Riset KIC-Kredivo: Rata-rata Orang RI Belanja Online 20 Kali pada 2019

Riset Katadata Insight Center dan Kredivo menunjukkan peningkatan transaksi belanja di e-commerce didukung oleh generasi Z dan milenial.
Image title
Oleh Fahmi Ahmad Burhan
4 Agustus 2020, 21:37
belanja online, e-commerce
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Ilustrasi. Rata-rata transaksi e-commerce per bulan dari kuartal pertama menuju kuartal terakhir di 2019 meningkat, dengan puncak peningkatan terjadi pada Desember.

Riset Katadata Insight Center dan Kredivo menunjukkan terjadi peningkatan transaksi di platform e-commerce selama 2019. Jumlah rata-rata transaksi e-commerce per bulan dari kuartal pertama menuju kuartal terakhir di 2019 meningkat, dengan puncak peningkatan terjadi pada Desember.

Pada bulan tersebut, jumlah transaksi 22% lebih besar daripada rata-rata jumlah transaksi bulanan. Kenaikan juga terjadi pada nilai transaksi di hampir semua produk yang dijual di e-commerce. Seperti untuk kategori komputer dan aksesorisnya, nilai transaksi meningkat 15% dibanding 2018. Bahkan untuk kategori pemesanan hotel dan perjalanan bisa meningkat sampai 98%. Hanya kategori elektronik yang turun 3%.

Direktur Riset Katadata Insight Center Mulya Amri mengatakan, semua kelompok umur tetap terbuka untuk bertransaksi online. Rata-rata belanja tiap orang per tahunnya menunjukan angka 17-20 kali berapapun usianya. 

Namun, peningkatan aktivitas transaksi di e-commerce terutama didukung oleh konsumen generasi Z dan millenial dengan kontribusi 85% dari total transaksi.  "Data ini menunjukkan meskipun didominasi milenial, kepercayaan konsumen pada e-commerce sebagai cara berbelanja terjadi pada lintas generasi," kata Mulya dalam video conference pada Selasa (4/8).

Ia juga menilai peningkatan transaksi e-commerce menunjukan bahwa konsumen semakin percaya dan merasa nyaman dalam berbelanja online. Berdasarkan riset, konsumen juga semakin yakin untuk bertransaksi dalam nominal  besar.  

Adapun dalam meningkatkan kepercayaan, e-commerce menerapkan sistem verifikasi penjual untuk menghindari adanya  penipuan saat bertransaksi. Alhasil, konsumen menjadi merasa aman saat membeli barang melalui platform. 

Selain itu, e-commerce juga menerapkan sistem escrow, di mana penjual tidak akan menerima pembayaran sebelum pembeli mengkonfirmasi barang yang sudah diterimanya.

Riset dibuat menggunakan data primer transaksi e-commerce yang mencakup lebih dari 10 juta sampel transaksi. Data tersebut berasal dari hampir 1 juta pengguna Kredivo di enam e-commerce yakni Blibli, Bukalapak, JD.ID, Lazada, Shopee, dan Tokopedia. Riset dilakukan sejak Januari sampai Desember 2019. Sampel pengguna tersebar di 34 provinsi Indonesia.

 General Manager Kredivo Indonesia Lily Suriani mengatakan, tren positif kepercayaan masyarakat berlanjut juga ke semester pertama tahun ini. Data internal Kredivo mencatat, peningkatan frekuensi pembelian e-commerce terus berlanjut, khususnya pada barang-barang kebutuhan pokok. 

"Orang mulai nyaman, volume dan rata-rata nilai transaksi meningkat. Kalau dahulu, di e-commerce belum mau beli motor atau produk nilai besar lainnya, tapi sekarang sudah mulai biasa," katanya dalam video conference pada Selasa (4/8).

Sementara itu, data BPS pada tahun lalu menunjukkan pelaku e-commerce paling banyak berada di wilayah Yogyakarta, disusul Sulawesi Utara dan Jawa Barat.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait