Pertamina Targetkan Teken Kontrak EPC Kilang Balongan Bulan Depan

Proyek Kilang Balongan diharapkan rampung sesuai target pada 2022.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
7 November 2019, 06:00
kilang
ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
Ilustrasi. Proyek Kilang Balongan diharapkan rampung sesuai target pada 2022.

PT Pertamina (Persero) menargetkan penandatanganan kontrak engineering, procurement, & construction (EPC) proyek pengembangan kilang atau refinery development master plan (RDMP) Balongan dapat terealisasi pada bulan depan.

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Ignatius Tallulembang mengatakan, dengan percepatan penadatanganan kontrak tersebut, pengembangan Kilang Balongan diharapkan rampung sesuai target pada 2022. 

"Targetnya Desember 2019 ada kontrak award untuk EPC" ujar Tallulembang di Kantor Pusat Pertamina, Rabu (6/11).

(Baca: Pertamina dan Aramco Belum Sepakat, Proyek Kilang Cilacap Mandek)

Saat ini menurut dia, lelang tahap satu sudah dilakukan dan  desain awal proyek saat ini sudah rampung. Dengan demikian, menurut dia, kontraktor proyek tersebut nantinya dapat langsung melaksanakan proyek pembangunan usai penandatanganan kontrak.

"Kalau pakai cara lama,  front-end engineering design (FEED)  tuh butuh enam bulan sampai setahun. Jadi kan nunggu dua tahun kan. Nah, ini beda. Hasil FEED siapa yang terbaik langsung bangun EPC," ujar Tallulembang.

Sebelumnya, Pertamina menargetkan proyek RDMP Balongan selesai pada 2023. Adapun kebuhan investasi untuk pembangunan kilang ini diperkirakan mencapai US$ 100 juta.

Melalui proyek tersebut, kapasitas kilang ditargetkan meningkat dari 125 ribu barel per hari menjadi 240 ribu barel per hari.

(Baca: Pertamina Optimistis Valuasi Proyek Kilang Cilacap Rampung Desember)

Pertamina optimistis bisa membangun enam megaproyek kilang demi memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) dan petrokimia dalam negeri hingga 2026. Keenam megaproyek tersebut akan meningkatkan kapasitas produksi bahan bakar Pertamina dari saat ini sebesar 650 barel per hari menjadi 1,7 juta barel per hari.

 

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait