Diboikot Unilever hingga Coca-cola, Harta Bos Facebook Anjlok Rp 102 T

Sejumlah perusahaan besar AS menghentikan iklan di Facebook lantaran menilai platform tersebut tak mampu membuat kebijakan untuk mencegah ujaran kebencian.
Image title
Oleh Agustiyanti
27 Juni 2020, 19:39
facebook, boikot, iklan, facebook diboikot
Katadata
Ilustrasi. Facebook menghadapi boikot dari sejumlah perusahaan besar AS.

Kekayaan Mark Zuckerberg turun US$ 7,2 miliar atau sekitar Rp 102 Triliun lantaran Unilever dan sejumlah perusahaan memboikot iklan dari jejaring Facebook Inc, termasuk Instagram dan Twitter. 

Saham perusahaan media sosial ini turun 8,3% pada hari Jumat, terbesar dalam tiga bulan, setelah Unilever, salah satu pengiklan terbesar di dunia, bergabung dengan merek lain dalam memboikot iklan di jejaring sosial. Unilever mengatakan akan berhenti menghabiskan uang di jaringan Facebook pada tahun ini.

Penurunan harga saham menghilangkan US$ 56 miliar dari nilai pasar Facebook dan mendorong kekayaan bersih Zuckerberg turun menjadi US$ 82,3 miliar, menurut Bloomberg Billionaires Index. Itu juga membuat posisi CEO Facebook ini turun ke peringkat keempat orang terkaya. Posisinya semula di urutan ke tiga diambil alih bos Louis Vuitton Bernard Arnault, setelah Jeff Bezos dan Bill Gates.

Perusahaan-perusahaan dari Verizon Communications Inc hingga Hershey Co. juga telah menghentikan iklan di media sosial setelah para kritikus mengatakan bahwa Facebook telah gagal menerapkan kebijakan terkait ujaran kebencian dan hoaks di platform mereka. Coca-Cola Co. mengatakan akan menghentikan semua iklan berbayar di semua platform media sosial selama setidaknya 30 hari.

(Baca: Google, Facebook, Twitter Kembali Lawan Trump soal Pekerja Asing)

Boikot perusahaan-perusahaan besar AS itu dilakukan menyusul kampanye #StopHateForProfit yang muncul setelah Facebook memutuskan untuk tidak mengambil tindakan terhadap unggaran Presiden Donald Trump. Facebook memutuskan untuk tidak mengambil tindakan terhadap serangkaian posting Trump yang kontroversial, termasuk salah satu unggahan saat protes keadilan rasial saat mengatakan "penjarahan" akan mengarah pada "penembakan".

Akibatnya, perusahaan dan CEO Facebook menghadapi tekanan karyawan, politisi dan bahkan para ilmuwan didukung oleh organisasi filantropi Zuckerberg.

Dalam sepekan terakhir, Facebook mengadakan panggilan konferensi untuk memberi tahu para pemasar bahwa mereka tengah berupaya mengatasi defisit kepercayaan ini. Zuckerberg sendiri berbicara kepada publik dengan janji baru untuk melarang iklan yang penuh kebencian dan melabeli posting kontroversial dari politisi.

(Baca: Protes Konten Kebencian, BMW hingga Pepsi Tarik Iklan dari Facebook)

"Tidak ada pengecualian untuk politisi dalam kebijakan apa pun yang saya umumkan di sini hari ini," kata Zuckerberg.

Namun terlepas dari tekanan yang memuncak, Zuckerberg, satu-satunya orang yang memiliki kekuasaan paling besar untuk memutuskan apa yang akan dilakukan perusahaan selanjutnya, tidak menanggapi boikot tersebut, semakin memperkuat para pengkritiknya untuk terus melancarkan kampanye boikot. 

"Pidato Zuckerberg adalah 11 menit peluang terbuang untuk berkomitmen untuk berubah," tweet Rashad Robinson, presiden kelompok hak-hak sipil Color of Change, salah satu penyelenggara boikot dikutip dari CNN.

 

 

Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait