Kemenkeu: India Berpeluang Geser Cina Jadi Mitra Dagang Utama RI

Kemenkeu melihat pertumbuhan ekspor ke India meningkat pesat pada tahun ini, melampaui pertumbuhan ekspor ke Cina.
Abdul Azis Said
6 Desember 2022, 14:52
ekspor, impor, india, cina, kemenkeu
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Ilustrasi. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor Indonesia berjumlah US$24,8 miliar pada September 2022.

Kementerian Keuangan menyebut diversifikasi dagang dengan negara lain membantu Indonesia meminimalisasi dampak perlambatan ekonomi Cina terhadap ekspor Indonesia. Salah satu negara yang disebut berpotensi segera menggeser posisi Cina sebagai negara tujuan ekspor utama Indonesia adalah India.

"Kalau dilihat komposisi sekarang, aada fenomen shifting, Cina masih tetap tumbuh tinggi meski lambat dari tahun lalu, sementara pertumbuhan ekspor ke India 83% selama 10 bulan pertama tahun ini," kata Plt. Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro (PKEM) Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Abdurohman ditemui di acara The 11th AIFED 2022, Nusa Dua, Bali, Selasa (6/12).

Mengutip data BPS, nilai ekspor Indonesia ke Cina sepanjang 10 bulan tahun ini mencapai US$ 53,3 miliar, naik 25,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan tahun lalu sebesar 71,9%.

Kinerja India menunjukkan tren sebaliknya. Pertumbuhan ekspor ke India lebih besar dibandingkan ke Cina sekalipun angkanya nominal masih jauh di bawahnya. Sepanjang 10 bulan tahun ini, total nilai ekspor ke India sebesar US$ 20,1 miliar, naik 83,2% dibandingkan tahun lalu. Pertumbuhan ini lebih besar dibandingkan 2021 yang mencapai  35,7%.

"Apalagi pertumbuhan ekonomi ke India juga kan tahun depan termasuk yang paling tinggi, sementara untuk komoditasnya CPO dan bahan bakar." kata Abdurohman.

Ia mencatat, ekspor bukan hanya meningkat untuk tujuan India, tetapi juga negara Asia lainnya, seperti Jepang, Korea Selatan, serta Singapura. Menurut dia, peningkatan ekspor keempat negara tersebut dapat mengkompensasi penurunan ekspor ke Cina.

Sementara itu, Ekonom LPEM FEB Universitas Indonesia Teuku Riefky melihat peningkatan ekspor ke India hanya bersifat sementara. Meski demikian, ia melihat ada potensi India benar-benar menggeser posisi Cina sebagai mitra dagang utama Indonesia jika restriksi mobilitas yang kemudian mengganggu perekonomian Cina berkepanjangan.

"Apakah pola ini akan berkelanjutan apa nggak tergantung pada seberapa cepat Cina pulih, dan seberapa erat kemudian perjanjian perdagangan yang melibatkan Indonesia dan India. Pelru dilihat bagaimana pola perdagangan Indonesia dan India ini menjadi pola yang tidak hanya temporer," kata dia ditemui di lokasi yang sama dengan Abdurohman.

Riefky melihat komoditas primer seperti CPO dan karet masih menjadi produk yang banyak dikirim ke India. Meski demikian, ia juga melihat peluang peningkatan ekspor nikel dan turunnya ke India di masa mendatang seiring negeri bollywood itu semakin berminat mengembangkan baterai kendaraan listrik.

Di samping India, negara lain yang menurutnya juga potensial nilai perdagangannya ditingkatkan yakni ASEAN. Ia beralasan, biaya logistik ekspor ke negara-negara ASEAN relatif lebih murah serta Indonesia sudah punya banyak perjanjian perdagangan dengan negara-negara ASEAN lainnya.

"Indonesia coba explore pasar lain bukan karena secara intensional mencari pasar baru, tetapi lebih ke arah keeratan dengan Cina baik ekspor dan impor sangat tinggi porsinya, kalau Cina terdisurpsi maka banyak produk Indonesia yang perlu cari alternatif negara lain," kata Riefky.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait