Airlangga Optimistis 80% Target Vaksinasi Tercapai pada Akhir 2021

Pemerintah menargetkan vaksinasi Covid-19 hingga akhir tahun ini mencapai 337 juta dosis.
Image title
29 September 2021, 14:43
vaksinasi, airlangga, dosis vaksin
Muhammad Zaenuddin|Katadata
Ilustrasi. Sejak awal tahun hingga Agustus 2021, jumlah vaksin yang sudah diamankan pemerintah mencapai 158,53 juta dosis.

Pemerintah berambisi mencapai target vaksinasi 337 juta dosis hingga akhir tahun. Ini setara 80% dari target 416 juta dosis yang ingin dicapai pemerintah untuk mencapai herd immunity dengan memvaksinasi 70% dari total penduduk Indonesia.

"Program vaksinasi ini menjadi game changer dan yang sekarang sedang kita kejar. Pemerintah juga sudah membuat roadmapnya sampai akhir tahun," kata Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Diskusi Virtual Bertajuk Forum Indonesia Bangkit oleh CIMB Niaga, Rabu (29/9).

Pemerintah menargetkan 208 juta penduduk sudah memperoleh vaksinasi lengkap, yakni vaksin pertama dan kedua untuk mencapai herd immunity. Ini artinya butuh 416 juta dosis vaksin untuk mecapai target tersebut.

Arilangga menjelaskan, hingga 27 September 2021, total vaksinasi sudah mencapai 137,77 juta dosis. Realisasi ini terdiri atas 88,29 juta dosis pertama dan 49,48 juta dosis kedua.

Pemerintah membagi kategori penerima vaksin ke dalam lima kategori. Pertama, vaksinasi pada tenaga kesehatan yang sudah terealisasi  lebih dari 2,7 juta dosis, terdiri atas 1,9 juta untuk vaksin dosis pertama dan 1,8 juta dosis kedua.

Kedua, vaksinasi petugas publik yang mencapai lebih dari 45,3 juta dosis, terdiri atas 27,7 juta vaksin dosis pertama dan 17,6 juta dosis kedua. Ketiga, vaksinasi kepada lansia sudah diberikan lebih dari 10 juta dosis, terdiri atas 6,3 juta dosis untuk vaksinasi pertama dan 4,3 juta dosis kedua.

Keempat, vaksinasi kelompok masyarakat umum dan rentan  yang sudah terealisasi sebanyak 69,9 juta dosis, terdiri 47,5 juta dosis pertama dan 22,4 juta dosis kedua. Kelima, vaksinasi untuk remaja sebanyak 6 juta dosis, terdiri atas 3,6 juta dosis pertama dan 2,4 juta dosisi kedua.

Untuk memenuhi target 337 dosis hingga akhir tahun, Airlangga mengatakan pemerintah akan mengamankan 393,9 juta dosis vaksin hingga Desember. Sejak awal tahun hingga Agustus 2021, jumlah vaksin yang sudah diamankan pemerintah mencapai 158,53 juta dosis.

Berdasarkan roadmap yang dibuat pemerintah, target pengadaan vaksin bulan ini sebanyak 80,3 juta dosis, Oktober sebanyak 54,7 juta dosis, November 49,9 juta dosis dan Desember 50,5 juta dosis.

Pemerintah akan menggenjot target vaksinasi pada September dan Oktober mencapai2,5 juta dosis vaksin per hari, lalu berkurang sedikit pada November menjadi 2,1 juta dosis per hari dan 1,5 juta dosis per hari pada Desember.

Salah satu jalan untuk meningkatkan jumlah vaksinasi dalam negeri yakni dengan memulai vaksinasi untuk anak di bawah 12 tahun. Pakar epidemiologi dari Universitas Griffith Australia Dicky Budima menyarankan hal ini agar pemerintah bisa mencapai ambang batas herd immunity.

“Kalau bicara ambang batas herd immunity ya tidak bisa kalau tidak menghitung anak-anak, tidak akan tercapai ambang batasnya,” ujar Dicky kepada Katadata.co.id, Kamis (9/9)

Dicky mengatakan, jumlah anak-anak yang berusia di bawah 17 itu mencapai 32% dari seluruh populasi manusia. Jumlah anak berusia di bawah 12 tahun merupakan mayoritas dari kelompok anak di bawah 17 tahun sehingga mereka harus diprioritaskan mendapatkan vaksin.

Namun, Dicky menilai Indonesia harus melakukan riset dan data tentang keamanan dan efektivitas vaksin bagi anak. Pemerintah pun dapat menggunakan data penelitian dari negara lain atas suatu vaksin terhadap anak-anak.

Salah satu pengembang vaksin terbesar Pfizer belum lama ini mengklaim vaksin buatannya aman untuk anak usia 5-11 tahun. Pfizer mengatakan, uji klinis telah dilakukan dengan melibatkan 2.268 peserta. Dalam uji itu, takaran yang diberikan adalah sepertiga takaran dosis remaja dan dewasa. Peserta diberi dua dosis vaksin dengan interval 21 hari.

Hasilnya, dua suntikan dosis 10 mikrogram menghasilkan tingkat antibodi yang setara dengan uji coba pada kelompok usia 16-25 tahun. Adapun efek samping yang dirasakan oleh peserta adalah sakit pada lengan, demam, serta pegal-pegal.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait