Produksi Industri AS Anjlok Akibat Badai Ida dan Kelangkaan Cip

Produksi industri di AS pada September turun 1,3% dibandingkan bulan sebelumnya disebabkan efek badai Ida dan krisis cip semikonduktor
Image title
19 Oktober 2021, 12:37
manufaktur, pabrik, ida
Pexels.com
Hasil produksi manufaktur juga menurun seiring masih belum teratasinya masalah kelangkaan cip semikonduktor serta efek badai Ida.

Produksi sektor industri di Amerika Serikat (AS) menurun pada bulan lalu, terdalam selama tujuh bulan terakhir. Hasil produksi manufaktur juga menurun seiring masih belum teratasinya masalah kelangkaan cip semikonduktor serta efek badai Ida.

The Federal Reserve (The Fed) melaporkan, produksi industri pada September turun 1,3% secara month-to-month (mtm). Hampir separuh atau 0,6% dari penurunan tersebut disebabkan oleh efek badai Ida yang masih terasa bulan lalu.

Penurunan produksi industri bulan lalu juga lebih buruk dari kontraksi 0,1% pada Agustus. Produksi industri meliputi manufaktur, utilitas dan pertambangan. Output utilistas turun 3,6% akibat permintaan yang mulai turun, sedangkan produksi pertambangan jatuh 2,3% akibat badai Ida.

Sektor manufaktur yang menyumbang 12% terhadap ekonomi AS  juga melaporkan penurunan produksi hingga 0,7%, lebih dalam dari penurunan 0,4% pada bulan sebelumnya. Ini sekaligus mencatatkan penurunan terdalam sejak Februari tahun ini. Di luar perhitungan terhadap sektor otomotif, produksi manufaktur turun 0,3%.

Produksi manufaktur otomotif turun 7,2% melanjutkan penurunan 3,2% pada Agustus. Kelangkaan cip memaksa pembuat mobil untuk memangkas produksi. Ada juga kekurangan pekerja di pelabuhan, yang menyebabkan kemacetan dan menghambat pengiriman bahan baku.

Perakitan kendaraan bermotor turun ke tingkat tahunan 7,78 juta unit, terendah sejak April 2020,dari kecepatan 8,82 juta unit pada Agustus.

"Masalah pasokan yang membatasi produksi kemungkinan akan terus membatasi konsumsi mobil, dengan berbagai sentimen terbaru menunjukkan kekurangan bisa bertahan hingga 2022," kata ekonom Citigroup Veronica Clark seperti dikutip dari Reuters, Senin (18/10).

Dengan turunnya produksi mobil, produksi barang konsumsi turun 1,9% pada bulan lalu. Namun demikian, terdapat peningkatan produksi logam primer dan peralatan listrik, peralatan dan komponen serta furnitur dan produk terkait. Sementara output barang tidak tahan lama turun 1,0%, dengan penurunan besar dalam bahan kimia, minyak bumi dan produk batu bara.

Ekonom memperkirakan hasil produksi manufaktur masih akan lesu beberapa bulan ke depan sebagai imbas masih terganggunya rantai pasok dan tenaga kerja. "Sementara gangguan badai dan efek cuaca akan memudar, kekurangan tenaga kerja dan produk masih memburuk, yang akan terus membebani output manufaktur selama beberapa bulan dan kuartal mendatang," kata ekonom senior Capital Economics Michael Pearce.

Masalah ini telah memicu inflasi yang makin panas akibat permintaan meningkat, sementara produksi menurun karena rantai pasok belum juga terselesaikan. Pemerintah AS melaporkan inflasi bulan lalu sebesar 5,3% secara year-on-year (yoy). Ini merupakan rekor tertinggi sejak lebih dari dua dekade terakhir.

Inflasi yang lebih tinggi akibat keterbatasan produksi, mendorong belanja konsumen ikut lesu. Kondisi ini mendorong ekonom mengantisipasi bahwa pertumbuhan ekonomi negeri paman sam akan melambat tajam pada kuartal ketiga. The Fed Atlanta memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III hanya 1,2%, jatuh dari pertumbuhan 6,7% pada kuartal sebelumnya.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait