Senat Tangguhkan Batas Utang Sementara, AS Terhindar Gagal Bayar

Pemerintah AS terhindar dari gagal bayar pada bulan ini berkat penangguhan batas utang sementara yang disepakati senat.
Image title
8 Oktober 2021, 12:03
utang AS, utang amerika serikat, gagal bayar
ANTARA FOTO/RUETERS/Brendan McDermid/wsj/cf
Ilustrasi. Amerika Serikat akan mengalami gagal bayar jika Senat AS tak menyepakat penangguhan batas utang.

Senat Amerika Serikat (AS)  menyetujui penangguhan batas utang pemerintah dalam jangka pendek hingga 3 Desember 2021. Kesepakatan ini setidaknya berhasil menghindarkan pemerintah dari risiko default dalam waktu dekat. 

Kesepakatan ini diperoleh dalam pemungutan suara di Senat AS pada Kamis (7/10). Hasilnya dari 98 suara, terdapat 61 suara menyatakan setuju RUU penangguhan batas utang jangka pendek, sementara sisanya menolak. Meski demikian, partai Demokrat masih akan bertarung menaikkan batas utang untuk periode jangka panjang.

Anggota Senat yang ikut dalam voting kenaikan batas utang terdiri atas 50 anggota Partai Demokrat dan 48 anggota Partai Republik. RUU tersebut baru dapat lolos jika melewati ambang batas yang disebut 'filibuster', yakni dua pertiga dari total voters atau minimal 60 orang. Adapun terdapat 11 anggota Senat Partai Republik yang diketahui mendukung pemungutan suara kemarin. 

Kesepakatan ini memungkinkan pemerintah dapat menarik utang baru sebesar US$ 480 miliar. Batas utang saat ini dinaikkan dari US$ 28,4 triliun menjadi sekitar US$ 28,9 triliun.

Kendati demikian, hasil keputusan Senat AS ini masih akan dibawa dalam voting di DPR AS. Ini kemungkinan besar akan lolos mengingat pada voting RUU penangguhan batas utang yang pertama, DPR yang mayoritas dikuasia Partai Demokrat dengan mulus meloloskan usulan tersebut.  Selanjutnya RUU akan ditandatangani dan disahkan oleh Biden sebagai UU.

Tenggat waktu tersebut akan menjadi PR berat Partai Demokrat, mengingat dua pekan lalu mereka diuji oleh dua deadline yang berdekatan yakni kenaikan pagu utang dan pendanaan untuk pemerintah. Dua pekerjaan itu kemudian akan kembali menemui deadlinenya pada waktu yang bersamaan dan dalam kurun waktu kurang dari dua bulan lagi.

Partai Republik semula menolak keras usulan RUU penangguhan batas utang yang diusulkan Partai Demokrat pada pertengahan bulan lalu. RUU tersebut berisi usulan kenaikan pagu utang serta rencana pendanaan bagi pemerintah. Kendati demikian, penolakan Partai Republik terhadap rencana kenaikan pagu utang menyebabkan RUU ini gagal direstui Senat, itu artinya usulan pendanaan juga ditolak.

Jika RUU pendaan tidak diteken memasuki 1 Oktober, maka operasional pemerintah akan tutup sementara. Oleh karena itu, Partai Demokrat dalam waktu singkat memutar otak dengan terpaksa membuat RUU terpisah yang hanya berisi usulan pendanaan. Sementara itu, pembicaraan RUU penangguhan batas utang masih menjadi perdebatan dalam beberapa pekan terakhir.

Di tengah kebuntuan pembahasan kenaikan pagu utang, Pemimpin Partai Republik di Senat Mitch McConnell pada Rabu (6/10) lalu mengusulkan untuk kenaikan pagu utang untuk sementara waktu. Tawaran ini datang setelah Presiden Biden mulai menekan partai oposisi itu untuk merestui kenaikan pagu utang. Biden pekan ini diketahui memanggil sejumlah petinggi perbankan AS untuk membicarakan risiko default yang menurutnya disebabkan oleh Partai Republik.

"Partai Republik memainkan permainan partisan yang berbahaya dan berisiko, namun saya senang bahwa aksi nekat mereka tidak berhasil," kata Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer setelah pemungutan suara seperti dikutip dari Reuters, Kamis (8/10).

Menteri Keuangan AS Janet Yallen awal pekan lalu menyurati DPR AS terkait adanaya ancaman default alias gagal bayar jika batas utang tidak dinaikkan sampai 18 Oktober mendatang. Ia mengatakan pemerintah akan kehabisan uang untuk memenuhi kewajibannya sampai tenggat waktu tersebut.

Yellen dalam sebuah wawancara awal pekan ini kembali memperingatkan Kongres memiliki waktu kurang dari dua pekan lagi menuju default. Ini akan menjadi default pertama dalam sejarah AS dan dapat memicu resesi yang kedua kalinya sejak tahun lalu.

“Itu akan menjadi bencana besar jika tidak membayar tagihan pemerintah, kami berada dalam posisi di mana kami kekurangan sumber daya untuk membayar tagihan pemerintah," kata Yellen seperti dikutip dari CNBC, Selasa (6/10).

Ia mengatakan default juga akan merusak reputasi US Treasury sebagai aset obligasi teraman yang ada di dunia. Lebih jauh, ini juga akan berefek terhadap menurunnya minat terhadap obligasi pemerintah AS dan kemudian menggoyahkan dolar sebagai mata uang utama dunia saat ini.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait