer-BioNTech adalah 88% efektif melawan delta dan 93% efektif melawan alfa saat menangani penyakit simtomatik,” kata Fauci, mengutip sebuah penelitian.

Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan delta menjadi varian dominan penyakit di seluruh dunia. Pada hari Senin, pejabat WHO memperingatkan varian tersebut adalah jenis virus corona tercepat dan terkuat, dan lebih mematikan bagi orang yang rentan, terutama di tempat-tempat dengan tingkat vaksinasi Covid-19 yang rendah.

Delta kini telah menyebar ke 92 negara. WHO telah mendesak negara-negara kaya, termasuk AS untuk menyumbangkan vaksin.

Pemerintahan Biden pada Senin pagi merinci ke mana ia akan mengirim 55 juta dosis vaksin, yang sebagian besar akan didistribusikan melalui COVAX, program imunisasi yang didukung WHO.

"Vaksin ini sangat efektif melawan penyakit parah dan kematian. Untuk itulah mereka dimaksudkan, dan untuk itulah mereka perlu digunakan," kata Maria Van Kerkhove, pimpinan teknis WHO untuk Covid-19.

Tak hanya di AS, varian delta juga banyak terdeteksi di Indonesia seperti terlihat dalam databoks di bawah ini.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait