Peta Koalisi Partai Politik Menuju Pemilu 2024 di Mata LSI Denny JA

Peta koalisi dari berbagai komunikasi yang dilakukan partai politik menunjukkan dua partai utama sebagai sentral, yaitu PDIP dan Golkar.
Agustiyanti
7 Juli 2022, 08:26
koalisi, partai politik, pemilu 2024
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.
Ilustrasi. PDIP menjadi sentral poros koalisi sebab memiliki tiket suara di parlemen sebesar 22,26% untuk mencalonkan presiden dan wakil presiden.

Manuver untuk menjajaki koalisi tengah dilakukan oleh partai-partai politik mendekati pemilihan umum (Pemilu) 2024. Dari banyak komunikasi yang dilakukan oleh partai-partai politik, peta koalisi menunjukkan dua partai utama sebagai sentral, yaitu PDIP dan Golkar.

PDIP menjadi sentral poros sebab memiliki tiket suara di parlemen sebesar 22,26% untuk mencalonkan presiden dan wakil presiden. Direktur Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA Ade Mulyana menilai bahwa PDIP akan menjadikan Puan Maharani sebagai tokoh sentral lantaran merupakan satu-satunya partai yang memenuhi presidential threshold 20%. 

“Meskipun memang ada sedikit bermasalah dengan tingkat elektabilitas, tetapi masih bisa digenjot sampai akhir tahun 2022,” ujar Ade pada Rabu (6/7).

Selain PDIP, Golkar telah menjadi sentral poros di antara dua partai lain yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). Ini karena jumlah kader Golkar di parlemen lebih banyak di antara PAN dan PPP yang juga menginisiasi pembentukan KIB.

Advertisement

Ade  pun menilai bahwa Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto menjadi tokoh sentral dalam poros ini karena Golkar memiliki tiket 14,78% suara.

“Bisa dibilang Pak Airlangga punya saham paling gede di KIB,” katanya.

Adapun ia menganggap lima partai lainnya, seperti Gerindra, PKB, PKS, Nasdem, dan Demokrat masih terlalu rumit untuk dapat memunculkan poros ketiga. Ada beberapa faktor yang menyebabkan poros ketiga tak kunjung muncul.

Pertama, sulit menentukan sosok leader atau pemimpin di antara Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum Nasdem Surya Paloh, dan Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Prabowo diketahui merupakan capres yang akan diusung Gerindra.

Surya Paloh juga dikabarkan telah memiliki nama-nama bakal capres hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Nasdem. Sementara AHY memiliki sosok SBY sebagai figur kuat di belakangnya.

“Jadi agak sulit di antara tiga tokoh ini yang mau dipimpin oleh salah satunya,” ujar Ade.

Kedua, belum tuntasnya sosok capres dan cawapres di antara sisa partai yang belum membentuk poros karena semuanya memiliki ambisi masing-masing. Gerindra akan mendeklarasikan pengusungan Prabowo pada akhir bulan ini. Sedangkan Nasdem sudah memiliki tiga nama capres hasil Rakernas, yaitu Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, dan Andika Perkasa.

“Kemudian Demokrat pasti harga mati akan mengusung AHY, minimal cawapres. PKB juga pasti akan mengusung Cak Imin, minimal cawapres,” kata Ade.

Berdasarkan historis, menurut Ade, masih ada peluang Gerindra dan PKB untuk bergabung ke poros PDIP. Sedangkan Demokrat dan PKS memiliki peluang untuk bergabung dengan KIB.

Menurut Ade, sulit bagi Demokrat dan PKS untuk bergabung dengan PDIP. “Kemungkinan partai-partai luar poros PDIP dan KIB ini bisa bergabung ke antara poros satu dan dua,” ujarnya.

Dari seluruh partai yang belum memiliki poros koalisi, menurut dia, hanya Gerindra yang berada di atas angin, sebab telah menggengga, 13,57% suara di parlemen. Oleh sebab itu, partai berlambang Burung Garuda itu hanya membutuhkan satu partai lain untuk dapat mengusung pasangan capres-cawapres.

“Kecuali Nasdem dan PKB bersatu, ini butuh dua sampai tiga partai lain untuk koalisi,” jelasnya.

Reporter: Ashri Fadilla
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait